Kyai Marzuki dan HIMMABA UIN Maliki


Sejenak teringat pesan Kyai Haji Marzuki Mustamar dikala menjelang Pelatihan eL-OMt HIMMABA Komisariat UIN Maliki Malang di tahun 2013 lalu. ketika kami sowan guna memohon pada beliau mengampu materi tentang Keaswajaan pada pelatihan tersebut. Kami pun memberikan pada beliau gambaran kisi-kisi materi yang kami buat bersama pihak panitia dan pengurus guna ditindak lanjuti beliau.

Setelah kami menyodorkan kisi-kisi atau bisa sebut pula silabus acuan materi. Tak disangka beliau justru menolak dengan halus kisi-kisi tersebut, kemudian berpesan sebuah petuah yang sampai kini masih mengenang.

" Mas, uwong pingin dahar sate kok di wei bakso. Nggeh mboten cocok kale atine", dawuh beliau kepada kami.

Sebuah tamparan keras bagi kami atas rancangan kisi-kisi materi pelatihan yang telah kami buat semalaman di kedai sarijan cofffee Malang. Tapi ambil hikmahnya saja karena memang disadari atau tidak kisi-kisi tersebut memang dibuat secara instan sebagai rujukan materi bagi para narasumber pelatihan eL-OMt.

Meski sebenarnya hal tersebut dibuat sebagai pelengkap persyaratan kegiatan pelatihan agar terlihat lebih profesional dan formal. karena sebelumnya kami menganggap bahwa sebuah pelatihan haruslah disusun dengan cara formal agar tampak lebih profesional.

Alhasil itulah sebab kami membuat standar  kisi-kisi materi yang disampaikan dalam pelatihan nanti. Tentu saja bertujuan agar terjalin sebuah hubungan antara panitia pelaksana sebagai pembuat materi dengan para narasumber terkait materi. 


Namun setelah peristiwa penolakan oleh beliau Yai Marzuki terjadap buatan kami. tentulah kami menyadari atas kesalahan kami tentang pembuatan kisi-kisi materi. 

Bahwa kerap kali para penggiat organisasi hanya sekedar membuat sebuah kegiatan atau apapun termasuk perancangan acuan materi pelatihan. Dengan semata-mata berpandangan organisasi-sentris alias hanya memenuhi tuntutan organisasi agar terlihat profesional. Agar terlihat rapi di mata-mata luar, atau ekspektasi diri lainnya. 

Namun disisi lain kerap kali penggiat organisasi tersebut melupakan hal yang sederhana, apa manfaat dari kegiatan atau hal tersebut bagi anggota. Tentulah sesuai apa yang dibutuhkan oleh anggota dalam setiap era zaman.

Termasuk dalam menentukan materi pelatihan beserta kisi-kisi yang dibuatnya. Bukan malah sesegera berhias diri berusaha tampil "wah" dengan merancang hal-hal tersebut atas dasar kesempurnaan organisasi, lebih buruk lagi kesempurnaan kepengurusan. 

Kemudian dikaitkan dengan rana pendidikan, bahwa pendidikan itu memang harus sesuai dengan dinamika zaman yang mengacu pada kebutuhan peserta didik. Bukan sekedar hanya memenuhi tuntutan pada formalitas pendidikan melalui silabus, Rpp, Prota, Promes, dan lain sebagainya. 

Meskipun sebenarnya hal-hal tersebut juga memilki urgensi tersendiri dalam kancah pendidikan formal di era "Now" yang memang kerap kali mengharuskan para pendidik untuk "bermesra" dengan kertas-kertas laporan, sebagai pertanggung jawaban kepada negara selaku penyelenggara pendidikan. 



Tidak ada komentar

Terima kasih atas masukan anda.