Kajian Al Hikam, Munajat Ketujuh Ibnu Atto'illah (Mahabbah Pada Allah)


" Tuhanku, Bagaimana engkau kembalikan padakku untuk mengurusi diriku padahal engkau telah menjamin aku, dan bagaimana aku akan terhina padahal engkau telah menolong aku. Baagaimana aku akan kecewa padahal engkau yang kasih kepadaku ”-
 (Munajat ke 7 Syekh Ibnu Attoillah)


Sedikit Penjelasan Pengajian

Munajat Ibnu Atto’illah diatas  menurut Kyai Djamal terbagi menjadi tiga wushulan; 1) Ya Allah Engkau adalah wakil saya dan engkau telah mempasrakan semuanya padaku. Mengapa Engkau menyuruh saya mengatasinya sendiri. 2) Saya mengapa kok bisa hina, padahal Engkau telah menolong saya. 3) Saya mengapa kok bisa kecewa, padahal engkau telah kasih kepadaku.

***

Masih tentang mahabbah, menurut Kyai Djamal dikata bahwa seseorang yang menjadi kekasih itu sangat bergeliat dengan manja, seperti halnya sang ibu yang selalu memanjakan anaknyaa atau seorang suami yang memanjakan si istri.

Kyai Djamal juga menyinggung perihal bahwa sesungguhnya kita semua ini telah diurus oleh Allah  supaya di dunia bahagia dan tentu di akhirat juga. Hal ini dibuktian dengan firman Allah yang artinya; “ Jika kamu ingin bahagia (maka) jangan tertipu dengan dunia”. Berhubung tak jarang diantara kita yang percaya pada maklumat Allah tentang dunia maka Allah pun mempasrakan pada para hamba-Nya.

Selain itu Kyai Djamal dalam pengajian kali ini juga memaparkan sebuah hikayat para sufi sebagaimana dalam lanjutan dialeka kali ini, simak.

( Kala Pelacur Jatuh Cinta )

Diceritakan suatu ketika ada seorang pemuda yang alim. Hidupnya pun ia habiskan sebagai abdi di sebuah mushollah. Pemuda tersebut selalu menjaga matanya dari barang-barang buruk yang sarat tipu daya dunia.

Suatu hari di sekitar mushollah tersebut tampak seorang wanita yang setiap sore datang ia selalu duduk di depan teras rumahnya. Tentu perilaku wanita tersebut adalah mengumbar nafsu untuk mencari pelanggan yang mau menjadi pelanggan untunya, tentu dengan dalih mencari keuntungan harta pula atas perbuatan asusila tersebut. Didepan ia duduk ditulis pula tulisan diatas papan berisikan tarif minimal permainan, dalam hal ini ia memasang harga 10 dinar untuk satu permainan.

***
Suatu hari si pemuda alim penunggu mushollah tersebut jalan-jalan keluar dari mushollah. Nah, tibalah kejadian saat ia berjumpa dengan pelacur yang sedang mencari pelanggan di teras rumah tersebut. Tentu dengan penampilan yang seksi dengan menampilkan bagian tubuh eksotis sebagai daya tarik mencari pelanggan.

Namanya laki-laki tentu normal bila ia tergoda dengan nafsu wanita jika imannya terbobol. Termasuk berlaku pula bagi si pemuda alim penunggu mushollah.

“ Dik, Itu di jual atau tidak ? ”, tanya si pemuda menunjuk bagian tubuh si pelacur.

“ 10 dinar untu satu permainan”, jawab si pelacur.

“ Oke, lantas kapan waktunya ?”

“ Malam ini sebenarnya jadwal ku penuh pesanan laki-laki lain. Tapi khusus untuk engkau tak apa bolehlah untuk malam nanti”, tandas si pelacur.

Si pemuda pun girangnya bukan kepalang segeralah ia membayar uang muka kepada si wanita perihal jasa yang akan didapatnya malam nanti. Sisanya ia bayar nanti usai mendapat jasa si wanita pikirnya.

Saat malam hari tiba segeralah si pemuda menuju rumah si wanita atas perjanjian awal.  Segeralah pula ia menemui si wanita di kamar rumah tersebut. Dua insan sejoli tersebut pun melepas pakaian masing-masing guna segara melakukan adegan asusila.

Atas izin Allah si pemuda penjaga mushollah tersebut mendadak terkejut dengan penampilan moleknya tubuh si wanita tanpa busana. Si pemuda tersebut pun pingsan tak sadarkan diri. Si wanita pun bingung tentang apa yang terjadi dengan si pemuda.

Saat sadar si pemuda tersebut pun lari pergi meninggalkan si wanita pelacur, tak lupa juga ia bayar lunas semua biaya pada si wanita walau pun ia mengurungkan niatnya bermain aksi dengan si wanita di ranjang.

Melihat tingginya iman dari si pemuda tersebut, sang wanita pun luluh hatinya dengan sikap jantan dan keteguhan hati si pemuda. Dia pun menyesal dan menutup semua bisnis prostitusinya. Malah ia semakin kagum dengan sikap bijak si pemuda, dan malah tergugah untuk menjalin hubungan halal dengan si pemuda penjaga mushollah. Begitu juga si pemuda yang menyesal hingga tak beranjak dari majlis dzikirnya, apalagi keluar dari lingkungan mushollah.

Disisi lain si wanita pelacur yang bertaubat menyuruh tetangganya untuk mendatangi si pemuda guna menyampaikan perihal kagumnya perangainya hingga rencana pelamaran. Si pemuda pun tak memberian respon berarti dan ogah menjumpai si wanita, karena merasa berdosa atas niat perbuatan yang hendak dilakukan. Si wanita pun sangat bersedih atas kenyataan bahwa kagumnya bertepuk sebelah tangan,  meski sebenarnya ia paham bahwa apa sesungguhnya alasan Si pemuda yang “mem-php” si wanita. Kesedihan hati efek beratnya rindu yang tak bertemu dari si wanita tersebut mengakhibatkan sakit parah bagi si wanita. Semua tentu gegara pola hidup yang amburadul efek pikiran yang kacau, tak bersua untuk melampiaskan permohonan maaf pada seseorang yang dikaguminya.

Disisi lain ternyata wanita tersebut mempunyai kakak yang terbilang perilakunya sangat berbanding terbalik dengan sikap asal si adik yang awalnya sebagai pelacur. Kepedulian pada adiknya inilah yang mendorongnya untuk menemui si pemuda penjaga mushollah untuk meyampaikan kabar sebenarnya yang terjadi pada adiknya, termasuk kondisi terkini si adik yang sakit parah.

Segeralah si pemuda bergegas menuju rumah wanita yang pernah ditemuinya, tentu bersama kakak dari wanita bekas pelacur tersebut. Namun skenario dari Allah berkata lain, saat sampai di rumah ternyata si wanita tersebut sudah dipanggil oleh Allah. Hasilnya si pemuda tersebut pun menyesal atas tindakan penolakannya untuk berjumpa dengan si wanita kala itu.  Sebagai perhohonan ma’af  si pemuda tersebut pun mempersunting si kakak dari wanita tersebut yang memang berperangai baik pula. Hingga mereka berdua dikaruniai Sembilan anak yang kesemuanya alim-alim. (End)

***

Dalam hikayat diatas dipungkasi penyinggungan tentang topik anak. Nah, berkenaan dengan anak sendiri Kyai Djamal menyebut bahwa anak merupakan rizki yang tak ternilai. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad Saw yang disinggung Kyai Djamal yang artinya; “ Barang siapa yang mempunyai anak. lalu anak tersebut diajari membaca Al Qur’an hingga si anak senang membaca Al Qur’an pula. Maka orang tua tersebut di akhirat akan mendapatkan mahkota yang cahayanya melebihi cahaya matahari. Lalu akan diberi pula pakaian dan perhiasan yang harganya melebihi perhiasan di jagat dunia ”. Namun Kyai Djamal juga mewanti-wanti agar anak, harta, dan dunia jangan sampai malah membuat lupa pada Allah Swt.

Selain hikayat tentang pelacur yang bertaubat sebagaimana diatas. Dalam pengajian kali ini Kyai Djamal juga memaparkan beberapa hikayat lain berkenaan dengan perihal anak, simak.

( Khasiat Anak Yang Membaca Al Qur’an)

Disuatu daerah ada seorang gubernur yang berperangai sangat jahat dan lalai. Namun ketika ia sekarat ia sempat berwasiat pada istrinya yang sedang mengandung. “ Istriku jika anak kita kelak lahir. Bawalah ia kepada seorang ulama”. Setelah berwasiat gubernur tersebut pun meninggal dunia.

Akhibat perangai buruknya gubernur tersebut pun mendapat siksa dari para malaikat sebagai balasan perbuatannya. Disisi lain setelah beberapa tahun saat si anak gubernur tersebut besar dan suka membaca Al Qur’an pula. Maka Allah pun menyuruh para malaikat untuk menghentikan siksaan pada si gubernur.

Salah satu malaikat bertanya, “ Ya Rabbi, mengapa siksa gubernur lalai tersebut harus diberhentikan ? ”

Allah Swt pun berfirman, “ Aku malu menyiksa orang yang anaknya suka membaca Al Qur’an”.

(End)

***

Lalu berkenaan dengan petunjuk, menurut KH. Moh. Djamaluddin Ahmad sebagaimana disinggung dalam pengajian bahwa seseorang jia diberi petunjuk dari Allah itu cara menagkapnya bermacam-macam. Ada yang menangkapnya seperti mangkok yang terbuka, atau malah seperti mangkok terbalik. Ada mangkok yang lobangnya besar, ada pula yang berbentuk kecil.

Mangkok yang berdiri (terbuka) itu seperti hatinya orang yang beriman, yang selalu mendapat hidayah oleh Allah, bak air hujan yang mengguyur mangkok terbuka tersebut. Otomatis mangkok terbuka tersebut akan dipenuhi oleh air hasil guyuran hujan. Ada pula mangkok yang miring sehingga daya tampung air hujan pada mangkok akan sedikit. Disisi lain yang lebih parah adalah mangkok yang tengkurap (tertutup), tentulah mangkok tersebut akan sulit mendapat air guyuran hujan. Mangkok jenis ini laksana orang kafir yang sulit menerima hidayah dari Allah Swt.

Perihal hidayah sebagaimana metafora mangkok diatas oleh Kyai Djamal dijustifiaksi dengan sebuah hikayat sufi tentang kakak beradik beda nasip, si adik senantaisa mendapat hidayah sedang si kakak tak mendapatkannya, simak.

Pencarian Tuhan Pemeluk Majusi)

Dimasa sufi Malik Bin Dinar hidup diceritakan ada kakak beradik yang beragama Majusi (penyembah api). Suatu ketika si adik mendapat hidayah dari Allah Swt hingga terbesit sebuah tanda tanya pencarian jati dirinya.

“ Kang, kita selama ini telah setia menyembah api bertahun-tahun. Coba tangan kita masukkan ke dalam api. Jika ternyata panas berarti apa bedanya dengan orang yang tidak menyembah api. Toh bukankah tuhan akan selalu menolong pada hambanya yang setia. Jika nantinya panas maka kita cari saja tuhan lain”, kata si adik pada kakaknya.

Sang kakak pun mengiyakan maksud si adik, segeralah ia membuat perapian. Lalu kedua saudara tersebut pun memasukan tangan mereka ke api yang menyala. Nyatanya kedua saudara tersebut mendapati kesakitan luar biasa akhibat panas api yang begitu membara.

Peristiwa tersebut itulah yang mendorong kedua saudara tersebut merasa dipermainan dengan tuhan mereka, hingga bermaksud mencari kebenaran tentang tuhan yang sebenarnya. Hingga keduanya pun mendengar kabar tentang agama Islam. Puncanya mereka berdua berencana pergi ke majlis sufi bernama Malik Bin Dinar guna mencoba mendalami tentang hakekat ajaran agama Islam. Namun si kakak tiba-tiba berubah fikiran, ia mengurungkan untuk mendalami ajaran Islam karena takut mendapat celaan dan dibenci oleh sanak keluarga yang beragama Majusi.

Tampaknya hanya si adik saja yang tergugah hatinya untuk mendalami Islam. Ia pun mengajak Istri dan anaknya menjumpai Malik Bin Dinar. Usia bertemu Malik Bin Dinar, ia dan keeluarhanya pun memutuskan untuk memeluk agama Islam dan meninggalkan tradisi dan kepercayaan asal usulnya.

Pasca itu pula mereka bermaksud kembali ke kampung halaman, melewati hutan dan padang rumput liar. Karena terselip akan di cela oleh para warga perihal keluarnya dari kepercayaan Majusi, maka mereka pun memutuskan untuk tinggal sementara di sebuah rumah kosong tak berpenghuni yang ditemui. Meski rumah tersebut sebenarnya sangat tidak layak huni.

Hingga suatu ketika mereka semua merasa kelaparan, wajar saja semua kebutuhan habis selama diperjalanan. Apalagi tak semua barang kebutuhan pokok yang dibawahnya dari kampung halaman.

Karena takut istri dan anak-anaknya memutuskan kembali ke kampung halaman dan menjadi menganut kepercayaan awal, seketika itu pula lelaki ketua keluarga tersebut memutuskan untuk mencari sebuah pekerjaan di kota. Namun takdir berkata lain, berbagai orang ditemuinya agar ada yang sekiranya menerimanya sebagai pekerja namun tak ada satu pun yang menerimanya.

Si adik tersebut pun hampir frustasi, seketia itu pula ia menguji kebenaran keyakinannya tentang Tuhan yang maha menolong umatnya yang kesusahan. Hasilnya ia pun malah memutuskan pergi menuju masjid dan bermuwajaha kepada Allah Swt tentang hal yang menimpa keluarganya.

Disisi lain saat ia meninggalkan kelurganya, tiba-tiba istrinya yang ada dirumah didatangi seorang pemuda berparas tampan dan memberikan 1000 dirham pada mereka.
“ Aku adalah utusan dari juragan yang menjadi juragan dari suamimu juga. Suamimu telah beerja maksimal maka kalian layak mendapat upah”, kata pemuda asing tersebut.

Si istri pun gembira bukan kepayang, diterimanya uang tersebut dengan tak lupa mengucap terima kasih walau pun ia lupa menayakan perihal siapa nama utusan tersebut, termasuk apa pekerjaan dari suaminya.

Setelah itu segeralah si isteri pergi ke pasar guna membeli berbagai makanan dan kebutuhan harian. Saat dipasar sebuah keanehan terjadi dimana satu dirham yang ditimbang oleh pedagang berobot dua misqal lebih. Padahal biasanya satu dirham itu jika ditimbang berkisar sama dengan satu misqal saja. Pada dirham tersebut tertulis kata “ Hadiah dari akhirat”.

***
Disisi lain karena takut mengecewakan keluarganya saat pulang. Si suami pun mengambil pasir dan dibungkusnya pasir tersebut dalam sebuah kantong. Sesampainya di rumah ia terkejut mendapati suara istrinya tertawa bahagia, terbesut setitik fikiran kotor bahwa istrinya telah selingkuh dengan orang lain.

Saat pintu dibuka ternyata kekhawatiran tersebut tertolak, malah didapati olehnya aneka makanan dan kebutuhan pokok di meja. Si suami tersebut pun herannya bukan kepalang dari manakah semua barang-barang tersebut. Karena agar tidak terjadi kecurigaan si suami pun menanyakan dengan lembut perihal asal barang-barang tersebut. Segeralah pula si istri menjelaskan kronologis barang-barang tersebut yang memang adalah barang yang dibelinya di pasar dari uang pemberian juragan suaminya.

Si suami pun kembali dibuat tercengang dengan kejadian aneh tersebut, apalagi ketika si istri bertanya padanya tentang apa barang ada dikantong yang dibawahnya tersebut. Seketika si suami diam tak memberikan jawaban, takut mengecewakan jika berkata jujur.

Karena tak mau membuka kantong tersebut, si istri pun meyerobot kantong tersebut, dilanjut membukanya.

“ Baik sekali engkau bawa Tepung !!!”, kata si istri.

Saudara muda tersebut pun tak habis pikir dengan berbagai keajaiban yang menimpanya tersebut. Seketika terlintas bahwa kejadiann tersebut ada kaitannya dengan munajatnya pada Allah Swt kala itu. Ia pun semakin mantap memeluk Islam sambil mempelajari dengan sungguh tentang berbagai tuntunan agama tersebut. Tak lupa juga ia bersama istri dan anak-anaknya menyukuri aneka rahmat dan hidayah Allah Swt yang didapatnya dihari itu.

(End)

----- *** -----

Catatan:

Tulisan ini merupakan hasil mermakan dari resuman pribadi namun tak merubah substansi pengajian kala itu. Dimana tulisan asli sebenarnya dibuat pada:

Tanggal                            : 05 April  2010
Tempat                             : PP. Bumi Damai Al Muhibbin Tambakberas Jombang
Sumber Pengampu           : KH. Moh. Djamaluddin Ahmad
Peresume                          : Rizal Nanda Maghfiroh


Tidak ada komentar

Terima kasih atas masukan anda.