Israel vis a vis Palestina (Bagian 2)


Pengantar

Israel kembali diatas angin usai kolega utamanya Amerika Serikat melalui presidennya Donald Trump dalam jumpa pers secara terang-terangan mengakui eksistensi Israel atas kota Yerussalem. Bagi Trump kedaulatan Yerussalem merupakan  hak bagi warga Israel, karenanya pula pasca putusan itu digaungkan maka Trump segera memberikan mandat kepada Kedubes AS untuk hijrah dari Tel Aviv menuju Yerussalem.

Alhasil seluruh dunia pun dibuat gempar dengan intervensi Trump tersebut, sebagian berargumen bahwa keputusan Trump bukan malah menyelesaikan konflik Israel vs Palestina melainkan justru laksana menyiram api dengan cairan minyak, tentu api tersebut bukan malah meredup tetapi justru semakin berkobar membakar kayu-kayu bakar hingga menjadi abu layan.

Hampir semua kalangan yang kontra tentu beropini dalam benaknya, untuk apa AS harus mati-matian mendukung sepak terjang Israel meski sebenarnya tindakan tersebut berpotensi berimbas pada kemunculan mosi tidak percaya civil word dengan negara “Paman Sam” tersebut. Terlepas dari gerakan politik Trump mengambil hati pendukungnya yang memiliki darah Yahudi pasca merebaknya isu keterlibatan Vladimir Putin atas kemenangan Trump atas Hilary dalam pemeilihan presiden AS kemarin.

Akan tetapi jika ditarik secara kronologis garis lurus kebelakang tentu lah kebijakan Trump yang terkesan Israel sentris bukanlah hal yang baru. Mengacu pada peristiwa kongres senator Amerika ke-104 pada 23 Oktober 1995 yang salah satu hasilnya adalah resolusi untuk mengebalikan Yerussalem atas hak Israel bukan lagi menyandang status quo.

Dalam artian bahwa melalui konstitusi tersebut tertera jelas bahwa Amerika mendukung Israel terkait rencana pemindahan ibukotanya dari Tel Aviv menuju Yerussalem. Lantas mengapa AS gemar mengambil kecondongan sikap kepada negeri zion tersebut, apa hanya didasari sebab penggalangan dukungan warga Amerika berdarah Yahudi atas dirinya seperti yang kerap kali disebut oleh para jurnalis berita, atau terdapat sebab lain yang menjadi sebuah tali pengikat antar dua negara tersebut. Lupakan, hanya waktu yang akan menjawab pertanyaan tersebut yang memang sarat memunculkan hipotesis-hipotesis diagnosa.

Politikasisi Agama Israel

Kemudian yang tak kalah penting untuk disinggung terkait Israel adalah apa alasan negara tersebut gigih berani dan pantang menyerah dalam berjuang menguasai Yerussalem secara kaffah. Bukan hanya mengekspansi Yerussalem barat yang terdapat bangunan tembok ratapan, melainkan juga daerah Yerussalem Timur yang terdapat Masjidil Al Aqsha pula. Sebagaimana kerap kali disinggung oleh pakar sejarah bahwa Yerussalem menyandang status sebagai kota tiga agama. 

Dalam artian bahwa kota menyandang posisi penting bagi tiga agama samawi (Yahudi, Nasrani, Islam) dalam perkembangan peradaban mereka, yang tak perlulah disinggung panjang lebar pembahasan tersebut dalam dialeka kali ini mengingat sudah banyaknya literasi perihal posisi Yerussalem dalam tiga agama samawi diatas.

Berkaitan dengan fanatisme berlebih masyarakat Israel pribadi menyimpulkan bahwa hal tersebut sedikit banyak tak lepas dari faktor historis, dimana sudah bukan menjadi rahasia lagi bahwa daerah Yerussalem dan sekitarnya dulunya memang meruapakan lokasi dari kerajaan Israel lama, dimuai sejak masa Nubuwah Nabi Musa As hingga nabi-nabi lain semacam Nabi Daud As dan  Nabi Sulaiman As.

Alasan ini pula yang akhirnya kerap kali membuat Israel memiliki fanatisme berlebih sebagai modal menggerakkan ukhuwah keisraelan. Meskipun nyatanya ukhuwah yang ditampilkan sangatlah berlebih hingga sarat akan nilai negatif primordialisme, ethnosentrisme, hingga chauvinisme bahwa “Bangsa Israel adalah pilhan Tuhan”. 

Berbincang tentang anggapan “Bangsa Israel adalah pilihan Tuhan” merupakan suatu keniscayaan yang tentu juga berlaku pada setiap agama baik Nasrani atau bahkan Islam. Namun dalam kasus tertentu doktrin ini kerap kali digunakan oleh beberapa kelompok sebagai alat politikisasi agama untuk menggalang kesatuan. 

Nah bagi masyarakat Israel umumnya mereka kerap kali menisbatkan doktrin tersebut kepada sabda-sabda Nabi Musa As tentang pujian pada masa lampau pada Bangsa Israel. Padahal jika difikir logika pujian-pujian Nabi Musa As kepada kaumnya Bansa Israel kala tiada lain bukan semata-mata memupuk perilaku “aku-sentris” hingga menganggap rendah kalangan luar. Melainkan saat itu memang kaum Israel mendapat kegalauan luar biasa dari ancaman raja Fir’aun alhasil mencoba menghibur kaumnya dengan sabda “quote” penyemangat merupakan salah-satu alternatif solusi untuk membangkitkan ghirah perjuangan melawan kebiadaban raja Fir’aun cs.

Belum lagi faktor “gagal move on-nya” beberapa anak turun Bangsa Israel tentang gambaran kejayaan kerajaan legendaris Israel lama di era Nubuwah Daud As dan Sulaiman As di jazirah Timur Tengah pada masa terdahulu. Tentulah hal tersebut akan semakin membuat mereka menjadi-jadi untuk mendirikan kembali kekhilafahan Israel pasca keruntuhan kerajaan lama akhibat serangan Bizantium yang menyebabkan kehancuran besar kerajaan Israel. 

Warga Kerajaan Israel pun banyak yang dibuhuh atau dijadikan budak oleh tentara dan politisi Bizantium. Adapun yang selamat harus merelakan meninggalkan tanah mereka untuk hijrah menyebar ke penjuru dunia guna mencari perlindungan. Sebelum akhirnya kekuasaan Bizantium di semenanjung Timur Tengah beralih tangan kepada bangsa Arab dimasa kehalifahan Umar Bin Khattab Ra melalui ekspansi besar-besaran jazirah luar.

Pada masa-masa itu ekspansi wilayah memang sebuah tradisi dinasti lama, memilih di kuasai atau mengasai itulah dua hal yang harus dipilih. Nah, untuk dapat mempermudah penyebaran dakwah Islam akhirnya Khalifah Umar Bin Khattab pun memutuskan untuk mengambil jalan tersebut, alasil sejak saat itu lah tanah Yerussalem dan sekitarnya berpindah tangan kepada kaum muslimin.

 Hingga terakhir berpindah tangan ke Dinasti Turki Ustmaniyyah di era berjilid-jilid Perang Salib melawan persekutuan bansga katholik di Eropa. Tentu saja anak turun Israel yang mayoritas beragama Yahudi mempunyai andil dalam memprovokasi bangsa salib untuk menyerang Ustmaniyyah, meskipun hal ini hanyalah perbincangan lepas dimana posisi Yahudi dalam perang salib tersebut. Faktor kedekatan kelompok Yahudi dengan basis salib eropa pasca terusir dari tanah kelahiran merupakan indikator keterlibatan Yahudi dalam perang atas nama agama tersebut, apalagi keduanya memang memiliki kepercayaan atas sakralnya perjanjian lama meskipun Yahudi tak mengakui eksistensi perjanjian baru.

Tumbal Nyawa Zionisme

Setelah melalang buana ditengah pengasingan ke penjuru dunia, sebagaian anak turunan Israel (Yahudi) di penjuru dunia pada akhirnya sepakat membuat usaha untuk menyatukan visi misi dan pengembalian jati diri. Bagi mereka kaum Yahudi merupakan pewaris hak atas Yerussalem dan sekitarnya yang mereka anggap merupakan lokasi kuil Nabi Sulaiman berada.

Alhasil Kongres Yahudi pertama pun mencat kepermukaan pada 29-31 Agustus 1897 yang akhirnya menghasilkan sebuah gerakan Zionisme sebagai sebuah ideologi pemompa semangat merebut kembali tanah kelahiran mereka (Yerussalem dan Sekitarnya). Kata “Zion” dalam padanan zinonisme berasal dari penisbatan objek “Bukit Zion” merupakan bukti nyata bahwa tindakan propaganda mereka menggunakan symbol agama untuk mempermudah mengambil dukungan sesama penganut Yahudi dalam penyatuan visi dan gerakan.

Kesialan kembali menimpa kalangan Yahudi sebagai bansga turunan Israel, dimana propaganda Zionisme saat itu dianggap berbahaya oleh Hitler dengan fasisme Nazi-nya, tentu saja disebabkan kekhawatiran Nazi atas keberhasilan Zionisme dalam menyaingi ideology fasisme Nazi yang digaungkannya. Alhasil terjadilah genosida besar-besaran kembali atas bangsa Israel (kalangan Yahudi) yang tersebar di benua biru sepanjang Perang Dunia II.

Apalagi isu bahwa kaum Yahudi merupakan dalang utama penyebaran virus mematikan Black Death yang menimpa hampir seluruh benua eropa semakin menguatkan akan kebencian warga eropa atas kalangan Yahudi. Adapun kalangan yang selamat pun terpaksa harus kembali hirjah ke daerah tepian eropa seperti Asia Timur, Asia tenggara, bahkan menyeberangi samudra pasifik guna menyelamatkan diri ke benua Amerika. Kebiadaban bangsa eropa tersebut oleh Buya Syafei Ma’arif disebut dengan argument menarik bahwa “Palestina harus rela menanggung dosa-dosa bangsa eropa atas Yahudi kala itu”, catatan hitam yang menyedihkan.

Sementara sisa-sisa penggiat propaganda Zionisme yang berhasil selamat dalam insiden tersebut pun berusaha mencari alternatif lain tentang usaha menghidupkan kembali Zionisme sebagai gerakan mengembalikan tanah kelahiran. Karena itu pula tak heran jika banyak kalangan Yahudi yang menetap di  negara-negara blok sekutu seperti; Inggris, Perancis, hingga AS. Dimana negara-negara tersebut nota benenya merupakan rival utama blok sentral yang diusung poros Hitler Jerman dan Mussolinni Italia.

Israel vs Persekutuan Arab 

Nah, sejak keruntuhan Jerman di akhir Perang Dunia II beserta para koleganya seperti Italia atau pun Jepang bukan hanya menjadi kemenangan sang rival; Inggris, Perancis, Soviet, atau pun AS. Namun manisnya kemenangan tersebut juga menjadi kemenangan pula bagi kalangan Yahudi pula yang saat itu memang sudah menyusupi seluk beluk negara-negara tersebut sejak ikatan hubungan diadakan. Kemenangan tersebut menjadi modal besar bagi Israel untuk dapat kembali menjajakkan kaki di Yerussalem dan sekitarnya yang mereka anggap sebagai bekas tanah nenek moyang mereka.

Disi lain usaha mereka terhalang dengan realita bahwa bangsa arab (Kalangan Islam) sudah menduduki daerah tersebut sejak penaklukan Khalifah Umar Bin Khattab atas Bizantium selaku pihak penghancur kerajaan Israel lama. Imbasnya Perang Arab vs Israel pun meletup, dimana saat itu kerajaan Yordania merupakan dewan pelindung tanah Yerussalem dan daerah sekitar. Disinilah bangsa Israel memainkan permainan keduanya, melalui kedekatan dengan eks negara sekutunya semacam Inggris, Perancis, Belanda, hingga Amerika Serikat yang juga menjadi poros utama PBB kala itu. 

kedekatan tersebut akhirnya memaksa Inggris turun tangan atas dalih mandat dari PBB untuk mengatasi perang Arab vs Israel. Melalui mandat tersebut akhirnya disepakati bahwa Israel yang statusnya kaum pendatang berhak 55 % atas tanah semenanjung Timur Tengah sedangkan Palestina (Dibawah kuasa Transyordania) selaku tuan rumah harus dirugikan dengan prosentase 45 %.

Bangsa Israel pun sepakat atas mandat Inggris tersebut, sehingga Israel pun secara resmi memproklamirkan diri pada 1948 sebagai sebuah negara yang berdaulat imbas pengakuan de jure  dari PBB melalui mandat sebagaimana diatas. Disisi lain Yordania selaku dewan pelindung semenanjung tanah Timur tengah (Palestina) pun mengacuhkan dan tak menyepakati perjanjian tersebut. Justru bangsa Arab tersebut pun tetap ngotot membela hal atas tanah mereka secara mutlaq karena merasa dicurangi. 

Perang Arab pun kembali berkecampuk hingga puncaknya adalah kekalahan telak Palestina (Dibawah otoritas Transyordania) hingga Israel pun mengusai 70 % semenanjung Timur Tengah tersebut. Meskipun demikian Palestina (Dibawah otoritas Transyordania) berhasil menekan pasukan Israel atas Yerussalem bagian timur dan berhasil menguasai daerah yang terdapat Masjid Suci Al Aqsha tersebut hingga momproklamirkan diri di daerah yang berhasil direbut dari Israel pada perang timur tengah 1967.

Di daerah Yerussalem Timur inilah Palestina mengupayakan untuk menjadikan kota tersebut sebagai ibukota di masa depan nanti. Sebagaimana diketahui sejak kekalahan bangsa Arab atas Israel, Palestina menjadikan kota Ramlalah sebagai ibukota administratif pemerintahan. Disisi lain Bangsa Israel kemaruk tak karuan, meskipun sudah berhasil mendirikan sebuah negara sendiri di negeri orang atas siasat nepotis bahkan mampu menduduki Yerussalem bagian barat (Yerussalem yang terdapat tembok ratapan).

Namun hal tersebut tak mengurangi “nafsu” Israel untuk mengekspoitasi semenanjung timur tengah secara kaffah, termasuk Yerussalem Timur yang oleh PBB kini masih dianggap berstatus quo. Tampaknya kini Israel kembali melancarkan siasat jitunya kepada kolega mereka bernama “AS” agar misi kedua mereka kembali menemui kata “Mission Complete”. Keputusan Trump mengakui Yerussalem secara Kaffah atas hak Israel merupakan representatif lain akan masih adanya korelasi antara negeri Zionisme tersebut dengan Amerika Serikat sejak era lama.

Epilog

Akankah konflik terpanjang sepanjang sejarah umat manusia tersebut akan menemui babak baru, khususnya bagi pergolakan di Indonesia sendiri ?. Setidaknya ada tiga hal yang menjadi puzzle untuk menentukan teka-teki tersebut, seberapa besar pengaruh tiga Puzzle tersebut pada hasil akhir.

Pertama; Pasca dilaksanannya votting dalam penyikapan pro-kontra “Kicauan” Trump perihak Yerussalem atas usulan Mesir. Dimana hasil akhir Trump harus dibantai telak dengan jumlah 128 negara yang mengecam, berbanding dengan hanya 6 negara yang pro Trump beserta 21 negara  memutuskan untuk ubstain. 

Kedua; seberapa besar ancaman Trump perihal pemutusan diplomasi dan bantuan dana pada negara-negara yang berseberangan dengan kebijakan Trump.

Lalu Ketiga; adalah anjuran MUI (Majlis Ulama Indenesia) tentang pemboikotan produk-produk berbau AS yang tersebar di Indonesia yang sarat pandangan pro-kontra, mengingat AS memang menjadi salah satu mitra kerja sama utama Indonesia.


Wallahu ‘alam.



---
Rizal Nanda M
Lamongan - 23 Desember 2017 

Tidak ada komentar

Terima kasih atas masukan anda.