About Me

header ads

Antara Kurikulum dan Dikotomi Pendidikan


Jika dilihat dari sudut pandang tata bahasaan, redaksi kurikulum sendiri bukanlah muncul dari Bahasa Indonesia sendiri melainkan berasal dari Bahasa Yunani, sebagaimana istilah serapan lain yang mayoritas mengacu dari istilah asing. Dalam hal ini merujuk KBBI  Curriculum dengan kata curir, artinya “pelari”, dan curere, artinya “tempat berpacu”. Jika ditafsirkan sepintas maka pemahaman gramatikal tersebut menyandang makna dibidang olahraga, dalam hal ini jarak yang harus ditempuh oleh pelari sehingga sampai pada garis finish yang ditetapkan. Hingga pada akhirnya pemahaman ini masuk dalam rana Pendidikan yang dapat diartikan sebagain target dalam sebuah proses Pendidikan. 

Bagi lembaga pendidikan bergenre apapun, kurikulum merupakan sebuah hal yang penting untuk diperhatikan dan tentulah dilaksanakan dalam setiap proses pendidikan. Berlaku mulai dari perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, hingga evaluasi pembelajaran sebagai tolak ukur tercapainya sebuah tujuan Pendidikan. Merujuk pada UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dikatakan bahwa Kurikulum bias diartikan sebagai  seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan nasional.

Berdasar pada UUtersebut pada akhirnya ditemukan garis besar penyusun sebuah kurikulum pendidikan, meliputi; tujuan Pendidikan sebuah Lembaga, isi dan bahan pembelajaran sebagai sumber ilmu pengetahuan, hingga cara dan proses sebagai aplikasi dari usaha nyata untuk mencapai tujuan Pendidikan yang telah diracik sebelumnya. Disinilah pentingnya kurikulum sebagai upaya untuk memanajemen pendidikan, agar sebuah proses pendidikan dapat berjalan sesuai dengan jalur yang telah dibuat sebagai acuan pengembangan substansi pendidikan, yakni mengembangkan potensi anak didik.

Ramayulis (2004) mengartikan Kurikulum diartikan sebagai manhaj yakni jalan yang terang, atau jalan yang terang yang dilalui oleh manusia pada bidang kehidupannya . Dikaitkan dalam rana Pendidikan maka jalan yang terang dalam pengertian diatas bisa diserupakan dengan jalan terang yang dilakukan oleh guru untuk mengetahui apa yang dibutuhkan oleh seorang peserta didik, baik rana pengetahuan, kesusialaan, ketrampilan,  maupun kemampuan sosial.

Setelah sepintas kita mengupas urgensi kurikulum dalam Pendidikan, maka tiba saatnya pembahasan mengerucut pada objek kurikulum itu sendiri. Dalam hal ini sudah tentu Lembaga Pendidikan, baik formal atau pun non formal sebagaimana diatur dalam Sistem Pendidikan Nasional. Tetapi perlu kita sadari bahwa Pendidikan di Indonesia kerap terdapat dikotomi keilmuan, dalam kasus ini adalahn pemisahan antara ilmu umum dan ilmu agama. Atau dalam kasus lain keilmuan timur dan keilmuan barat. Pada akhirnya dikotomi ini menimbulkan anggapan keliru beberapa kalangan masyarakat yang menilai agama hanya cenderung berbau value, sedang ilmu umum cenderung mengarah pada ketrampilan sosial yang lebih dibutuhkan dalam kehidupan.

Dikotomi ini pada akhirnya tidak berhenti pada dogma sosial saja, bahkan berlanjut pada institusi negara yang melahirkan dua Lembaga Pendidikan formal, Sekolah yang dibawah naungan kementrian Pendidikan dan kebudayaan dan Madrasah yang dibawah kementerian agama. Sebenarnya mencari siapa sosok yang perlu bertanggung jawab atas dikotomi ini pasti sulit ditemukan, karena memang asal mula Pendidikan bergenre formal di negara kita diadobsi dari sistem kolonial era penjajah yang mana mereka saat itu gemar mendikotomikan ilmu pengetahuan agama dan ilmu umum. Mungkin saja tindakan kolonial penjajah saat itu memandang agama (Islam) sebagai ancaman hingga mereka pun tak menyantumkan agama dalam kurikulum sekolah saat itu.

Madekhan Ali (2020) dalam salah satu tulisannya berjudul Pembaharuan dalam Pendidikan mengatakan bahwa dalam dunia yang dinamis setiap masyarakat akan mengalami perubahan menuju pembaharuan. Jika zaman dulu, Pendidikan kerap diartikan sebagai usaha sadar terencana yang dilakukan pendidik (Guru) untuk mengembangkan potensi murid melalui sebuah proses pembelajaran tatap muka langsung, baik di sekolah, madrasah, atau pun lembaga lainnya. Namun kini Pendidikan pun berkembang lebih luas lagi, menerobos ruang dan waktu. Melalui paradigma “kampung virtual”, Pendidikan disulap menjadi Pendidikan jarak jauh dengan aneka aplikasi virtual untuk berkomunikasi jarak jauh antara guru dan murid, semacam Zoom, Clasroom, Edmodo, Ruang Guru, Quiperschool dan lain sebagainya.

Dikaitkan topik kurikulum yang merupakan bagian sistem Pendidikan, dengan peranan sebagai acuan dan rujukan penyelenggaraan Pendidikan nasional. Pada akhirnya pastilah pengembangan kurikulum menajadi hal yang tak bisa dielakkan dalam sebuah penyelenggaraan apapun jenis Lembaga pendididkan, baik itu sekolah formal, Madrasah hingga pondok pesantren yang diplot sebagai produk pribumi.

Dalam sebuah proses pengembangan kurikulum di berbagai Lembaga Pendidikan, hal utama yang perlu diperhatikan adalah sebuah karakteristik dari Lembaga tersebut. Yang mana karakteristik khas sebuah Lembaga Pendidikan pastilah akan melahirkan sebuah budaya Lembaga Pendidikan. Sebagaimana contoh, dalam Lembaga pesantren tentu tidak akan terlepas dari sebuah nilai humanisme dan nilai kepribadian luhur. Artinya dalam mengembangkan kurikulum di Lembaga pesantren pastilah harus mengedepankan karakteristik khas dari Lembaga tersebut. Sepertihalnya, budaya ngaji sorogan Bersama Kyai atau ngaji wethon kitab-kitab salaf yang menjadi sebuah identitas pesantren.

Budaya budaya bercorak kemandirian inilah yang harus tetap dilestarikan di lingkungan pesantren. Baik itu melalui pengembangan sistem pengajaran sebuah keilmuan yang lebih melibatkan santri untuk mengembangkan potensi diri, tanpa harus menghilangkan budaya khas santri itu sendiri. Sebut saja seperti; budaya mandiri, budaya Tawadhu kepada guru, budaya kebersamaan dalam sistem sosial, dan budaya epik lainnya.

Berbeda dengan kurikulum di Pondok Pesantren yang lebih melibatkan interaksi langsung antara Kyai dan Santri, karena dalam pondok pesantren anak didik akan dikarantina, dan digembleng langsung oleh Kyai dalam sebuah hunian (Ma’had) atau populernya disebut “Pondokan”. Maka pastilah ada perbedaan antara pengembangan kurikulum di Pesantren dengan Lembaga lain semacam Sekolah formal, atau Madsarah sekali pun.

Interaksi terbatas anatara guru dengan murid yang hanya dilakukan di area Lembaga sekolah atau Madrasah pastinya memberikan sebuah pembeda dalam sebuah pengembangan kurikulum tiap lembaga termasuk kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI) sendiri. Ingin bukti ?, lihat saja dalam sudut pandang kemasan materi Pendidikan Agama Islam dilembaga sekolah formal yang terbilang lebih integral, umum, dan majemuk dalam sebuah keilmuan islam. Sedangkan dalam sebuah Madrasah baik MTs (Madraasah Tsnawiyyah), MA (Madrasah Aliyah), atau MADIN (Madrasah Diniyah) justru Pendidikan Agama Islam dikemas lebih spesifik dalam sebuah keilmuan khusus yang berdiiri sendiri, semacam Fiqh, Ushul Fiqh, Nahwu Shorof, dan lain sebagainya.

Perbedaan pengembangan kurikulum pada Sekolah, Madrasah, dan Pesantren pastinya merupakan sebuah keniscayaan yang tak dapat ditanggalkan. Karena memang dilihat sepintas tiga lembaga tersebut merupakan institusi Pendidikan di Indonesia yang lahir dari asbab musabab yang berbeda satu dengan yang lain. Model sekolah formal semacam SD, SMP, SMA / SMK merupakan produk Pendidikan yang diadobsi dari bangsa barat era Kolonial. Berbeda dengan Pondok Pesantren yang awalnya merupakan model Pendidikan asli pribumi dengan ciri khas behavioristik, mengedepankan stimulus dan respon antara Kyai dengan Santri.

Disisi lain lembaga Madrasah merupakan model integralistik (campuran), memadukan antara pengajaran pesantren yang dikenal dengan kajian keilmuan islam yang spesifik dengan sistem Sekolah Formal yang ciri khasnya terdapat jenjang kelas tertentu dengan aneka mata pelajaran yang ditentukan. Jika dilihat dari segi historis dunia Pendidikan Indonesia Madrasah bisa dibilang membelakangi Pesantren dan Sekolah Formal . Lembaga Madrasah lahir sebagai respon atas maraknya Sekolah Formal buatan Kolonial, yang memang saat itu dikotomi antara keilmuan Agama Islam dengan keilmuan Umum sangat kental. Belum lagi kaum kolonial sudah tentu memandang umat islam sebagai ancaman dalam misi mereka melakukan ekspansi kekuasaan di bumi Nusantara.

Namun dalam konteks Pendidikan pada masa sekarang, Madrasah dan Pesantren merupakan dua hal yang berkesinambungan satu sama lain. Jika dulu pesantren kerap menggunakan model pembelajaran Sorogan, Pengajian Wethon, dan setoran hafalan yang cenderung behavior. Namun kini banyak pondok Pesantren di penjuru Indonesia yang kini mulai mengembangkan kurikulum Pendidikan agama Islam di lembaga masing-masing. Dalam hal ini beberapa pesantren tak jarang mencoba memakai pendekatan lembaga formal dengan memplot sistem berjenjang Madrasah Diniyah sebagai bagian dari sistem pembelajaran santri.




Posting Komentar

0 Komentar