Menyoal Peradaban Literasi Bahrul 'Ulum



Sebenarnya tulisan ini bisa dibilang curahan hati, atau mungkin kegundahan menghadapi fenomena perang pengaruh identitas di Neo demokrasi. Penulis menambahkan istilah "Neo" karena memang demokrasi kekinian kini terjangkit globalisasi hingga berevolusi menjadi demokrasi virtual pula.

Imbasnya serba serbi perang pengetahuan antar identitas pun menjadi fenomena yang tak bisa dielakkan. Memproduksi sebuah produk sumbangsih gagasan pun menjadi sebuah keniscayaan yang harus diperjuangkan.

Disinilah perlunya sebuah literasi penunjang sebagai sebuah sumber pengkonstruk produk pengetahuan. Apalagi budaya berliterasi dengan aneka gagasan terbilang sudah tergeser dengan budaya narsisme mengeksiskan diri dalam jagat virtual.

Sebagai santri alumni Tambakberas yang hanya menghabiskan waktu selama tiga tahun. Mungkin dialek ini terbilang kurang layak. Apalagi pengetahuan dan pengalaman pribadi penulis terbilang jauh dari kata baik, mendekati kata cukup pun tidak. 

Namun disadari atau tidak bahwa hemat penulis Pesantren Tambakberas selama ini memang sangat minim sekali terkait pembudayaan literasi keilmuan. Bukan meragukan keilmuan para santri produk kelembagaannya, toh banyak para santri yang kerap menjuarai berbagai ajang perlombaan antar jagat sekolah. 

Pembudayaan literasi keilmuan yang penulis singgung disini berkaitan erat dengan esensi sebuah budaya sendiri. Yang memang budaya sendiri merupakan sebuah produk hasil cipta, rasa, dan karsa. 

Disadari atau tidak bahwa hal di atas memang terbilang minim. Lima tahun yang lalu tatkala penulis masih berkutat dalam jurnalistik di HIMMABA, pribadi pernah menemukan sebuah artikel postingan MMA berjudul "Dimanakah perpustakaan Bahrul 'ulum". Dengan kritik tajam pada pihak stekholder lokal yang memang kerap lebih gemar membangun sebuah fasilitas fisik, seperti Kolam Renang, Gedung serba guna, hingga Gedung aula. 

Namun ternyata sampai beberapa hari lalu tatkala pribadi berkunjung ke Tambakberas. Masih belum terbangun juga perpustakaan pesantren seperti harapan si penulis artikel dari si pelajar MMA.

Bukankah beberapa komplek pondok sudah ada yang menyediakan perpustakaan. Memang pribadi belum bisa menilai ada atau tidaknya. Kalau ada mungkin itu hanya sebatas ruangan penampung buku bagi kalangan yang butuh inspirasi. Tapi yang pasti pribadi saat pribadi berkeliling pesantren. Pribadi belum juga menemukan sebuah perusahaan pesantren yang dihendel langsung oleh pihak yayasan.

Sebegitu pentingkah hal tersebut, memang era virtual memudahkan orang untuk mengakses informasi secara faktual, baik dari situs berita, media sosial, hingga ebook yang tak karuan tersebarnya. Namun bukankah adanya sebuah perpustakaan pesantren merupakan salah satu indikator terciptanya pembudayaan literasi keilmuan. Sepertihalnya masa golden age Abbasiyah dengan Baitul hikmahnya.

Itu baru perpustakaan pesantren, belum instrumen penunjang pembudayaan keilmuan lain, semacam adanya lembaga pengembangan ilmu pengetahuan yang mampu memfasilitasi dalam pembuatan sebuah produk keilmuan. Bisa berupa penerbitan produk buku atau hal sejenis lain.

Memang sebenarnya sudah ada beberapa penerbit lokal, namun disadari atau tidak bahwa cakupan penerbitan tersebut memang terpisah. Alias inisiatif pondok tertentu sebut saja seperti Pustaka Al Muhibbin, Al Amanah, dan lain sebagainya. Itupun hampir mayoritas yang menjadi sasaran adalah produk karya jajaran Masyayikh dan para guru.

Setidaknya buku antologi Tambakberas  yang terbit "indie" beberapa waktu lalu mungkin menjadi sebuah oase. Pertanyaannya apakah gebrakan tersebut akan berhenti di titik tersebut saja.

Dalam hal ini apakah akan ada produk literasi yang kembali terlahir dari pesantren Bahrul 'Ulum Tambakberas, yang mana gebrakan tersebut bukan hanya dinikmati dan di optimalisasi oleh karya karya para masyayikh dan ustadz ustadzah. Melainkan juga para santrinya yang turut serta melahirkan produk pembudayaan literasi. 

Nah, disinilah perlunya sebuah introspeksi bersama oleh para stekholder pesantren Bahrul 'Ulum. Bukan hanya jajaran eksekutif Yayasan, Yudikatif Majlis pengasuh, atau para santri yang berperan sebagai pihak legislatif.
Sebagai legislatif santri tentu harus berkreasi menciptakan sebuah produk pembudayaan literasi gagasan. Yang juga harus mendapat dukungan pihak Yayasan selaku eksekutor. Serta majlis Pengsuh sebagai lembaga Yudikatif sebagai pengadu tentang berbagai permasalahan dalam Trias Politika ala pesantren.

---
Tambakberas, 03 Maret 2018





Tidak ada komentar

Terima kasih atas masukan anda.