(7) Togog dan Kebebasannya



Kala itu wajah Ki Togog terlihat sangar usai terbebas dari jeruji besi, meskipun sebenarnya jika dirinya berkehendak ingin keluar tentu bukanlah sebuah hal yang sulit. Wajar saja karena memang Ki Togog mempunyai pengaruh besar sebagai punakawan garis bengkong. Tapi nyatanya Ki Togog memang lebih memilih untuk beruzlah di balik penjara suci yang kata orang-orang sebagai majlis penggemblengan moral para kaum yang otaknya kongslet.

Tapi hari itu memang berbeda, Ki Togog mempunyai kehendak untuk menghirup udara bebas di dunia luar. Alhasil bukan sebuah masalah baginya untuk melobi sipir yang bertanggungjawab atas penjara suci. Apalagi Ki Togog memang dikaruniai Sang Hyang Ilahiyyah berupa mulut besar yang tentu berguna untuknya dalam melantunkan kata-kata peruntuh jiwa. Itu belum pusaka andalan saktinya Gelati Togog Menyogok yang sanggunya melingkar di pinggangnya.

***

Setelah itu pula segeralah Togog mengadakan tasyakuran dalam rangka terbebasnya dirinya dari balik penjara besi suci. Berbagai klien, para pelanggan dari aneka latar belakang, hingga para fans pun turut hadir dalam pesta menyambut Ki Togog. Tampak pula batang hidung setelannya Ki Bilung yang merupakan partner utama menggerakkan eksisensi punakawan garis bengkong, tentu sebagai basis perlawanan ideologi yang diusung oleh Kyai Smarasanta cs.

“ Kang Togog, mengapa engkau lebih memilih untuk menunda keluar dari balik penjara besi yang mengurung jasatmu ?”, Bilung mencoba bertanya tentang alasan mengapa bosnya tersebut lebih memilih uzlah dalam penjara.

“ Bilung, bukan sebuah masalah besar jika aku ingin keluar sewaktu-waktu dari balik penjara. Tapi memang itulah hal yang kuinginkan. Bukakah lebih mudah mengumbar tugas kita sebagai punakawan garis kiri untuk mempengaruhi pihak yang kongslet dari balik penjara dalam satu majlis bersama”, papar Ki Togog.

“ Lantas apa alasan engkau memilih bebas hari ini, lalu apa ada kaitannya dengan rencana kita untuk mendeklarasikan partai Togog menyodok sebagaimana yang kita rencanakan lalu ?”, tanya Bilung sekali lagi.

“ Sebenarnya diriku lebih suka berada di penjara, karena memang melalui balik penjara tentu akan mudah mengumbar propaganda tentang eksistensi partai Togog menyodok sebagai proyek besar punakawan garis kiri. Namun pihak sipir penjara memiliki idealisme lain yang kerap diiringi keputusan sepihak oleh pimpinan mereka ”, tutur Ki Togog sambil nyeruput kopi ijo yang disugukan partnernya.

“ Apa gerangan idealisme yang mereka usung, apakah pejabat penjara tersebut mengetahui proyek propaganda partai Togog menyodok ? ”.

“ Bukan itu yang menjadi alasan mengapa aku dibebaskan menjadi punakawan di penjara besi suci itu. Melainkan karena idealisme proyek mereka sendiri untuk membentuk poros nasional yang salah satu bagiannya adalah pendirian organisasi alumni penjara besi untuk mengontrol para alumni yang tersebar di dunia luar. Nah, disinilah alasan mengapa mereka memilihku sebagai penanggungjawab mengeksistensikan organisasi tersebut. Kata mereka tujuan wadah tersebut adalah agar para alumni penjara tidak luntur akan nilai-nilai luhur yang ditanamkan di balik jeruji besi, seperti nilai kedisiplinan, berbaur dan berbagi antar tahanan, dan nilai-nilai lainya ”. Kata Togog panjang lebar tentang maksud pejabat sipir penjara tersebut.

“ Lantas engkau menerimanya begitu saja tentang idealisme yang mereka usung. Bukankah itu malah merepotkan engkau pasca bebas dari penjara ”. Bilung mencoba mengkritisi tindakan seniornya tersebut.

***

Togog diam tak memberikan umpan balik argumentasi yang dikatakan Ki Bilung. Setelah tamu undangan sudah bubar meninggalkan majlis pertemuan segeralah  Togog memberi klarifikasi tentang fakta sebenarnya dibalik organisasi alumni tahanan skala nasional tersebut.

“ Begitulah bilung, terkadang para sipir penjara memang kerap membuat kebijakan-kebijakan sepihak yang kerap pula acuh menafikan kondisi dunia luar. Mau bagaimana lagi itulah resiko yang harus dihadapi jika berkoalisi dengan para pejabat.  Balas budi dengan sebuah pengabdian merupakan hutang atas kesempatan yang diberikan padaku dalam rangka menebar eksistensi di balik lautan penjara besi tua ”.

“ Apa engkau masih tak mengerti, bukankah akan lebih mudah menebar pengaruh ideologi pada kolega sesama organisasi. Apalagi organisasi alumni tahanan penjara tersebut digadang-gadang berskala nasional sebagai wadah penghubung satu anggota dengan anggota lain. Bukankah itu menggiurkan jika mampu dimaksimalkan dalam rangka menebar idelogi Punakawan garis kiri ”, papar Ki Togog menambahkan argumentasinya.

Bilung masih geleng-geleng kepala tentang penjelasan partnernya tersebut. “ Aku masih tak faham apa gerangan yang kau katakan barusan. Lantas bagaimana nasip para klien kita yang memang bukanlah bekas tahanan ”.

“ Bukankah sudah jelas bahwa sebuah organisasi memiliki pembagian keanggotaan. Ada yang namanya anggota biasa, istimewa, atau anggota luar biasa. Bahkan ada yang menyantumkan juga anggota kehormatan sebagai pihak yang dirasa memiliki jasa tertinggi. Nah, pelanggan klien kita yang sebelumnya telah ikrar dibawah partai Togog Menyodok masukkan saja pada status anggota istimewa atau bisa juga anggota luar biasa. Bukankah ini akan lebih berguna dalam menghidupi eksistensi program Partai Togog Menyodok. Hasilnya Engkau juga bisa bereksistensi pada organisasi baru tersebut. Toh fenomena merangkap rangkap jabatan antar badan organisasi bukanlah ha lasing dalam fenomena madyapada di era kekinian”. Togog kembali mencoba memberikan penjelasan segamblang-gamblangnya pada parter utamanya.

***

Bilung tengal tengul mendengar penjelasan dari Ki Togog seraya memikirkan hal lain tentang hal apa lagi yang mengganjal benaknya tentang proyek sipir penjara tersebut. “ Kalau engkau akan mengawinkan partai Togog menyodok dengan organisasi alumni penjara besi suci nasional  tersebut bukankah akan menyalahi aturan AD-ART dan blueprint dari organisasi baru tersebut. Bagaimana berurusan dengan sipir penjara sebagai pihak yang mengeluarkan surat keputusan bagi kita ”.

“ Acuhkan saja, jika kita bersusah payah meminta pertimbangan mereka tentang rencana proyek idealisme kita tentu akan kacau malah. Bisa jadi benturan antar idealisme akan menyertai perundingan tersebut, yang pada akhirnya jelas mempengaruhi langkah eksistensi geliat punakawan garis kiri.”, papar Togog dengan kata tegas.

“ Kepentingan mereka berbeda dengan kepentingan kita. Lagi pula diantara sipir penjara tersebut ada pula yang masih terjangkit penyakit eska-sentris, yang efeknya kerap menyebabkan pemberlakuan tindakan yang hanya terbatas melihat-lihat pada tugas job description mereka saja sebagai pihak yang bertanggungjawab pada pengelolaan sel penjara besi. Tentu sulit mendobrak tradisi yang sudah mengakar  dan membudaya dalam birokrat penjara ”. Togog melanjutkan argumentasinya.

***

Bilung diam  sejenak kemudian mengutarakan pertanyaannya lagi, “ Lantas bagaimana efeknya jika tidak dikoordinasikan. Takutnya langkah kita nantinya akan di cap illegal yang tak patuh pada atasan yang mengeluarkan mandat surat keputusan ”.

Mendengar pertanyaan partnernya Ki Togog menghela nafas kemudian kembali berdialek, “ Jangan terpaku pada aturan-aturan formil Bilung. Aturan formil memang sebagai media pengatur sebuah organisasi. Tapi jika kerap terpacu berlebih pada redaksi aturan administratif tersebut tentulah sebuah inovasi baru akan terhambat. Jika ada perihal yang menguntungkan kita dan bertentangan dengan legalitas, toh kita bisa mengeluarkan legalitas baru sebagai basis revisi legalitas yang lama. Jika engkau masih membingungkan legalitas peleburan tujuan dua badan atau permasalahan tertambatnya eksistensi partai Togog Menyodok pasca dimerger, buat saja badan semi otonom yang mempunyai keluasan dengan otonomi khusus untuk bertanggugjawab terhadap suatu hal, tanpa harus secara mutlaq patuh pada AD-ART organisasi diatasnya. Gitu aja kok repot lung bilung ”.

“ okelah jika itu memang solusi terbaik. Sejak berada di balik penjara engkau semakin handal pada ilmu-ilmu organisasi ”. Bilung akhirnya mengafirmasi argumentasi seniornya.

“ Dibalik penjara besi tua tersimpan lautan ilmu melimpah akan ilmu hikmah. Dimana engkau dapat secara leluasa mengambil ikan yang mana. Apakah ikan dari para pencopet uang rakyat, ikan dari birokrat yang terikat pada legalitas sekretariat, atau ikan dari para penggiat revolusi yang ditahan dalam batasan jeruji besi. Bukan begitu Togog, Bilung ”, papar seseorang tamu undangan yang terlambat datang dalam tasyakuran.

“ Kyai Semar  !!! ”, kata Togog dan bilung bersamaan, kaget atas hadirnya rival utama seniornya tersebut.


Hadirnya Smarasanta dengan membawa gunungan ditangannya menjadi akhir dialeka perihal bebasnya Ki Togog dari penjara besi suci. Punakawan garis kiri yang memposisikan diri sebagai basis perlawanan punakawan garis kanan melalui pemupukan isu-isu pasaran. 


(Dibuat pada Rabu, 24Januari 2018)

----
Prev: Pohon Beringin di Negeri Imantaka   -   Next: Pembelaan Dewi Ning Mustikaweni (Segera)



----

Tidak ada komentar

Terima kasih atas masukan anda.