Bernostalgia Dengan Hoax Kolosal Tutur Tinular


Beberapa waktu yang lalu tatkala pribadi bergeliat meleburkan diri dalam peradaban virtual yang dipenuhi hiruk pikuk warganet. Pribadi mendadak diingatkan salah satu seputar sebuah nostalgia sandiwara oleh salah satu teman melalui postingan. Dalam postingannya ia memosting sebuah foto berisi uraian singkat kerajaan Majapahit dari awal didirikan oleh Raden Wijaya hingga era kemunculan Gajah Mada dalam menumpas Pemberontakan Ra Kuti. Sesuai dengan dugaan pribadi bahwa inspirasi teman saya membuat postingan tersebut merujuk pada cerita drama kolosal Tutur Tinular 1997 yang dipermak dari cerita novel penulis legendaris S. Tidjab.

Sudah bukan menjadi rahasia bagi kalangan yang terlahir paling akhir di tahun 90-an tentu akan akrap dengan drama serial Tutur Tinular hasil permakan S. Tidjab. Dalam hal ini penulis sendiri yang terhipnotis dengan jalannya alur ceita yang begitu istimewa. Bagaimana bukan istimewa melalui seri kolosal tersebut tersaji sebuah cerita awal perjalanan Kerajaan Majapahit. Sebagai salah satu kerajaan yang menjadi inspirasi para tokoh bangsa dalam membangun sebuah identitas NKRI sejak kemerdekaan digaungkan ditahun 1945.

Kisah heroik kepahlawanan Raden Wijaya Cs tersebut oleh S. Tidjab dibingkai manis dengan tambahan fiktif romanitika asmara Arya Kamandanu. Seorang senopati Perang Majapahit pemilik pedang sakti Naga Puspa yang beberapa kali menemui kegagalan dalam menjalankan asmara dengan beberapa wanita yang ia cintai. Nari Ratih dan Mei Shin itulah dua sosok wanita terkasih Arya Kamandanu yang ternodai status kewanitaannya dari seorang pria yang tidak lain kakaknya sendiri bernama Arya Dwi Pangga, seorang penyair yang pada akhirnya menjadi pendekar sakti berjuluk Pendekar Syair Berdarah yang mempunyai ajian Kidung Pamungkas dengan syair-syair yang begitu puitis. Belum lagi tokoh pelengkap lain dengan karakter nyentrik semacam; Empu Tong Bajil dengan ajian Segara Geni yang tewas terkena Keris Mpu Gandring, Dewi Sambi pemilik ajian tapak wisa yang pada akhirnya tewas atas ilmunya sendiri, hingga Sakawuni pendekar wanita “badas” yang pada ahirnya menjadi kekasih Kamandanu.

Pada kesempatan kali ini penulis bukan bermaksud menguraikan jalan panjang cerita berjudul Tutur Tinular sebagaimana diurai singkat diatas. Jika kids generasi jaman now ingin mengetahui jalan panjang romantika kisah legendaris tersebut dapatlah dilihat di Youtube atau beberapa situs online yang kerap disebar dalam peradaban virtual. Hanya saja ketika mendengar istilah film Tutur Tinular yang berlatar di masa akhir kerajaan Singosari era Kertanegara hingga masa awal kerajaan Majapahit terbentuk, ada sebuah hal yang menjadi unik untuk dibahas. Terutama jika dikaitkan dengan konteks peradaban Ke-Indonesiaan di era “Now” yang memang menjadi  lanjutan “Old” peradaban  kuno Majapahit.

Pertama tiada lain adalah fenomena Hoax dimana kini bak santapan harian. Apalagi isu-isu murahan yang tak jelas sumbernya  yang terpampang dalam peradaban warganet, tentulah sudah membudaya kian hari. Keuntungan dari sebuah isu murahan hoax yang menjurus pada memperkaya diri melalui klik bait dan portal sejenis, Dalam kasus lain isu-isu provokasi bergenre hoax juga kerap di politikisasi sebuah identitas untuk melambungan dan menggalang dukungan atas sebuah identitas tersebut.

Inilah yang seakan mengingatkan pada cerita sepak terjang Majapahit dalam serial Tutur Tinular. Beberapa kalangan awam seperti peribadi semula menganggap Kerajaan Majapahit hanya sekedar kerajaan hindu adidaya dengan tokoh terkenal semacam; Raden Wijaya, Hayam Wuruk, hingga Gajah Mada.

Namun ternyata dalam perjalanan membangun tatanan pemerintahan Majapahit, sebagaimana dipermak S. Tidjab dalam ceritanya yang bermetamorfosis menjadi tontonan film serial. Disana Terdapat alur lain yang sarat dengan sebuah peneguhan kepentingan suatu identitas. Salah satunya termasuk berbagai upaya busuk merong-rong sebuah birorasi hingga menggulingan pemerintahan yang sah, dalam hal ini birorasi Kerajaan Majapahit.

Sebagaimana dipaparkan oleh para pengamat sejarah yang idenya tersebar di jagat virtual yang bersumber pada kitab para empu Majapahit semacam Paraton yang menceritakan beberapa kisah raja-raja majapahit. Disana diatakan bahwa pemberontakan para tokoh ternama semacam Ranggalawe, Lembu Sora, Nambi, atau Gajah Biru bukan sekedar sebuah tindakan makar pada kebijakan Prabu Raden Wijaya beserta birokrasinya, melainkan tentu ada sebuah api penyulut yang mengpropoganda serta menghasut tokoh-tokoh tersebut untuk melaukan sebuah tindakan makar. Hingga fenomena persekusi main hakim sendiri kerap dijumpa pada film beberapa adegan di film tersebut.


Dalam film Tutur Tinularnya S Tidjab disebutkan bawa tokoh utama penebar benih propoganda busuk tersebut adalah Dyah Halayuda yang sangat berambisi menjadi seorang patih majapahit. Hingga ia berhasil menjadi patih di era raja Jayanegara berkat kepiawaiannya menebar hoax bahwa Patih Nambi yang kala itu di Lumajang bermaksud menggalang kekuatan untuk memberontak pada Majapahit.

Dalam sejarah Majapahit sebagaimana salah satunya dipapar dalam Paraton memang tidak disebut siapa nama sang penghasut tersebut, hanya tertulis redaksi seorang berjuluk “Maha Patih”. Penisbatan Dyah Halayuda pada film Tutur Tinular sebenarnya merupakan penafiran para sejarawan terkait siapa itu Maha Patih sebagaimana disebut dalam Paraton, mengacu pada fakta sejarah pula bahwa nama Dyah Halayuda merupakan nama patih Majapahit yang menggantikan posisi Patih Nambi yang dianggap pembelot.

Adegan sebagaimana diatas inilah yang menjadi daya tarik penafsiran bebas dengan fenomena sosial ke-Indonesiaan diera kekinian. Negara Indonesia sendiri sejak merdeka di tahun 1945 jika difiir-fikir mempunyai kesamaan dengan perjalanan Majapahit menapaki awal perjuangan membentuk sistem kerajaan. Aksi makar para bberapa tokoh Majapahit yang awalnya merupakan  pahlawan Majapahit dalam membentuk sebuah kesatuan. Tentu hal itu mirip dengan fenomena makar yang terjadi di NKRI sejak proklamasi 1945, banyak para tokoh penggede RI yang justru endingnya dianggap makar, sebut saja; Tan Malaka, Kartosoewiryo, Sultan Hamid II, Amir Syarifuddin hingga DN Aidit. Banyak faktor politis kala itu yang menjadi sebab berbagai pemberontakan di NKRI semacam; G30S PKI, DII-NII, Persemesta, APRA, RMS, hingga terkini adalah OPM yang kembali muncul ke permukaan.

Di era serba kompleks seperti sekarang ini. Dengan pengaruh teknologi virtual yang menawarkan keterbukaan luar biasa tentulah sangat berpotensi memunculkan para Mahapatih lain. Sosok penebar hoax tak karuan demi sebuah tujuan pribadi walau harus mengorbankan stabilitas sebuah tatanan masyarakat.

Semoga saja aksi hoax tak karuan di era “now” pasca pecahnya orde baru  menuju era demokrasi dapat perlahan teratasi, seperti kisah Majapahit kala yang berakhir Happy Ending dengan terungkapnya kebusukan Maha patih pasca pemberontakan Ra Kuti berlangsung, hingga dirinya harus menimpa hukuman mati oleh pejabat kehakiman majapahit. Tentu saja diperlukan semangat keteguhan semacam Gajah Mada dengan sumpah pallapa yang dengan sungguhnya menyatukan Nusantara dalam sebuah kesatuan. Hemat pribadi, haruslah semangat sumpah palapa Gajah Mada menginspirasi semangat untuk melawan hoak, tak mudah terpengaruh oleh isu isu murahan yang tak jelas sumbernya. Walaupun itu datang dari orang dekat sendiri, bak Mahapatih Dyah Halayuda yang memang dirinya memiliki kedekatan dengan pihak internal penggede Majapahit
1.      






Tidak ada komentar

Terima kasih atas masukan anda.