Mengapa Harus Kartini

Sumber: nu.or.id


Mengapa Harus Kartini

Sejak tahun 1964 tanggal 22 April menjadi hari sakral nasional, terutama bagi kaum hawa. Mulai saat itulah pemerintah menetapkan Hari Kartini sebagai hari besar nasional. Merujuk hari kelahiran Kartini, sang pembaharu pergerakan kaum perempuan di era kolonial.

Dipungkiri atau tidak bahwa kala memang kaum perempuan lebih terbatas ruang gerak untuk berekspresi. Dibandingkan kaum pria yang lebih leluasa menjamah segala ruang.

Pemaknaan kaum perempuan yang terbatas sebagai pelayan rumah tangga keluarga. Atau maraknya nikah usia muda yang didominasi kaum perempuan menjadi sebuah penegas sempitnya ruang aktualisasi kaum perempuan di era lawas.

Belum lagi maraknya poligami dan kawin paksa yang menandai hegemoni kaum pria. Hingga kini tak jarang  terbesit pertanyaan mengapa sosok Kartini yang dimunculkan kepermukaan hari nasional. Bukankah Kartini adalah produk pendidikan barat sebagai bangsa kolonial yang meliberalisasi budaya lokal.

Bukankah era sebelum Kartini justru sudah ada sosok perempuan yang tak kalah dalam mengembangkan pergerakan. Sebut saja Cut Nyak Dien, Cut Nyak Meuthia, hingga Nyi Ageng Serang.

Namun yang pasti perjuangan Kartini juga tak bisa ditepis keurgensitasnya, mampu mengembangkan ide  gagasan emansipasi peran perempuan dalam kehidupan. Tanpa bermaksud mengecilkan kontribusi tokoh perempuan lain yang berkontribusi dalam perjuangan rana lain.

Kartini sendiri tiada lain adalah sosok keluarga ningrat yang akhirnya terseret dalam pusaran pendidikan barat. Jadi tak mengherankan jika Kartini kerap menyuarakan ide ide humanisme segar yang melampaui ruang kekang perempuan Indonesia pada masa itu.

Alasan cukup logis berdasarkan praduga lepas penulis terkait pengesahan hari Kartini di tahun 1964. Bisa jadi terletak pada peran Soekarno sebagai presiden yang secara latar belakang adalah akademisi barat. Yang tak jarang pula corak berfikirnya liberal, seperti kerapnya merujuk beberapa pemikiran para pemikir luar, semacam Mahmata Gandhi, Karl Marx, atau Hagel.

Terkait Kartini penulis teringat guyonan Gus Ulil Abshar Abdalla di Twitter. "Andai Kartini lahir sekarang, dia mungkin tak menulis surat ke Rosa Abendanon-Mandri, tetapi nyetatus di FB atau ngetwit".

Jika dilihat sepintas treck record Kartini terkesan hanya berupa curahan ide gagasan sebuah "layang" teruntuk sahabat penanya. Paling banter hanya mendirikan "sekolah Kartini" di Rembang Jawa Tengah. Itu pula dikhususkan bagi perempuan muda untuk dibekali keterampilan semacam memasak dan menjahit.

Tapi gebrakan dan ekspektasi ide gila Kartini di masa lampau pada akhirnya tak terbuang sia-sia. Seiring tumbuh subur berbagai pergerakan kaum perempuan di masa setelahnya. Semacam pergerakan Putri Mahardika (Budi Utomo), Aisyiyah (Muhammadiyah), Muslimat (NU), hingga geliat Pendidikan Perempuan yang dikembangkan Dewi Sartika.

Hegemoni Kartini Jaman Milenial

Di era sekarang tak diragukan lagi, harapan Kartini tentang emansipasi wanita terbilang cukup terealisasi. Meski masih ada beberapa sub kultur yang tetap menghegemoni posisi wanita. Atau pelecehan wanita yang masih menjadi benalu di era keterbukaan.

Nyatanya di era sekarang, posisi perempuan dalam kultur masyarakat terlihat lebih fleksibel untuk berkreasi. Sub ruang publik pun tak lagi di dominasi pria; mulai birokrasi kenegaraan, perusahaan swasta, pusat pertokoan, hingga lembaga pendidikan.

Justru hegemoni kreativitas perempuan dalam beberapa sub pun semakin melejit. Sebagai contoh adalah dalam pengelolaan lembaga pendidikan, yang kerap dikeluhkan oleh para pendidik jaman now tentang tipologi peserta didik.

Realita berdasar pengalaman penulis sendiri, dengan pengakuan beberapa pendidik yang penulis kenal. Justru pelajar perempuan yang lebih mampu untuk unjuk gigi aktif dalam proses pendidikan. Dibanding level aktifnya pelajar kategori laki laki.

Ntah ini hanya perasaan penulis saja berdasarkan pengalaman pribadi, atau juga berlaku bagi beberapa pihak lain. Rasanya memang ghirah pelajar perempuan untuk aktif belajar memang terkesan lebih besar dibanding level ghirah pelajar laki laki.

Ini berlaku pula dalam seberapa jauh para pelajar perempuan menaati segala peraturan lembaga pendidikan. Dibandingkan pelajar laki laki yang kerap menjebol batasan aturan tata tertib lembaga pendidikan.

Fenomena diatas hanyalah gambaran sekilas tentang kondisi ril jaman kekinian. Dimana semangat Kartini yang diilhami para perempuan memang terkesan mulai menjarah berbagai sub kehidupan.

Pesonanya, keanggunannya, kemolekannya, kekalemannya, kepekaannya, tentu sebuah skill khusus para generasi kartini. Apalagi jika skill tersebut diupgrade dengan skill lain semacam kreativitas dan kecepatan untuk bergerak dinamis. Ditambah dengan skill leadership dan intelejensi tingkat tinggi tentulah akan menjadi sebuah superstar dalam jagat kehidupan.

Lantas siapakah kaum pria menyodok permainan ciamik yang diperlihatkan para Kartini jaman now. Menjadi assist untuk terciptanya sebuah gol guna mengantarkan tujuan kemenangan bersama. Merangsek dalam tatanan persaingan merebut tingkatan klasemen kehidupan yang penuh tantangan. Wallahu a'lam.

Tidak ada komentar

Terima kasih atas masukan anda.