Kajian Al Hikam: Keutamaan Maulid Nabi (Bagian Kedua)




Pengajian Al Hikam
KH Moh Djamaluddin Ahmad
26 November 2018

Penjelasan Kyai Djamaluddin

Pengajian Al Hikam kali ini merupakan lanjutkan penjelasan Kyai Djamaluddin tentang Fadhilah Maulid Nabi sebagaimana enam poin sudah dipaparkan Minggu kemarin (19/11/18) (Baca). Dimana Kyai Djamaluddin mengutip Al Atsar para sahabat dan ulama dengan merujuk Al Imam Shihabuddin melalui kitabnya.




Ketujuh, Syekh Junaid al-Baghdadi berkata seputar manfaat merayakan Maulid Nabi, "Barangsiapa yang menghadiri Maulid Nabi dan mengagungkannya, sungguh ia beruntung dengan iman ".

Sebelum memulai penjelasan tentang Qoul diatas, Kyai Djamal memaparkan sekilas tentang urgensi niat dalam sebuah tindakan. Dikatakan bahwa di setiap amal haruslah memakai niat. Seperti hadist Nabi;

ٍعَنْ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى 


Hal diatas berlaku pula dalam niat ketika menghadiri acara peringatan maulid nabi Muhammad Saw. Setiap orang pastinya berbeda beda niat satu sama lain; ada yang niatnya hanya ingin melihat keramaian, ada yang niatnya ingin mengetahui pembica (mubaligh), ada yang niatnya ingin mencari makanan (berkat: Jawa), atau mungkin ada yang semata mata memang ta'dhim pada Rasulullah Saw. Nah, golongan terakhir inilah yang menurut Syekh Junaid al-Baghdadi akan dijanjikan mendapat sebuah iman.

Berkaitan tentang iman, disinggung Kyai Djamaluddin bahwa mati mendapatkan sebuah iman itu benar benar sulit. Orang yang meninggal dunia dengan keadaan beriman terbilang orang yang beruntung (Faza). Alasannya, adalah setiap kali orang hampir meninggal (Naza') maka syetan akan berbondong-bondong  mendatangi orang tersebut. Menggodanya agar orang tersebut tidak membawa iman kala akhir hidupnya (Su'ul Khotimmah).

Ada sebuah hikayat dari Kyai Djamaluddin dalam pengajian kali ini seputar godaan syetan kala seseorang Naza' (hampir meninggal), simak.

( Godaan Syetan Kala seseorang Naza')

Diceritakan Kyai Djamaluddin Ahmad bahwa beliau mempunyai kakek bernama  Abdul Ghofur. Setelah haji berganti nama menjadi Kyai Saiful Huda.

Ada pengamalan menarik dari kakek Kyai Djamal tersebut. Diceritakan oleh Kyai Saiful Huda pada Kyai Djamaluddin Ahmad bahwa beliau (Kyai Saiful Huda) suatu saat pernah hampir meninggal (Naza') namun atas izin Allah beliau urung meninggal dunia.

Dikatakan oleh Kyai Saiful Huda," ketika Kyai Abdul Ghofur hampir Naza', beliau ditemani oleh ibu (Mbok) dan istrinya. Namun mereka perlahan demi perlahan mulai samar tak tampak. Justru hal hal bersifat ghaib yang malah tampak di penglihatan Kyai Saiful Huda.

Tak lama kemudian, Kyai Saiful Huda didatangi oleh gurunya Kyai Mustajab, yang sebenarnya adalah Syetan yang menyamar untuk menggoda keimanan. Sosok yang menyerupai Kyai Mustajab berpesan pada Abdul Ghofur (Saiful Huda)

 "Dulu aku pernah mengajarimu La Illaha illallah (Tiada tuhan selain Allah). Ternyata itu salah, yang benar adalah La Illaha  (Tiada tuhan)".

Berkat pertolongan para hadirat yang senantiasa menuntun lafal La illaha illallah. Akhirnya seketika Kyai Abdul Ghofur mendengar lafal "Allah", seketika itu pula Kyai Abdul Ghofur alias Kyai Saiful Huda terbangun dari status Naza'-nya, dan meminta untuk membantu memberikan wudhu.

Dari pengalaman pribadi Kyai Abdul Ghofur diatas yang diceritakan Kyai Djamaluddin. Disimpulkan bahwa syetan memang benar menggoda manusia kala menjelang kematian. Menuntunnya agar seseorang meninggal tanpa membawa  iman, alias menyandang status Su'ul Khotimmah diakhir hidupnya. (Tamat)

***

Hikayat  kyai Abdul Gaffar diatas inilah yang membuat Kyai Djamal berpesan agar ketika seseorang mengalami Naza' maka haruslah ada seseorang yang menuntun untuk melafalkan lafadz tauhid. 


Namun, Kyai Djamal juga berpesan apabila seseorang yang Naza' tersebut sudah mengucap lafadz tauhid. Maka hendaklah seseorang yang telah membantu melafalkan kalimat tauhid tersebut,  untuk berhenti  dalam membimbing menirukan lafadz tauhid.

Menurut Kyai Djamaluddin target dari upaya diatas adalah agar seseorang yang Naza' benar melafalkan lafadz tauhid. Jika si Naza' sudah mengucap lafadz tauhid dengan benar, maka hendaklah upaya pembimbingan tersebut dihentikan.

Ini disebabkan menirukan lafadz tauhid bagi seseorang yang Naza' itu sangatlah berat dan memayahkan. Dikhawatirkan dengan memaksa untuk senantiasa menirukan lafadz tauhid maka justru akan muncul ucapan lain  dari mulut si Naza'. 

Takutnya setelah mengucap ucapan lain diluar Kalimat tauhid, seseorang Naza' tersebut meninggal dengan tanpa memungkasi lafadz tauhid diakhir hidupnya.

Berkaitan tentang syetan yang selalu menggoda, dikemukakan Kyai Djamaluddin bahwa syetan merupakan mahluk yang mampu untuk menyamar dan menyerupai orang lain. Sebagaimana syetan yang menyamar menjadi Kyai Mustajab mendatangi batin Kyai Abdul Ghofur saat Naza'.

Diceritakan pula dari Syekh Ahmad Shihabuddin bin Salamah Al Qolyasi bahwa Syetan juga mampu menyamar menjadi malaikat untuk menggoda para ahli ibadah hingga mengarahkan menuju Su'ul Khotimmah. Sebagaimana hikayat berikut.

( Ahli Ibadah Mati Su'ul Khotimmah )

Disuatu daerah terdapat dua saudara kakak beradik. Kedua saudara tersebut berperangai berbeda satu sama lain. Si kakak merupakan ahli ibadah yang selalu riyadhin nafs dengan tujuan mencapai derajat Mukasyafah (membuka mata batin). Sedangkan si adik justru gemar bermaksiat; suka mabuk mabukan, suka judi, hingga gemar menyewa pelacur tiap malam.

Dua saudara tersebut tinggal dalam satu rumah. Si kakak berada di lantai atas, sedangkan si adik di lantai bawah.

Suatu ketika si kakak kala beribadah, ia datangi mahluk yang mengaku merupakan Malaikat Allah. Meski sebenarnya mahluk tersebut bukanlah malaikat, melainkan syetan yang sedang menyamar dengan maksud menjerumuskan si ahli ibadah.

" Janganlah engkau menjadi orang yang bahagia di akhirat saja. Orang yang bahagia hanya dia akhirat saja tidaklah sempurna. Yang sempurna adalah bahagia di dunia dan akhirat, seperti adikmu. Aku lihat dari Lauhul Mahfudz umurmu di dunia masih menyisakan 40 tahun lagi. Kalau boleh aku usul 20 tahun pakailah untuk kesenangan dunia sedang 20 tahun untuk bertaubat pada Allah. Bukankah Allah SWT itu Dzat yang maha Ghofur Rahim ", bujuk Syetan yang menyerupai malaikat.

Karena seolah perkataan syetan yang bijak, maka ahli ibadah tersebut pun meneruskan untuk menuruti usulan syetan yang menyamar. Segeralah ia mabuk mabukan dalam kamar, menyewa para pelacur, dan kesenangan dunia lainnya.

Scane berganti pada si adik. Di sisi lain akhibat terlalu banyak mabuk dengan sebelumnya melakukan seks dengan wanita pelacur. Maka si adik pun tak sadar diri berjalan sempoyongan ke pusat kota dengan kondisi tanpa pakaian. Hingga pingsan tak sadar diri, ambruk di pusat keramaian.

Hingga pagi hari menyongsong, kala si adik sadarkan diri. Ia merasa malu luar biasa dengan kondisi tanpa busana di pusat keramaian. Orang orang pun membincang dan menertawainya tiada henti.

Karena merasa malu, si adik pun mengunci diri di kamarnya. Lalu memohon ampun (taubat total) pada Allah atas semua kesalahan yang telah ia lakukan.

Hingga suatu ketika si kakak yang telah ditipu syetan hendak turun menemui si adik untuk bergabung. Sementara si adik juga berniat sama, ia ingin bergabung dengan si kakak untuk bersama beribadah.

Tapi takdir berkata lain, tatkala si kakak baru menginjak tangga pertama dari atas, sementara si adik baru menginjak tangga pertama dari bawah. Mendadak kaki si kakak terpeleset dan terjatuh berguling. Tragisnya, kepala si kakak menimpa kepala si adik yang saat  itu hendak naik ke kamar atas.

Hasilnya kakak beradik tersebut pun seketika itu meninggal dunia. Si kakak yang semula ahli ibadah harus mengakhiri hidupnya tanpa iman. Sisi lain si adik tercatat sebagai Khusnul khatimah, meski semula menghabiskan waktu dengan bermaksiat namun ia taubat kaffah di penghujung umurnya.  Naudzu  Billah, Allahumma akhirna bi khusnil khattimah. (Tamat)

***


Satu satunya yang tak bisa diserupai Syetan adalah sosok Rasulullah Muhammad Saw. Adapun nabi lainnya, syetan tetap mampu meniru wajah dan fisiknya.

( Nabi Idris dan Nabi Adam palsu)

Seperti kala syetan menggoda Nabi Idris As dengan menyamar menjadi Nabi Adam As. Semula Nabi Idris As sempat tak mengetahui bahwa sosok Nabi Adam As yang menghampirinya adalah Syetan yang menyamar.

Dengan membawa kulit kerak telur Syetan yang menyamar menjadi Nabi Adam bertanya, " Apakah Allah mampu memasukkan Jagat kedalam kulit kerak telur ini ?".

Barulah setelah syetan bertanya seputar ketauhidan, Nabi Idris mulai menyadari bahwa Nabi Adam as yang menghampirinya adalah palsu. Dengan mantabnya Nabi Idris membalas sambil mengarahkan jarum jahit ke salah satu mata syetan yang menyamar.

" Tentu bisa, jangankan kerak telur. Lobang jarum yang aku pegang ini pun dengan mudahnya Allah akan mampu memasukkan Jagat.".

Akhirnya setelah Nabi Idris menusuk Jarum ke salah satu mata syetan. Maka syetan pun menghilang dari pandangan Nabi Idris As. (Tamat)

***

Selain menceritakan tentang cara menggoda Syetan dengan penyerupaan. Kyai Djamal juga menyinggung sekilas tentang hikayat Kyai Mustajab. Sosok yang pernah diserupai oleh Syetan kala menggoda Kyai Abdul Ghofur.

( Ketawadhuan Kyai Mustajab I)

Kyai Mustajab semasa awal hidupnya terbilang tak begitu pintar dalam sudut pandang keilmuan. Meski demikian beliau mempunyai keistiqomahan yang besar dalam perilaku tawadhu' kepada  guru pesantren beliau, Kyai Sholeh (Langitan). 

Selain tawadhu' Kyai Mustajab juga menjunjung tinggi nilai Mahabah pada setiap apa yang disenangi oleh guru beliau.
Di pesantren Kyai Mustajab jarang ikut serta dalam setiap pengajian Kyai Sholeh. Justru Kyai Mustajab malah sering di suruh gurunya untuk merawat sawah, ternak kuda

Suatu ketika kuda Kyai Sholeh yang disuruh untuk menjaga Kyai Mustajab lepas dari kandang. Kyai Sholeh pun menyuruh kyai mustajab untuk membawa kembali kuda tersebut pulang ke kandang.

Setelah lama mencari, akhirnya Kyai Mustajab berhasil menemukan kuda gurunya. Kuda tersebut pun ia bawa kembali pulang. Namun uniknya, kyai mustajab enggan untuk menaiki kuda kesayangan gurunya tersebut.

Kyai Mustajab juga enggan untuk mengaitkan tali kemudi pada leher kuda. Justru Kyai Mustajab memilih untuk menggiring kuda tersebut dari arah belakang. Sebab itulah Kyai Mustajab sampai rumah lama sekali.

***

(Ketawadhuan Kyai Mustajab II)

Ketawadhuan Kyai Mustajab pada sang guru benar benar luar biasa kuatnya. Perilaku mahmudah Kyai Mustajab kembali teruji kala mendapat perintah dari Kyai Sholeh Langitan untuk mengantarkan surat kepada salah satu muridnya, Kyai Sholeh Gondanglegi Nganjuk.


Meski diberi bekal gurunya berupa kuda sebagai kendaraan. Tetapi Kyai Mustajab lebih memilih untuk menuntun kuda tersebut, daripada harus menunggangi kuda kesayangan gurunya. Sebab itulah perjalanan Kyai Mustajab ke Gondanglegi terbilang begitu lama.

Ketika sampai ke Gondanglegi, segeralah kyai mustajab menyerahkan surat gurunya tersebut ke pada kyai Sholeh Gondanglegi. Terkejutlah Kyai Mustajab kala diberi tahu Kyai Sholeh Gondanglegi. Bahwa isi surat tersebut berisikan perintah untuk menjadikan si pengirim surat menantu.

Kyai mustajab merasa tak pantas karena merasa pengetahuan keilmuannya lemah. Namun Kyai Sholeh Gondanglegi meyakinkan bahwa keputusanya memilih Kyai Mustajab sebagai menantu adalah semata mata ketawadhuan pada guru.

Melalui penjelasan Kyai Sholeh Gondanglegi, Kyai Mustajab pun akhirnya rela dengan keputusan gurunya. Meski sebenarnya Kyai Mustajab sedih karena calon istrinya merupakan putri kyai besar yang juga mempunyai pengetahuan luas

Kyai Mustajab pun memutuskan untuk tirakat dan senantiasa memohon pada Allah agar diberikan pengetahuan. Sebab tirakat yang luar biasa, bi idznillah akhirnya Kyai Mustajab berjumpa dengan Nabi Khidhir As.

Setelah memberikan wejangan pada Kyai Mustajab, Nabi Khidhir pun memberikan segenggam tanah. Oleh Nabi Khidhir Kyai Mustajab diperintahkan untuk mencari lokasi yang struktur tanahnya sama persis dengan tanah pemberiannya.

Kyai Mustajab tidak diberi tahu Nabi Khidhir tentang dimana lokasi pasti asal tanah tersebut berada. Beliau hanya diberikan arahan untuk pergi mencari ke arah selatan sampai merasa payah. Jika di arah selatan tak menemukannya maka disuruh untuk belok kanan (arah barat). Jika di arah barat tak juga menemukannya maka disuruh untuk belok kanan lagi (arah Utara).

Nah, di belokan kanan kedua (arah Utara) inilah akhirnya Kyai Mustajab berhasil menemukan lokasi yang struktur tanahnya sama persis dengan tanah pemberian Nabi Khidhir As. Ternyata lokasi tersebut berada di sawah yang hanya berjarak 30 Km dari kediaman mertuanya Kyai Sholeh Gondanglegi.

Segeralah Kyai Mustajab mencari tahu siapa pemilik sawah tersebut. Setelah menemukan pemiliknya, Kyai Mustajab pun meminta izin untuk mendirikan gubuk kecil di tanah tersebut.

Setelah mendapat izin segeralah Kyai Mustajab mendirikan gubuk, lalu bertirakat disana. Hingga seiring berjalannya waktu datanglah segerombol orang dari Desa Setembel Banyuwangi ke gubuk kyai mustajab, dengan dalih untuk berguru kepada kyai mustajab.

Bi Idznillah, Kyai Mustajab yang alasnya sama sekali tak mampu untuk mengaji. Justru mampu menjadi seorang pendidik yang memberikan ilmu kepada para santri santrinya.

Puncaknya, karena semakin banyak santri yang datang untuk menjadi murid kyai mustajab. Si pemilik sawah pun rela mewaqafkan sebidang tanah yang telah didirikan gubuk tersebut. Hingga akhirnya gubuk kecil tersebut kini telah menjadi pesantren besar di daerah Gedongsari Nganjuk. (Tamat)

***
Hikayat tentang Kyai Mustajab yang selalu tawadhu' kepada gurunya, inilah yang membuat Kyai Djamaluddin Ahmad berpesan " Dadi uwong demeno ten guru. Demen opo wae sing disenengi guru"

Kedelapan, seorang sufi bernama Syekh Ma'ruf Al Karkhi juga mengucapkan tentang keutamaan merayakan maulid nabi Muhammad Saw. Dikatakan olehnya, " barangsiapa menghidangkan makanan atas dibacanya Maulid Nabi Saw, mengumpulkan kawan-kawannya, menyalakan lampu, memakai baju baru, membuat asap wangi (membakar dupa, atau kayu garu), dan memakai minyak wangi untuk mengagungkan maulid nabi Saw. Maka Allah SWT akan. Mengumpulkannya di hari kiamat beserta golongan yang pertama dari para Nabi, dan berada di derajat yang paling luhur".

Syekh Ma'ruf Al Karkhi (200 H) bukankah seorang sembarangan. Beliau merupakan seorang sufi yang nasap keilmuannya sambung ke Rasulullah Muhammad Saw. Ada Hikayat dari Kyai Djamaluddin Ahmad tentang ujian Syekh Ma'ruf Al Karkhi hingga mencapai derajat Muhibbin.

( Ujian Syekh Ma'ruf Al Karkhi )

Dalam mencapai derajat Muhibbin, Syekh Ma'ruf Al Karkhi mendapat ujian yang berat dari Allah SWT sebagi pembuktian pantas lulus atau tidak.

Pertama, Syekh Ma'ruf Al Karkhi pernah dikondangkan oleh para wali tentang derajat mahabahnya. Karena merasa lebih suka dicela daripada dipuji, akhirnya Syekh Ma'ruf Al Karkhi pun memutuskan untuk masuk ke kamar ganti lalu mencuri pakaian milik orang yang sedang mandi.

Syekh Ma'ruf Al Karkhi urung kabur, justru beliau berusaha agar tindakan pencuriannya diketahui oleh orang. Semata mata tindakannya hanya agar ia dicela orang daripada terus terusan dipuji.

Hingga akhirnya Syekh Ma'ruf Al Karkhi pun dipukuli oleh orang orang sampai wajahnya berdarah. Karena orang  orang  mengira syekh Ma'ruf Al Karkhi benar benar seorang pencuri. Meski demikian Syekh Ma'ruf justru lebih merasa lega daripada kondisi awal yang kenyang pujian.

Akhibat tindakannya kala itu, setiap orang yang berjumpa dengan syekh Ma'ruf pun memanggilnya dengan sebutan " Ini Pencuri Pemandian".

Kedua, suatu saat Syekh Ma'ruf Al Karkhi mendapat undangan tasyakuran dari tetangganya. Segeralah beliau mendatangi rumah kediaman tetangganya tersebut. Namun sesampai di sana, Syekh Ma'ruf justru diusir dengan dalih ia bukan tercatat sebagai tamu undangan. Seketika itu beliau pulang kembali ke rumahnya.

Sesampai dirumah, Syekh Ma'ruf dikejutkan dengan seorang anak yang membawa undangan tasyakuran tetangga yang telah mengusirnya. Segeralah pula ia kembali lagi ke rumah tetangganya yang tasyakuran dengan dalih memenuhi undangan.

Namun disana untuk kedua kalinya Syekh Ma'ruf Al Karkhi diusir kembali, dengan alasan yang sama. Beliau pun untuk kedua kalinya kembali lagi ke rumahnya.

Kejadian semacam ini pun berulang ulang hingga ke empat kali. Tetangganya yang memang aslinya sedang mempermainkan Syekh Ma'ruf pun heran dengan perangai Syekh Ma'ruf. Ia pun memutuskan untuk bertanya tentang apa alasan yang membuat Syekh Ma'ruf berperangai demikian.

Jawab Syekh Ma'ruf, " Aku ini seperti anjing. Pergi kalau disuruh pergi, dan datang ketika di goda (iming iming: jawa) dengan daging".

Ketiga, Syekh Ma'ruf Al Karkhi diuji dengan di Mukasyafah mata batinnya oleh Allah, hingga beliau diperlihatkan 40 bidadari. Ujian kali ini Syekh Ma'ruf sedikit tidak kuasa, hingga beliau sejenak terlepas pandangannya dari Allah. Akhibatnya, derajat Mahabah yang  hampir didapat Syekh Ma'ruf Al Karkhi pun sirna.

Karena merasa salah, syekh Ma'ruf Al Karkhi pun bertaubat Kamil. Hingga Allah SWT pun kembali memberikan kesempatan lagi tentang ujian serupa untuk mencapai derajat Mahabah.

Syekh Ma'ruf Al Karkhi kali ini kembali diperlihatkan bidadari. Tak tanggung-tanggung, jumlahnya meningkat dua kali lipat. Dadi awalnya 40 bidadari menjadi 80 bidadari yang berparas menggoda. Namun keteguhan hati Syekh Ma'ruf Al Karkhi 80 bidadari tak mampu menjadi penghalang untuk Mahabah pada Allah. Syekh Ma'ruf Al Karkhi pun lulus ujian, hingga mampu mencapai derajat Muhibbin. (Tamat)

****

Sembilan, Imam Fahruddin Ar Razi  juga tak luput menyampaikan Keutamaan merayakan Maulid Nabi Saw. Dikatakan olehnya,

" Tidak ada seseorang pun yang Membaca Maulid pada sebuah garam, gandum, atau makanan sejenis yang lain. Kecuali akan tampak keberkahan pada makanan tersebut dan pada setiap sesuatu yang dimakan olehnya, sebab makanan tersebut akan terus menerus memberikan istighfar baginya. Dan  apabila Maulid Nabi dibaca pada air, maka barangsiapa yang meminum air tersebut, hatinya akan terisi dengan seribu cahaya, dan rahmat. Dan akan keluar seribu sifat dengki, dan penyakit. Serta hatinya tidak akan mati pada hari dimana kebanyakan manusia hatinya mati. Dan barangsiapa yang membaca maulid nabi pada uang dirham yang sudah ditempa, baik yang terbuat dari emas atau perak, kemudian ia mencampur uang tersebut dengan uang lainnya, maka akan menimbulkan keberkahan, dan ia tidak akan menjadi fakir, serta tangannya tidak akan kosong dari harta sebab keberkahan dari Nabi Saw".

Al Atsar Imam Fahruddin Ar Razi diatas inilah yang menjadi jawaban mengapa dalam beberapa peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw, atau peringatan haul ulama besar, kerap kali masyarakat membawa makanan (Ambengan) yang dikumpulkan satu majlis.

Kyai Djamaluddin Ahmad punya pengalaman serupa kala nyantri di Pondok Lasem asuhan Kyai Baidhowi. Diceritakan saat itu suasana haul Mbah Sunan Bonang, masyarakat Lasem pun berbondong-bondong membuat tumpeng dan dikumpulkan dalam satu majlis.

Keinginan mendapat berkah dari haul, inilah yang membuat para warga berebut nasi. Tak peduli itu nasinya Kyai Baidhowi Lasem yang mereka hormati. Hingga tak jarang nasi tumpah bercampur pasir. Sebab inilah menurut pengakuan kyai Djamaluddin, beberapa warga yang mendapati nasi bercampur pasir terpaksa mengeringkan nasi tersebut, dan mewadahinya dalam satu toples. untuk diharapkan muncul keberkahan dari Allah melalui jalan dari benda tersebut.

Ini berlaku pula  di haul  Pondok Peta Tulungagung yang kerap memagari makam para ulama dengan garam. Lalu membagi-bagikan garam tersebut pada santri santri dan kalangan umum.


Wallahu alam bi showab

Peresume:
Rizal Nanda Maghfiroh
Senin, 26 November 2018





Tidak ada komentar

Terima kasih atas masukan anda.