Amien Rais dan Segala Kegatalannya



Sumber: Merdeka.com

Si Pendekar Chicago

Gusdur dalam salah satu opininya (Tempo, 29/03/93) pernah menyebut sosok tiga pendekar Chicago, yang dinisbatkan pada generasi pertama cendekiawan muslim Indonesia alumni sana.

Sebut saja mendiang Nur Cholis Masjid yang terkenal dengan doktrin pluralisme hingga semboyan "Islam Yes, Partai Islam No". Kedua ada nama Buya Syafii Maarif yang kerap memberikan petuah urgensi kebangsaan. Lalu terakhir ada Amien Rais sebagai rival politik Gusdur sendiri.

Dari tiga nama diatas mungkin nama terakhirlah yang lebih populer dalam perbincangan publik era kekinian. Bukan meragukan dua nama sebelumnya, namun sosok Amien Rais memang lebih universal. 

Ia seorang aktivis pergerakan, cendekiawan, politisi partai, hingga turut menjamah rana birokrasi kenegaraan sebagai ketua Majlis Permusyawaratan Rakyat era presiden Gusdur.

Perbincangan disini bukan bermaksud membedah treck record seorang Amien Rais. Atau mereview perspektif Gusdur tentang sosok yang melengserkannya dari kursi Presiden lewat isu Brunaigate dan Buloggate.

Yang pasti perkataan Gusdur tentang Amien Rais sebagai anggota Tiga Serangkai Pendekar Chicago terdapat sebuah hal menarik. Sebagai pembeda ideologis antar Tiga Pendekar Chicago, yang memang satu sama lain mempunyai perbedaan idealisme dalam memandang fenomena kultur sosial. Berdasar pada kesamaan ketiganya untuk mengembangkan nilai Islam sebagai cara hidup.

Redaksi yang dibuat Gusdur disini menjadi sebuah penjajakan awal penulis dalam mengkomentari seorang Amien Rais. Seputar beberapa kontroversi publik yang dibuatnya berkenaan dengan berbagai ciutannya. Terutama argumen terakhirnya perihal dikotomi Partai Allah dan Partai Syetan.

Sudah banyak komentar bermunculan menyambut argumentasi bapak reformasi diatas. Sehingga dalam dialeka ini tak perlulah penulis menguraikan panjang lebar kronologis fenomena tersebut.

Pastinya ciutan Amien Rais diatas tentu tak lepas dari karakteristik dalam diri Amien Rais sendiri. Pengalaman publik sejak dalam areal kampus hingga bergeliat di Muhammadiyah tentu menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi corak perilaku seorang Amien Rais.

Disini penulis bukan bermaksud mengoposisi Amien Rais, membantah segala produk ijtihadnya. Hanya saja sebagaimana pendapat kalangan lain, argumentasi Amien Rais diatas memang seakan mendikotomikan partai partai.

Meski diluruskan oleh Anggota Dewan Kehormatan PAN Dradjad Wibowo yang menjustifikasi argumentasi Amien Rais. Dikatakan olehnya  bahwa opini seniornya tersebut bukan merujuk sebuah Parpol, melainkan terbatas dalam konteks Tauhid.

Sebagaimana dikutip Republika (14/04/18), dikatakan oleh Dradjad panjang lebar "rujukan Amien Rais adalah kata hizballaah dari Al Maidah ayat 56 yang diartikan sebagai “pengikut (agama) Allah".

Kata “hizb” menurut Drajad mengacu Al Qur'an terjemah Kementerian Agama  bisa diartikan sebagai golongan, kelompok, grup atau partai. Sedang lawannya adalah hizbasy-syaithoon merujuk QS Al Mujaadilah ayat 19.

Namun menurut perspektif penulis disinilah letak kerancuan pengaitan redaksi "Hizb" dalam dua surat diatas, dengan sebuah redaksi "Partai" sebagaimana ucapan Amien Rais. Apalagi jika pandang dalam perspektif nilai ketauhidan seperti pembelaan Drajad, tentu terdapat ketidak sinkronan yang cukup besar.

Dalam tauhid Allah adalah Dzat yang tunggal, berdiri sendiri, Maha kuasa dengan segala ketentuan dan keputusan-Nya. Maka penisbatan sebuah "Partai" merupakan hal yang tak relevan. Karena umumnya istilah partai sarat akan hal hal berbau politik birokrat.

Jika ditafsirkan dalam kaca mata Tasawuf justru efeknya lebih parah lagi. Hal semacam tersebut bisa menjurus sebuah penistaan esensi ketuhanan, akhibat mencampur adukkan hal bersifat ketuhanan dengan kemahlukan.

Politikus Yang Gatal

Sebenarnya jika dicermati mendalam ucapan Amien Rais perihal Partai Allah dan Partai Syetan. Maka terlihat jelas bahwa redaksi  tersebut sarat muatan politik bermuatan identitas keagamaan, meski dalam pidatonya Amien Rais sama sekali tak menyinggung redaksi Parpol.

Salah satu yang menguatkan penulis berspekulasi adalah disinggungnya dalam pidato Amun tiga poros aliansi; PAN, PKS, Gerindra.

"Sekarang ini kita harus menggerakkan seluruh kekuatan bangsa ini untuk bergabung dan kekuatan dengan sebuah partai. Bukan hanya PAN, PKS, Gerindra, tapi kelompok yang membela agama Allah, yaitu hizbullah. Untuk melawan siapa? untuk melawan hizbusy syaithan,"


Kalimat pertama penggalan pidato diatas sudah terlihat jelas bahwa Amien memang menginginkan menjamah identitas kelompok lain diluar tiga aliansi PAN, PKS, dan Gerindra. Terutama identitas yang sarat simbol simbol dan  peneguhan syariat Islam.

Sebagai politisi senior dengan berbagai gebrakan pembaharuan di masa lampau. Apalagi identitasnya berlipat-lipat; Cendekiawan, Negarawan, aktivis pergerakan, politikus, hingga birokrat. Tentu akan juga mempengaruhi sebuah langkah yang diambil di era kekinian. Termasuk pula sebagai oposisi Presiden Jokowi beserta partai pengusungnya.

Ibaratnya seperti senior idealis dalam sebuah organisasi yang sudah lama tenggelam dalam regenerasi kepengurusan. Maka pastinya senior tersebut akan merasa gatal ingin kembali terlibat dalam intrik politik sebuah kepengurusan.

Apalagi jika mendapati ketidak cocokan sebuah program kepengurusan dengan idealisme senior tersebut. Ntah sekedar pengamat bebas, komentator, atau bahkan melebur diri menjadi oposisi kepengurusan.

Terakhir, nikmati saja drama bumbu bumbu menjelang sayembara politik. Tanpa tenggelam dalam keterlibatan perdebatan dangkal yang menyita hal hal yang lebih urgensi bagi kehidupan sosial.

Tidak ada komentar

Terima kasih atas masukan anda.