Menasionalkan Santri



Sebenarnya dialeka ini terbilang tulisan lama sekitar dua tahun yang lalu tatkala menjelang peringatan hari santri nasional edisi tahun 2016. Hanya saja masih berupa coretan pena yang tertuang dalam lembaran kertas. Alhasil daripada “musproh” tak terdokumentasikan akan sebuah gagasan sederhana tersebut. Akhirnya pada kesempatan kali ini kesampaian untuk mereview kembali tulisan tersebut seraya menyempurnakan perihal yang terbilang butuh penyempurnaan.

Viralnya Hari Santri

Bukan menjadi rahasia lagi bahwa pemerintahan presiden era Joko Widodo mempunyai kedekatan erat dengan golongan Islam yang berafiliasi budaya Islam moderat semacam Nahdlatul ‘Ulama, terlepas dari kolalisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang memang loyal berkoalisi dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Nah, diantara progres kedekatan tersebut adalah pengadaan Hari Santri Nasional  setiap 22 Oktober yang resmi menjadi hari besar Indonesia sejak disahkan tahun 2015 lalu.

Apalagi hubungan kausalitas yang dipakai dalam pertimbangan penentuan tanggal 22 Oktober adalah terkait Resolusi Jihad Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari yang nota benenya merupakan pendiri NU. Sudah barang tentu hari santri nasional mempunyai keterkaitan erat dengan kontribusi Nahdlatul ‘Ulama menghiasi perjuangan bangsa Indonesia. Tapi lupakan saja, pembahasan kali ini bukanlah fokus pada kajian rana berkenaan dengan rana tersebut, yang memang sudah banyak para pewarta yang telah menulis perihal kontribusi para ‘Ulama NU di era “Old” yang dihubungkan dengan jaman “Now”. Dialeka kali ini hanya menyorot si objek perihal Hari Santri Nasional, dalam artian si santri itu sendiri.

Penyandingan “Nasional” dalam rangkaian kata “Hari Santri Nasional” memang seakan menjadi sebuah kemenangan bagi kalangan “santri”, yang memang pada era-era sebelumnya kurang terekam dalam bingkai kenegaraan, seputar sepak terjang manis yang telah dipersembahkan teruntuk bangsa dan negara Indonesia terkasih. Pelajaran kesejarahan perjuangan bangsa Indonesiaan yang diajarkan di bangku sekolah sebelumnya pun jarang menyentuh rana perjuangan kaum santri dalam berkontribusi pada NKRI, semisal Resolusi Jihad Hadratus Syaikh, Resolusi Jamaluddin Malik, atau bahkan pasukan Hizbullah dan Sabilillah yang jarang sekali disebut.

Dengan demikian tak khayal tatkala Presiden Joko Widodo meresmikan hari santri nasional, ntah itu memang sebagai hutang polik balas jasa atas kemenangannya atau memang murni “kerentek” dari bapak presiden sendiri. Saat itu pula setiap tanggal 22 oktober sejak ditetapkan pada tahun 2014 jajaran para santri pun seolah mendapati anugerah luar biasa.

Beramai-ramai kalangan yang pernah terlibat sebagai santri atau yang seolah mengaku santri pun berlomba-lomba mengucapkan kata selamat, ntah itu berbentuk kolase foto ucapan yang digabung dengan foto dirinya atau dengan melalui rekaman video. Bahkan virus ini pun merammbah kalangan santri yang notabenenya bukan asli pesantren (Baca: Pelajar formil yang berafiliasi dengan madrasah NU).

Nahdlatul ‘Ulama sebagai penggagas pun tak ketinggalan dalam menyambut hari sakral tersebut, mulai dari PBNU selaku pimpinan tertinggi hingga sub-sub ranting terkecil. Semuanya berlomba-lomba menyambut Hari Santri Nasional.  Apalagi saat itu lagu Ya Lal Wathon atau juga disebut Mars Syubbanul Wathon ciptaan Kiai Haji Wahab Hasbullah memang viral ditengah perhelatan HSN edisi perdana.

Sebuah Tanggung Jawab

Penyandingan kata “Nasional” bersama kata “Santri” tentulah bukan sekedar bermakna pengakuan eksistensi dan kontrubusi santri dalam pembangunan ke-Indonesiaan. Justru munculnuya dogma “Santri Nasional” atau padanan lain “Nasionalisme Santri” sejatinya merupakan suatu tanggungjawab besar teruntuk para santri sendiri.

Menurut benak pribadi setidaknya dengan ditetapkannya Hari Santri Nasional, para santri setidaknya mempunyai dua tanggungjawab besar sebagai pembuktian sakralnya “embel-embel” nasional sebagai kesatuan “Santri Nasional”.


Pertama, dengan ditetapkannya Hari Santri Nasional tentulah para santri tertuntut untuk mampu mendogmakan diri benar-benar sebagai “Santri Nasional”. Artinya si santri haruslah mengilhami dan mengaplikasikan dogma nasionalis dalam semangat keislaman mereka. Dengan kata lain semangat keislaman yang direalisasikan haruslah terintegrasikan dengan nilai cinta pada bangsa dan negara, tentu saja mencinta manusia yang ada didalamnya pula. Berdasarkan ajaran Islam yang diajarkan dalam suatu lingkup pesantren.

Para santri haruslah mencontoh semangat nasionalisme yang diteladankan para masyayikh dan para pendahulu semacam; Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari dengan resolusi Jihadnya, Kiai Haji Ahmad Dahlan dengan semangat pembaharuan Muhammadiyyahnya, Kiai Haji Wahab Hasbullah dengan semangat Syubbanul Wathonnya, Kiai Wahid Hasyim dengan gelar Kyai Pancasila, atau Kiai Abdurrohman Wahid alias Gusdur sebagai bapak pluralisme yang mengajarkan arti Nasionalisme kemanusiaan.

Kedua, dengan gelar “Santri Nasional” tentulah para santri tertuntut untuk mampu mengupgrade posisi mereka, dari skala regional atau kedaerahaan menuju posisi nasional. Artinya eksistesi para santri haruslah bertambah pula seiring dengan pengakuan dogma santri nasional. Alhasil seorang santri wajib hukumnya merevisi dogma-dogma predikat ndeso, kolot, minim teknologi, minim pembaharu, tak gaul, katrok, dan sebutan lainnya. Tentu saja menju santri yang benar-benar menguasai peradaban zaman, apalagi di jaman “Now” kini dampak globalisasi melalui jagat maya sangat luar biasa pengaruhnya. Tentulah wajib hukumnya bagi seorang santri menunjukkan taji eksistensi kesantriaanya dalam peradaban virtual yang kerap dipenuhi bumbu-bumbu hoax yang kerap tersebar tiap hari.

Santri Alumni

Tak ada yang namanya “alumni santri” karena sekali menjadi santri selamanya bersatus menjadi santri, bahkan jika raga memang sudah tak bertempat di pesantren pula. Karena itu pula saya lebih cocok jika mengganti istilah “Alumni Pondok” atau “Alumni Santri” dengan kata “Santri Alumni”. Istilah alumni disini terbatas pada hal waktu dan tempat saja, dimana seorang santri tak lagi mengabiskan hari-hari dalam sebuah pesantren.

Nah, seiring ditetapkannya hari santri nasional tentulah para santri yang berstatus alumni juga terselip sebuah tanggungjawab pula terkait dogma “Santri Nasional” yang terlanjur melekat dalam kancah Keindonesiaan jaman “Now”. Karena itulah bagi para santri alumni tentulah harus membuktikan diri menjadi motor penggerak eksistensi seorang santri terhadap sebuah keilmuan yang telah didapat di pesantren. Hingga nantinya keilmuan tersebut dapat diakulturasikan dan direalisasikan  akan sebuah proses dakwah dalam rana sosial masyarakat.

Disinilah sebenarnya letak urgensitas seorang santri alumni, yang mana suatu pesantren dianggap harum di mata masyarakat  mampu menggodok insan luhur juga disebabkan atas dasar sejauh mana produk santri alumni mampu memakismalkan potensinya untuk mengeksiskan diri dalam sosial masyarakat.

Dengan ditetapkannya hari santri nasional para santri tak terecuali santri alumni juga tertuntut untuk mengeksistensikan diri dengan perjuangan yang lebih ekstra, dalam tanda kutip mencakup “Skala Nasional”. Alhasil seorang santri tentulah tertuntut untuk mampu memperluas wilayah dakwahnya, bukan hanya sekaliber antar kampung melainkan haruslah mulai membiasakan diri membuat sebuah jaringan dakwah skala nasional.

Melalui peradaban virtual di jagat maya dengan aneka genre media sosial, tentu sebuah angan-angan menciptakan jaringan santri nasional bukan merupakan hal yang mustahil. Apalagi di era sekarang budaya online dari kalangan santri sendirinya telah menciptakan sebuah tatanan baru peradaban virtual melalui paguyuban grup-grup yang melalang buwana di jagat maya melalui berbagai interaksi dialeka dari sub-sub daerah.

Menjamjurnya organisasi santri alumni yang tersebar di berbagai daerah semacam; IKABU Tambakberas, IKAPPMAM Denanyar, KWAT Tebuireng, PERMADA Darussalam Gontor, FORMAL Lirboyo, IASS Sidogiri, dan lain sebagainya, merupakan sebuah alasan berfikir positif tentang keberhasilan sebuah misi merealisasikan dogma “Santri Nusantara”. Tinggal bagaimana perkumpulan organisasi tersebut menjelma menjadi sebuah organisasi yang benar-benar organisasi. Sebagaimana padanan kata “organ” dan “-Sasi” yang mengharuskan untuk selalu bergerak beroroses mengeksistensikan diri untuk dapat dikatakan sebagai organisasi yang hidup.

Terakhir, pribadi hanya menyimpulkan sebuah qoul Almaghfurullah Kiai Haji Abdul Wahab Hasbullah “Tiada kata udzur dalam sebuah perjuangan”, artinya sekali menjadi santri maka selama-lamanya akan menjadi seorang santri. Karenanya sebuah perjuangan mensyiarkan nilai luhur yang dilakukan haruslah tak lekang oleh waktu, tak berhenti pada batas tertentu. Nah, kesimpulanya dengan naik levelnya santri menjadi santri nasional seiring diresmikannya hari santri nasional tentulah para santri memiliki potensi besar untuk menggoreskan kisah pengabdian terbaru dalam kancah lintas kedaerahan alias bersatus santri nasional.


November 2016, disempurnakan 09 Januari 2017

Tidak ada komentar

Terima kasih atas masukan anda.