Spesial Rajabiyyah 2018, Temu Alumni Bareng Kyai Djamal


Seperti agenda pada bulan Rajab pada umumnya, Pesantren asuhan KH. Moh. Djamaluddin Ahmad Tambakberas Jombang selalu ajek mengadakan event Temu Santri Alumni sebagai rangkaian kegiatan peringatan Rajabiyyah. Kali ini ajang kegiatan sillaturrahmi Kyai-Santri tersebut dilaksanakan tepat pada Senin (26/03/18).

Sebuah Sambutan Nostalgia.

Melalui rangkaian dialeka ini penulis ingin menyampaikan beberapa poin penting berkenaan tentang nilai tambah kegiatan Temu Santri Alumni. Tentu tujuannya tiada lain adalah sebagai media penyambung informasi perihal kajian untuk direkam dalam bentuk tulisan ketikan.

Acara pertemuan bersama KH. Moh. Djamaluddin Ahmad diawali dengan sambutan Gus Syaiful Hidayat selaku panitia pelaksana. Tentu isinya adalah penyataan ucapan terima kasih pada para santri alumni yang berkenan hadir. Baru setelah itu berlanjut pada sambutan perwakilan alumni yang berisikan kesan dan pesan tentang "nyantri" bersama Kyai Djamal.

Ustadz Moh Yusuf Ali yang merupakan salah satu santri periode pertama pun didaulat sebagai perwakilan alumni untuk beraudiensi didepan forum pertemuan. Dalam audiensinya Ustadz Moh Yusuf Ali mengutarakan nostalgia bimbingan Romo Yai Mohammad Djamaluddin Ahmad jaman lawas.

Kala itu Kyai Djamal saat masih berada di "Ndalem" utara, beliau baru mendidik santri sebanyak lima belas santri. Dimana salah satunya seperti; Kyai Imran Djamil, Mbah Yai Bolong, hingga Ustadz Moh Yusuf Ali sendiri. 

Salah satu hal menarik berkaitan dengan bimbingan dari Kyai Djamal sebagaimana dikatakan Moh Yusuf Ali adalah perihal memberi kepercayaan pada para santri akan sebuah tanggung jawab sebagai basis pelatihan. Seperti Kyai Imran Djamil yang kerap dipercayai untuk menjadi mubaddil pengajian Kyai Djamal, atau pemberian tanggung jawab Ustadz Moh Yusuf Ali sebagai bendahara pemegang syahriyah Pondok. Padahal beberapa santri saat itu rata rata masih berada di bangku kelas 2-3 Madrasah Tsanawiyah.

Ustadz Moh Yusuf Ali juga kembali menyinggung kesan di bimbing Kyai Djamal. kali ini terkait tindakan Kyai Djamal yang kerap mengajak para santri beliau untuk bersama sama ikut berkontribusi dalam sebuah permasalahan pondok dengan diselingi pembiasaan religius. Sebut saja seperti perkataan Kyai Djamal saat menghadapi defisit uang pembangunan pondok, " Duwite Saiki Entek, saiki ayo Bismillah bareng " (Uangnya sekarang Habis, sekarang mari Bismillah bersama).

Kyai Djamal menurut Ustadz M. Yusuf Ali juga sering pula "mewanti-wanti" para santri untuk memperhatikan perihal status sebuah barang; haramkan, halalkah, atau bahkan subhat. Persis seperti nasihat beliau pada Pak Yusuf Ali kala mencampur uang sisa pembelian material proyek pembangunan dengan uang milikinya sendiri dalam sebuah dompet.

Seketika itu Kyai Djamal sontak memarahi Pak Yusuf usai mengetahui bahwa uang kas pembangunan telah tercampur dengan uang pribadi Pak Yusuf. Tentu semua itu dilakukan Kyai Djamal semata mata untuk memberi penegasan pembelajaran perihal hati hati terhadap sebuah status kepemilikan sebuah barang yang bukan milik sendiri.

Terakhir sebelum mengakhiri audiensi alumni, Ustadz M. Yusuf Ali mengutarakan kesan terakhirnya pada bimbingan Kyai Djamal menjelang ia boyongan dari pesantren. Kala itu Kyai Djamal berpesan; 

" Aku ngerti Yen awakmu jarang Ngaji. Tapi ngertio wong ilmune manfaat Ndak perkoro kitab telu lemari. Tapi perkoro ngabdi ikhlas Maring Kyai, ikhlas opo Ndak. Pesanku siji disikno kepentingan masyarakat, Ojo ngutamakne kepentingan pribadi". 

(Aku Tahu kalau engkau jarang mengaji. Ketahuilah orang ilmunya manfaat bukan disebabkan kitab sebanyak tiga lemari. Tapi disebabkan perihal ikhlas apa tidak dalam proses pengabdian kepada Yai. Pesanku hanya satu dahulukan kepentingan masyarakat dibanding mengutamakan kepentingan pribadi).

Mauidhah Romo Kyai Djamal.

Dalam pertemuan santri alumni edisi Rojabiyah tahun 2018 ini, Kyai Djamal bermaksud untuk mengijazahkan dua amalan pada para santri. Sebelum memberikan akad ijazah di akhir mauidhah, Kyai Djamal sedikit me-review nostalgia perjuangan menghidupi pesantren dirian beliau.

Pertama kali Romo Kyai Djamal menceritakan alasan utama mengapa beliau mendirikan berbagai pesantren di Tambakberas. Dimana dawuh Sang Guru Kyai Abdul Djalil Mustaqim Tulungagung pada Kyai Djamal menjadi ta'dhim utama yang harus dilakukan, tak perduli sulitnya berbagai rintangan yang menjadi jadi.

Adapun pertama yang didirikan oleh Kyai Djamal sebagaimana himbauan Kyai Abdul Djalil Mustaqim bukanlah sebuah pesantren. Melainkan sebuah Panti Asuhan Al Fattah (Sekarang: Ma'had Al Yatama Al Fattah) yang didirikan di tahun 1977. Meski secara resmi berdasar akta notaris dikatakan bahwa pendirian PA Al Fattah berdiri di tahun 1982.

Diawal masa itulah datang seorang santri pertama Kyai Djamal dengan diantar kedua orang tuanya. Santri tersebut tiada lain adalah Kyai Imran Djamil (Pengasuh PP Kyai Mojo) saat masih kecil. Atas dasar dawuh Kyai Djalil agar tidak menolak orang yang minta ngaji, pada akhirnya Imran Djamil kecil pun diminta ditinggal di kamar depan ndalem Utara Kyai Djamal sendiri. Karena saat itu memang belum tersedia bangunan kamar kamar sebagai penampung para santri.

Setelah kedatangan Imran Djamil kecil lambat laun datang pula santri baru yang nyantri seperti; Pak Bazar, Pak Abdul Hamid, hingga Mbah Bolong. Terbatasnya kamar  membuat sebagaian santri harus tela ditempatkan pula di panti asuhan Al Fattah juga.

Banyaknya santri yang mengaji pada Romo Kyai Djamal pada akhirnya membuat beliau mengambil gebrakan alternatif. Yakni rencana mengembangkan pesantren ke daerah Tambakberas selatan. Apalagi di tahun 1990 Yai Djamal sudah mengantongi sebuah petak lahan tanah yang nantinya akan di permak menjadi sebuah pesantren.

Bi Idznillah, rencana Kyai Djamal tak bertepuk sebelah tangan. Akhirnya di tahun 1991 berdirilah Pesantren Al Muhibbin dengan dibangun bangunan awal Masjid Al Muhibbin dan Ribath Al Hanafi. Hingga di tahun 1994 secara resmi pesantren Kyai Djamal yang ada di Utara diboyong ke lokasi terbaru, yang kini ditempati Kompleks Pesantren Al Muhibbin dan Pesantren Putri Al Mardliyyah.

Uniknya pemindahan lokasi baru tersebut bertepatan dengan bulan Rajab, yang kini diplot sebagai peringatan hari lahir pesantren asuhan Kyai Djamal dengan merangkap peringatan agenda Rajabiyyah. Saat itu juga sudah dilaksanakan rangkaian pernikahan massal dengan dua pasang mempelai.

Usai memindah pondok ke selatan sebagaimana maklumat Kyai Abdul Djalil Mustaqim. Kyai Djamal pun tak statis, karena memang beberapa tahun kemudian Kyai Djalil Mustaqim kembali bermaklumat kepada Kyai Djamal agar kembali mendirikan pesantren lain. Hasilnya berdirilah Pesantren Putri Al Mardliyyah (1998), Al Ikhlas (2000), hingga maklumat membangun Masjid Cangkring (2003) yang kini juga sudah terdapat sebuah komplek Madrasah.

" Ini semua semata mata perintah Kyai, bukan kehendak saya sendiri ", tutur Kyai Djamal melanjutkan dialeka.

Malah sebelum Kyai Djamal membangun masjid Cangkring, beliau justru diperintah Kyai Abdul Djalil Mustaqim untuk hijrah dari Tambakberas menuju 100 meter ke arah selatan (Sambong). Padahal saat itu Kyai Djamal sudah menyiapkan rencana untuk membangun "ndalem" di selatan Pesantren Bumi Damai Al Muhibbin.

Ada yang menarik dari pengakuan Kyai Djamaluddin Ahmad dalam petuahnya. Dimana setiap hendak membangun bangunan di atas bidak tanah, Kyai Djamal menyempatkan untuk duduk di bagian tengah lalu membaca amalan Dalailul Khairat. Tentu itu dilakukan untuk mengurangi segala hambatan dan rintangan yang berarti dalam proses pembangunan.

Berkenaan dengan amalan Dalailul Khairat sendiri ada sebuah hikayat pribadi dari Kyai Djamal. Kala itu memang Kyai Djamal sewaktu masih muda sudah menjadi rujukan untuk mengijazahkan amalan Dalailul Khairat. Itu mengacu fenomena Kyai Fatah Hasyim yang kerap kali menolak permintaan orang untuk mengijazahkan amalan Dalail. Oleh Kyai Fatah Hasyim malah menghimbau orang untuk menemui Kyai Djamal apabila meminta ijazah Dalailul Khairat. 

Hasilnya pun membuat Kyai Djamal kerap dikritik dan dioposisi oleh beberapa Kyai Tambakberas lain yang menganggap Kyai Djamal terlalu dini mengijazahkan amalan Dalailul Khairat. Sontak Kyai Djamal pun memutuskan untuk meminta nasehat Guru beliau Kyai Abdul Djalil Mustaqim Tulungagung.

Uniknya walau belum terucap dalam lisan Kyai Djamal, Kyai Djalil sudah mengetahui maksud Kyai Djamal perihal permasalahannya dengan Dalailul Khairat. "  Yai Djamal Dalailul Khairat nya dilanjutkan saja. Bapak saya juga senang Dalail ", papar Kyai Djalil Mustaqim.

Bukan hanya itu ujian yang menimpa Kyai Djamal, perihal pengajian Hikam yang dimulai (1994) juga memunculkan berbagai tuntutan dari Jama'ah Hikam tentang upaya pengembangan. Salah satunya adalah usulan untuk merekam setiap pengajian yang diisi Kyai Moh. Djamaluddin Ahmad. Namun sekali lagi Kyai Djamal memberikan sebuah tauladan tentang urgensi hubungan intensif Guru (Mursyid) dengan murid.

Kyai Djamal tak langsung mengiyakan permintaan tersebut. Melainkan mengkonsultasikannya dengan Guru beliau Kyai Djalil Mustaqim. Adapun respon Kyai Abdul Djalil Mustaqim sendiri menyambut positif, " Kyai Djamal, Direkam tidak apa apa karena mengaji kalau hanya sekali mudah lupa. Tapi kalau direkam dapat didengar berulang ulang untuk mengingatnya ".

Hasilnya sejak saat itu setiap pengajian Al Hikam asuhan KH. Moh. Djamaluddin Ahmad di Bumi Damai Al Muhibbin pun direkam menggunakan kaset pita hingga berjalan sepuluh tahun (2005). Sebuah Kaset pita hanya dapat menampung sebuah pengajian Al Hikam yang durasinya kurang lebih 90 menit. 

Alasan itulah yang menyebabkan perlunya sistem baru dalam perekaman pengajianm lalu sejak 2005 barulah perekaman pengajian Al Hikam Romo Kyai Djamal dialihkan dari media kaset pita menjadi CD piringan. Bahkan hingga kini tradisi pengembangan tersebut tetap Istiqomah. Adapun untuk satu keping CD kurang lebih berisi lima kali pertemuan, sehingga ini akan lebih mengurangi pengeluaran pembuatan serta mempermudah bagi jamaah Al Hikam.

Pernah suatu ketika muncul lagi sebuah tawaran pengembangan Pengajian Al Hikam Kyai Djamal oleh salah satu Jamaah. Dimana ia mengusulkan agar rekaman pengajian bukan hanya berupa suara Audio saja, melainkan di permak menjadi audio visual alias video pada umumnya.

Sontak hal tersebut juga tak langsung disetujui oleh Kyai Djamal. Kembali beliau meminta pendapat pada Kyai Abdul Djalil Mustaqim Tulungagung selaku sang guru. Namun kali ini Kyai Djalil menolak perihal perekaman dengan video, cukup audio saja seperti semula.

Disisi lain menurut pengakuan Kyai Djamal dalam forum alumni. Bahwa alasan utama yang menjadikan Kyai Djamaluddin Ahmad juga merangkap sebagai penulis hasil kajian tasawuf yang dicetak kedalam buku buku pustaka Muhibbin adalah juga perintah Kyai Abdul Djalil Mustaqim. 

Saat itu Kyai Djalil menyuruh Kyai Djamal untuk membukukan hasil pengajian Hikam dengan disertai kutipan ayat Qur'an dan Hadits. Hasilnya setelah itu terbitlah buku pertama Kyai Djamaluddin Ahmad berjudul "Thoriqoh Illallah (Jalan Menuju Allah), yang dalam edisi terakhir dipermak dengan kata pengantar Kyai Saladdin Tulungagung, Mursyid Thariqah Syadhiliyyah sekaligus putra Kyai Djalil Mustaqim.

Terkait dengan buku terbaru Kyai Djamal "Tashawuf Ammaliyyah" yang dilaunching tepat pada temu alumni, Senin (26/03/18). Sebenarnya buku tersebut sudah jadi enam tahun lalu, namun karena ragu akan baik buruk jika diterbitkan akhirnya Kyai Djamal urung mencetak buku tersebut.

Namun karena desakan beberapa pihak seperti beberapa dosen tasawuf di UIN Sunan Ampel Surabaya. Akhirnya perlahan buku tersebut diketik ulang, dan bi Idznillah tahun 2018 sekarang buku berisikan gambaran umum tasawuf keseharian tersebut berhasil dibukukan oleh Pustaka Al Muhibbin.

Kembali perihal ijazah Kyai Djamal yang dalam temu alumni (26/03) mengijazahkan dua amalan. Pertama adalah "Mahabbah Ammah" atau pelunak hati. Disini penulis ditindak mencantumkan lebih detail kaifiyah amalan tersebut. Karena memang sifat amalan yang merupakan ijazah, jadi atas nama ta'dhim pada Romo Yai Djamal maka penulis urung mencantumkan amalan gegara tiada izin. Adapun ijazah kedua adalah amalan Yaumiyah berisikan wirid yang menurut Kyai Djamal persis seperti anjuran Imam Ghozali dalam salah satu kitabnya.

Berkenaan dengan ijazah pertama, semula penulis dan beberapa teman seperjuangan yang hadir di majlis mencandakan bahwa ijazah pertama yang sarat mahabbah ini memang diperuntukkan untuk kalangan para lajang yang belum mempunyai pasangan, atau para suami yang ingin mendapatkan hal lebih dari sang istri. Tapi Romo Kyai Djamal memaparkan hal yang lebih terkait amalan tersebut sebagai tangan kanan. Tentu disertai juga dengan penjelasan kronologis Kyai Djamal mendapatkan amalan bersertifikat (Ijazah) tersebut.

Dalam penjelasannya Kyai Djamal kembali mereview napak tilas perjuangan luar biasa dalam mengembangkan keilmuan. Bahkan hingga Kyai Djamal diberi mandat oleh sang guru Kyai Abdul Djalil Mustaqim untuk mendirikan berbagai pesantren dalam tiap kurun waktu tertentu. 

Sebagaimana menurut kyai Djamal ada sebuah tindakan Aksi tentulah juga ada sebuah reaksi (umpan balik) dari beberapa kalangan. Termasuk penyikapan terhadap berbagai langkah dakwah yang dilakukan Kyai Djamal sendiri. Bahkan reaksi yang muncul kadang malah bernuansa negatif seperti Fitnah yang tiada henti menyerang Kyai Djamal. 

Termasuk saat Kyai Djamal membangun Pondok Al Muhibbin di selatan di awal tahun 90-an. Saat itu bahkan marak poster ditembok, pamflet, dan tulisan di pohon yang berisikan anggapan penghianat kepada Kyai Djamal, Masya Allah.

Begitu juga saat Kyai Djamal membangun masjid cangkring halangan yang menimpa juga tak kalah berat, sebut saja; tuduhan anggota LDII, dimusuhi para pejabat setempat, hingga larangan keras pada Kyai Djamal untuk meminta sumbangan warga sekitar. Namun setelah mengamalkan mahabbah Ammah para kelompok yang semula memusuhi lambat laun justru menjadi tangan kanan untuk membantu membangun masjid hingga selesai.

Sebenarnya tantangan yang datang bukan hanya menyasar pada Kyai Djamal sendiri. Saat itu para santri beliau juga kerap ikut menjadi korban kebencian. Seperti kerapnya beberapa santri Kyai Djamal yang tertimpa musibah. Diantaranya bahkan harus meninggal dunia sewaktu ditinggal Kyai Djamal berpergian; ntah kecelakaan, kesetrum, dan lain sebagainya. 

Menurut Romo Kyai Djamal terbongkarnya kejanggalan yang menimpa para santri bermula dari kedatangan Kyai Maskun. Saat itu Kyai Maskun memberi tahu bahwa di pondok Kyai Djamal terdapat semacam "benda gegawan" dari orang pihak pengumbar kebencian.

Kyai Maskun menunjuk tujuh tempat di area lokasi pesantren agar digali, termasuk didepan gerbang pesantren. Setelah digali ternyata terdapat bungkusan tanah kuncir dengan kain kafan yang ditulis semacam rajah. Dalam bungkusan tersebut juga terdapat semacam tulang belulang jenazah.

Dari halangan rintangan tersebut terdapat tentu sebuah hikmah yang berati, dalam hal ini Kyai Djamal mendapat amalan Ijazah Mahabbah Ammah sebagai senjata melunakkan pihak yang beroposisi. Sebab rintangan itu pula akhirnya Kyai Djamal juga mendapat ijazah wirid pasca sholat maktubah sebagaimana diamalkan di Bumi Damai Al Muhibbin sampai sekarang.

Berkenaan dengan amalan tersebut, sewaktu Kyai Djamal masih nyantri di pondok Selorejo asuhan Kyai Abu Amar. Kyai Djamal menemukan kejadian unik, dimana setiap Al Qur'an kepunyaan para santri ditulis lafadz  بدوح(Budukhun). Imbasnya hubungan para santri dengan kyai Abu Amar ibarat bapak dengan anak yang sangat erat hubungannya. Meski Kyai Djamal saat itu masih belum memahami apa sesungguhnya arti kata بدوح   

Hingga dalam kesempatan lain Kyai Djamal bertanya pada teman seperjuangan Kyai Masruri Berangkal ( Mantan Rais Syuriah Jawa Tengah, wafat di Madinah ) yang juga mendapat ijazah tersebut dari romonya. Ternyata menurut Kyai Masruri bahwa kata Arab budhkhun memang tak ada artinya. Alias kata itu memang tesusun dari gabungan huruf tajwid (Hijaiyah) yang berangka genap asli.

Menurut Kyai Masruri arti kata redaksi arab budhkhun menyandang fungsi tersirat, yaitu "kanggo jodohne atine deweke nak atine kene " ( untuk menjodohkan hatinya seseorang dengan hati kita ).

Kyai Djamal juga mengaku pernah didatangi salah satu santri dengan keadaan menangis. Ketika ditanya mengapa ia menangis ternyata sebabnya adalah ibu dan bapaknya kerap bersitegang. Kyai Djamal pun memberikan ijazah Mahabbah Ammah untuk diamalkan si santri. Ajaib tujuh hari diamalkan hubungan ibu dan bapak si santri tersebut membaik, malah terlihat seperti pengantin baru.

Sebelum memungkasi forum pertemuan alumni Romo KH. Moh. Djamaluddin Ahmad menceritakan hikayat lain berkenaan pengalaman beliau dalam mendidik anak. Namun disini bukan dialami kyai Djamal sendiri melainkan paman dari ibunya Kyai Djamal.

Dulu terdapat seorang bernama Syekh Tajuddin yang kerap muncul tiba tiba. Tak tahu datang dari mana dan lenyap ntah ke mana. Adapun syekh Tajuddin kerap datang ketika menjumpai anak nakal sedang bersitegang dengan orang tua. 

Suatu saat pamannya ibu Kyai Djamal sedang menganiaya (memukul) anaknya yang nakal. Seketika itu muncul Syekh Tajuddin ntah dari mana. Fisiknya besar tinggi, kulit sawo matang, dan memakai jubah semakin membuat orang terpaku dengan pesan dari Syekh Tajuddin.

"Anaknya jangan dihajar, kasihan.", Kata Syekh Tajuddin.

" Ibu dan Bapaknya kesini", perintah Syekh Tajuddin.

"Kalau anaknya nakal bandel jangan di pukul. Tapi wethon kelahirannya harus dipuasai ibunya. Sedang kalau ibunya udzur dapat diganti oleh bapaknya yang puasa. Lalu kalau malam hari tiba jangan lupa shalat hajat sambil membaca Surat Al Fatihah sebanyak 41 kali. Berdoalah agar anakmu jadi anak Sholeh", kata Syekh Tajuddin panjang lebar lalu ntah pergi kemana dan menghilang.

Setelah maklumat tersebut diamalkan. Bi Idznillah akhirnya anak nakal tersebut ternyata kini menjadi seorang Kyai juga. 

Sementara dalam versi Kyai Abdul Djalil Mustaqim sebagaimana di ijazahkan kepada Kyai Djamal. Kaifiyah amalan yang dibaca usai shalat hajat ditambah dengan Surat Yassin sebanyak tiga kali.

(Selesai)



Tambakberas, 26 Maret 2018

(Tulisan Ditulis berdasarkan hasil perbincangan Temu alumni Rojabiyah 2018 dengan sedikit sentuhan penulis tanpa mengurangi esensi)

Tidak ada komentar

Terima kasih atas masukan anda.