Intrik Menjelang Sore Menyapa



Seperti biasanya rindu pada bayangnya pun kembali mencuat dalam pijaran fikiran. Meski sebenarnya sangat sadar betapa naifnya merindukan bayang yang teristimewakan. Meski juga sebenarnya sadar pula bahwa rindu ini hanyalah intrik sesaat dalam momentum kehidupan.

Tak lebih sebatas ekspektasi berlebih pada pihak terkasih. Dimana angan dan harapan kerap terlintas dalam imajinasi yang tak ada ruang lagi. Semuanya bedesak desakan dalam tatanan kekaguman berhari hari. Seraya menanti takdir yang ntah akan mampu menyambut pagi atau justru tetap dalam zona kerinduan kala petang menyadang.

Ingin rasanya ku ikuti kemana pun langkah kaki bergerak lepas dalam empat penjuru mata angin. Walau rintangan menerjang tak jadi masalah atau beban pikiran, seperti haknya kata nyanyian soundtrack juorney on the west.

Tapi sekali lagi itu hanya ekspektasi. khayalan tingkat tinggi yang terlintas dibenak pribadi. Bercampur imaji yang membaur dalam sebuah kekaguman yang bermetamorfosis menjadi kerinduan yang tak terbatas.

Masih tetap terjaga keistimewaan akan kekaguman yang tak berdasar ini. Masih terlihat menawan di hadapan insan yang usang ini. Parasnya bak perawan kahyangan yang dinanti berhari hari agar dapat berjumpa meski hanya semenit menepi.

Meski jawabannya juga belum ku temui mengapa aku sampai ikut terjangkit virus kerinduan. Yang pasti harapan ekspektasi ini tentu menjadi sebuah doa yang ingin diijabahkan.

Meski jika takdir berkata lain, juga tak kan  sesalkan intrik kekaguman yang berharap dihapuskan oleh sang Hyang Ilahiyyah. Daripada berlama lama jadzab tak karuan, dengan bayang kahyangan yang tak kunjung pergi. Walaupun sudah disiram pula dengan logisnya rasionalisasi akal tentang kekaguman yang tak terbalas.

Hanya sekedar transkrip dari sebuah kekaguman yang urung terlampui, lebih parah lagi urung disampaikan langsung dalam sebuah dogma. Setidaknya inilah gambaran intruk yang kembali menyodok menyandang sore menyapa.

Tidak ada komentar

Terima kasih atas masukan anda.