Belajar Dari Hari Natal


Dua Kutub 

Seperti biasanya di akhir Desember tentu perbincangan penyikapan tentang pandangan muslim terhadap perayaan Hari Natal umat kristiani hingga dipungkasi gemerlap tahun baru masehi menjadi sebuah trending topic dieleka perbincangan. Tidak dipungkiri memang bahwa fenomena tersebut membawa kalangan umat muslim menjadi sebuah blok-blok dalam membangun dialeka.

Sebagaian ‘Ulama berparadigma Islam “Ketat” secamacam Ibnu Taimiyyah jelas-jelas mengharamkan untuk ikut serta mengucapkan ucapan selamat hari raya pada non muslim termasuk hari Natal itu sendiri. Argumennya dilandasi dalil bahwa barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka niscaya ia akan tergolong dicap sebagai pengikut kaum tersebut. Disisi lain para ‘Ulama berparadigma “luwes” cenderung menganggap bahwa mengucapkan hari natal diperbolehkan asal tiada pembenaran dalam hati atas keyakinan kebenaran natal itu sendiri.

Dua kutub berseberangan inilah yang kerap kali memicu konfik perbincangan dalam rana masyarakat akan fanatisme pandangan yang diyakini. Bahkan jagat maya seolah-olah menjadi “lapak” wajib bagi mereka dalam “menjual paradigma yang diyakininya”. Alhasil pergolakan dua muara paradigma tersebut kerap mewarnai segala perbincangan jagat maya.

Apalagi trend mengikuti arus perbincangan sebuah viral  jagat virtual seolah-olah sudah menjadi “rukun bermain sosmed”. Nah, ketika topic natal mencuat kepermukaan maka warganet akan berbondong-bondong merias diri dengan mengeksiskan diri dengan berbagai “Quote” tentang Hari Natal, Gambar ucapan Hari Natal, hingga rangkaian kata tentang sudut pandang memandang Natal dengan merujuk pada fatwa para ‘Ulama.

Disisi lain kalangan penggiat paradigma “Islam Ketat” pun juga tak kalah agresif di jagat virtual. Jagat virtual pun mereka hiasi dengan pandangan larangan muslim untuk menampilkan diri menyerupai tradisi umat lain. Bahkan beberapa opnum kalangan paradigma ini kerap kali menjadikan isu perayaan Hari Natal sebagai media memecah umat Indonesia secara umum, Diantaranya seperti kicauan yang tak bertanggungjawab (Tak Didasari Sumber Rill) atas penisbatan simpatisan muslim yang membantu pengamanan Ibadah Natal di Gereja sebagai umat yang seakan-akan kontra dengan pandangan Islam. Mereka menganggap simpatisan tersebut tak mempunyai semangat bela panji Islam. Tentu saja dengan opini pasaran; tukang Penjaga Gereja-lah, pengemis jasa-lah, atau anggapan “Gereja Di Jaga, tapi Masjid di Acuhkan, Pengajian di bubarkan, atau Kriminalisasi ‘Ulama dibiarkan meraja lela”.

Bukannya pro pada kutup kalangan “luwes” yang membolehkan mengucapkan selamat Hari Natal hingga mengecam kalangan yang kontra dengan dalih tak punya rasa toleransi. Saya rasa memang perdebatan merupakan sebuah kefitrahan, termasuk dalam penyikapan seputar perayaan natal kaum kristiani, atau bahkan perayaan tahun baru mendatang yang kerap kali dianggap beberapa pihak melenceng dari tradisi islam yang melarang untuk Tadzbir dan hedonisme.

Adapun yang terpenting adalah semangat bermoderat dalam menjunjung paradigma yang diyakini. Bagi kalangan yang pro akan hal sebagaimana diatas hendaknya tetap menjunjung batasan-batasan syari’at agama Islam, jangan sampai ucapan selamat hari natal yang diviralkan sebenarnya hanyalah berbentuk fisikal saja tanpa esensi falsafah dari tindakannya, dalam artian sebagai trend mengikuti viralisasi jagat maya agar tidak terdogma sebagai orang “Kudet” viral. Lebih parah lagi tindakannya akan justru menenggelamkan pada budaya mengikuti arus trend sebuah viral tanpa esensi tujuan, yang pada akhirnya hal ini jelas-jelas bertentangan dengan ajaran syari’at Islam yang memang menuntut akan kemanfaatan sebuah hal.

Disisi lain bagi kalangan yang “Kontra” hendaknya paradigma yang bertolak belakang tersebut malah menimbulkan fanatisme buta, sehingga kerap gagal faham akan sebuah persitiwa. Apalagi ketidak setujuan tersebut malah menimbulkan luapan kebencian pada golongan diluar falsafah yang menjadi keteguhan hatinya. Apalagi kebencian tersebut diluapkan dengan berbagai gerakan propaganda di berbagai media virtual. Kekhawatiran pribadi disini bukanlah tanpa dasar atau seakan hanya luapan bahwa paradigma pribadi bergenre islam “Luwes”. Tetapi perlu dicatat bahwa fenomena “provokasi di jagat virtual” juga seakan telah menjadi rukun bersosmed nomor dua setelah “Trend mengikuti arus perbincangan (Viral)”.

Relawan Penjaga Gereja

Berkenaan dengan relawan muslim yang menyempatkan diri membantu umat kristiani beribadah Natal dengan bentuk penjagaan gereja tak usahlah diperdebatkan, apalagi dijadikan kambing hitam tentang penyelewengan ajaran Islam atas keberpihakan dengan umat Kristiani. Bukankah manusia memang diciptakan oleh Sang Hyang Ilahiyyah dengan beraneka ragam, mulai dari bentuk fisik hingga karakter kepribadian yang tentu mempengarui paradigma tiap orang. Jika Sang Ilahiyyah berkehendak “Kun Fayakun” sebaliknya dengan menciptakan “Ummah Wahidah” niscaya keadaan sosial tak akan heterogen seperti sekarang.

Namun nyatanya hal tersebut tak dikehendaki oleh-Nya, toh umat manusia masih tetap bermacam-macam perbedaan dengan aneka paradigma budaya. Lantas mengapa harus seolah tak menerima heterogenitas tersebut dengan paradigma ekslusif yang menganggap “Other” sebagai “Musuh”, lebih parah lagi memperlakukan “Other” sebagai “Musuh” yang harus dikucilkan, dibasmi, atau dibinasakan dari peradaban kekianian.

Nah, inilah sebuah anugerah akan heterogenitas  termasuk bermacam-macamnya Agama di bumi. Jika agama hanya satu saja niscaya kehidupan di muka bumi akan hampa tak kreatif, tanpa hiasan Ukhuwah antar umat beragama. Lantas, “Nikmat Mana yang engkau dustakan”?. Ambil saja segi positifnya jika tak ada perayaan Natal tentulah bulan Desember yang menjadi bulan penutup tahu akan sepi tanpa eksistensi aktifitas sebuah kebudayaan. Bukankah kebudayaan menjadi corak penting akan eksistensi kehidupan, dalam hal ini termasuk budaya yang timbul dari sebuah agama di seluruh permukaan kemanusiaan. Bagiamana, masih menistakan fitrah heterogenitasnya kehidupan ?.

Lantas jika ada relawan muslim yang ikut membantu menjaga gereja ketika perayaan natal umat kristiani, haruskah juga diplot sebagai “Other” yang juga harus diperlakukan sebagaimana kelompok non muslim. Gugurnya Sahabat Riyanto relawan BANSER saat mengamankan gereja di Mojokerto 2000 kala gegera bom para “kaum Khawarij”, hal tersebut mengafirmasikan bahwa sepenuhnya relawan tersebut dalam menjalankan misi menjaga gereja tentu dilandasi tentang sebuah paradigma sederhana, bahwa umat kristiani meskipun bukan termasuk saudara sesama muslim namun bukankah mereka sepenuhnya juga sama-sama menyandang status “manusia”.

Lantas haruskah memperlakukan mereka sebaliknya dengan anggapan menihilkan status fitrah yang melekat pada diri mereka. Jika memang demikian, hal tersebut tentu sebenarnya seolah memprotes tentang takdir Allah SWT tentang arti keberagaman dalam diri kemanusiaan. Lantas, “Nikmat Mana yang engkau dustakan”?




-----
Catatan:

Mohon maaf jika memang dialeka kali ini sama sekali tak disinggung seputar “dalil” rujukan seputar Islam sendiri terkait hal tersebut. Bukan bermaksud menistakan ajaran Islam dengan dalih menihilkan dalil-dalil rujukan. Hanya saja pribadi menyadari bahwa pengetahuan seputar manhajul Islam terbilang masih sangat awam. Alhasil ketidak kompeten tersebut inilah yang menjadikan pribadi mengkesampingkan dalil-dalil rujukan Islam dalam dialeka lepas kali ini, apalagi pembahasan-pembahasan terkait dalil-dalil memang kerap disinggung oleh para pemuka agama yang memang sangat kompeten dengan keilmuan tersebut.

Tidak ada komentar

Terima kasih atas masukan anda.