Kajian Al Hikam: Mahabbah (16 April 2018)


Sumber: Grub Ibbien Nusantara
Syiir Mahabbah Kyai Djamal dan Dalil Naqli Kajian



Kajian Tentang Mahabbah Ilallah
(16 April 2018)

Penjelasan Kyai Djamal

Pengajian kali ini merupakan lanjutan pengajian Minggu lalu (Yang Tak Dapat Terekam Pribadi) seputar Mahabbatul Abdi Lillahi yang artinya Cintanya hamba kepada Allah. Berkaitan Mahabbah Kyai Djamal menyebut bahwa Mahabbah kerap memunculkan sebuah rindu, atau hal lain seperti sebuah kekhususan.

Merujuk penjelasan Kyai Djamal di awal sebagimana dikutip dalam Dalil Naqli pada foto di atas. Tentu memberikan kesimpulan bahwa yang menjadi fokus pengajian kali ini mengerucut pada Mahabbahnya Allah pada hamba-Nya. 

Dalam hal ini secara umum Allah mencintai tiga hamba-Nya dari tiga kategori pula. 

Pertama adalah; orang yang mau berperang membela Allah fi Sabilillah dengan berbaris baris. 

kedua, adalah Allah mencintai orang yang bertaubat. Sedang ketiga adalah, Allah mencintai orang yang gemar berdzikir menyebut Asma-Nya sebanyak banyaknya.

Dalam kategori pertama diatas, orang demikian sepertihalnya para syahid yang gugur dalam pertempuran fi Sabilillah. Lalu sebagaimana dipapar dalam pengajian kali ini, Kyai Djamal mengutarakan ada lima sahabat nabi yang dicintai Allah gegara gugur dalam perang Uhud yang dimenangkan kaum kafir Quraisy.

Pertama, seorang pemuda bernama Anas bin Nashr. Syahid yang gugur dalam keadaan tertimpa 87 luka baik dari panah atau pun pedang. Akhibatnya banyaknya  luka di  tubuh Anas membuat muslimin lain pun tak mengenali identitas syahid tersebut (Anas).

Beruntunglah ada salah satu saudara perempuan Anas yang mengenali identitas jenazah tersebut. Melalui jari jari tangannya yang mampu dikenali oleh sang adik. 

Kedua, ada Hamzah Bin Abdul Muntalib yang merupakan paman Nabi Muhammad Saw (Adik Abdullah). Paman Nabi ini harus menerima kenyataan gugur dalam keadaan dicincang cincang oleh Wahsyi. Lebih mengerikan lagi perut Hamzah pun dibedah untuk diambil jantungnya. Sebelum akhirnya jantung tersebut dimakan mentah mentah oleh Hindun, istri Abu Sofyan gegara dendam kesumatnya pada Hamzah sejak perang Badar.

Ketiga, ada Hamdalah bin Abi Amir. Dimana ketika panggilan perang uhud berkumandang ia masih menggauli istrinya. Tiba tiba saat itu pula seruan itu membuat Hamdalah beranjak untuk ikut perang. Bahkan ia tidak sempat untuk mandi besar jinabat.

Saat perang berkecambuk Hamdalah pun termasuk dalam salah satu para syahid yang gugur di Medan Uhud. Melihat jenazah Hamdalah, Nabi Muhammad pun heran mengapa para Malaikat turut memandikan jenazah tersebut. 

Hasilnya Nabi pun menyuruh seorang sahabat menayakan Istrinya perihal amal  apa yang dilakukan oleh Hamdalah. Hingga ia dimandikan malaikat usai gugur dengan status syahidin. 

Oleh istrinya Hamdalah dijawab apa adanya, " Semua itu saat seruan perang berkumandang, suamiku sedang melakukan hubungan intim denganku. Hingga saat itu juga ia tak sempat mandi besar. Justru memilih bergegas untuk pergi ke Medan perang dengan menggunakan pakaian perang lengkap ", jawab sang Istri.


keempat ada  sahabat Nabi bernama Mus'ab bin Umair. Dimana ia juga termasuk orang yang gugur dalam perang Uhud. Salah satu keistimewaannya dalam perang adalah kegigihan Mus'ab dalam melancarkan serangan. Tak perduli "Damage" yang menimpa fisiknya, ia tetap maju ke depan untuk mendapatkan "kill" atas musuhnya.

Saat tangan kanan Mus'ab putus tertebas, pedang miliknya ia alihkan ke tangan kiri. Sedang ketika tangan kirinya tertebas pula, ia menggigit pedang tersebut. Hingga puncaknya Mus'ab pun kembali tertebas tubuhnya dan gugur sebagai syahid.

Sedang kelima ada sahabat Nabi pula yang bernama Amruh Bin Jamuh. Saat itu ia tergolong orang yang tak mempunyai kewajiban berperang dengan status fisiknya yang pincang.

Sontak ketika ia memaksa ikut berperang keempat puteranya pun melarang keras keinginan ayahandanya. Bahkan berita ini pun terdengar sampai kepada Nabi Muhammad Saw. Hasilnya Nabi pun memberikan sebuah sabda petuah untuk umatnya tersebut.

" Mengapa engkau memaksa untuk ikut berperang, padahal engkau tak menyandang sebuah kewajiban untuk ikut berperang ?", Tanya Nabi pada Amruh Bin Jamuh.

" Wahai  Rasulullah,, aku sebenarnya ingin gugur dalam medan perang sebagai seorang syahid", papar Amruh bin Jamuh.

Setelah itu pula Nabi Muhammad pun memanggil keempat puteranya dan meminta kerikhlasan untuk tidak melarang ayahnya ikut terlibat dalam perang. Alhasil hadangan keempat putera Amruh Bin Jamuh pun tercabut, hingga Amruh dapat ikut juga ke medan perang Uhud. 

Keinginan Amruh bin Jamuh untuk wafat di medan perang pun terpenuhi. Fisiknya yang pincang pun membuat sebuah pembeda dalam melancarkan  "attack". Hingga Amruh pun wafat terkena anak panah yang melesat, syahidlah dirinya.

Usai perang Uhud berakhir dengan kekalahan pihak muslimin, Nabi Muhammad Saw pun bersabda sebagaimana diriwayatkan Ibnu Hidain. " Saksikanlah bahwasanya mereka mereka besok akan menjadi saksi didepan Allah SWT pada hari kiamat. Oleh karena itu kamu sekalian datanglah kepada mereka. Berziarahlah pada mereka. Ucapkan salam pada mereka pasti mereka akan menjawab salam tersebut".

Nah, hikmah kedua terkait Mahabbah sebagaimana dikabarkan Kyai Djamal yaitu bahwa Allah SWT cinta pada orang yang bertaubat (bertaubat kaffah).

Ada sebuah hikayat sedikit tentang pemuda yang ingin bertaubat sebagaimana di papar Kyai Djamal dalam pengajian kali ini.

(Lelaki Taubat Usai Setubuhi Mayat)

Suatu hari Sayyidina Umar bin Khattab datang ke hadapan Nabi dengan menangis. Sebab itu Nabi pun menanyai umar mengapa ia (Umar) menangis.

"Diluar sana ada laki laki yang menangis kencang. Sebab itu saya ikut menangis kasihan"., Jelas Umar Bin Khattab.

"Suruh ia masuk kedalam", kata Rasulullah.

Laki laki tersebut pun masuk kedalam dan ditanyai oleh Nabi alasan ia menangis tak karuan. "Kenapa engkau menangis ?".

" Saya malu telah melakukan sebuah dosa besar wahai Rasulullah", kata si laki laki.

"Lebih besar mana kah dosamu dari ars ?", Tanya Nabi.
"Lebih besar dosa saya"

"Lebih besar mana kah dosamu dari langit tujuh tingkat ?"
"Lebih besar dosa saya"

"Lebih besar mana kah dosamu dari bumi tujuh tingkat ?"
"Lebih besar dosa saya"

"Lebih besar mana kah dosamu dari lautan sejagat ?"
"Lebih besar dosa saya"

"Lebih besar mana kah dosamu dari kumpulan gunung sejagat ?"
"Lebih besar dosa saya"


"Lebih besar mana kah dosamu dari pengampunan Allah ?".
" Jelas lebih besar pengampunan Allah SWT"

"Kalau demikian, tolong jelaskan apa kesalahan engkau", papar Nabi.
"Ya Rasul, sebenarnya sudah tujuh tahun saya telah mencuri kain kafan orang yang mati dalam kuburan. Jika jenazahnya wanita cantik bukan hanya saya ambil kain kafannya namun juga saya setubuhi.", Kata si laki laki menjelaskan.

"Suatu saat ada salah satu putri sahabat Ansor yang meninggal dunia. Statusnya masih gadis pula. Usai kuburannya saya gali, saya ambil kain kafannya. Seketika itu saya tergugah nafsu birahi usai melihat jenazah wanita tersebut tanpa busana. Saya pun mensetubuhi jenazah tersebut. Tiba tiba jenazah tersebut pun dapat bicara dan berkata. " Hai laki laki, apa engkau tak kasihan padaku. Aku sudah disucikan orang orang mengapa engkau buat aku menanggung Hadas junub lagi. Apa kau juga tak kasihan padaku, aku telah ditutupi auratku dengan kain kafan. Lantas kini kau buat aku telanjangi". Sontak setelah itu aku pun sadar akan kebiadaban dosaku", papar laki laki tersebut kembali.

Oleh Nabi laki laki tersebut pun diusir. Namun justru malah kembali menangis menjadi jadi. Singkat cerita (Efek Streaming pengajian yang tersendat) Nabi pun memberikan amalan ayyamul bidh (Hari Hari Putih) untuk diamalkan sebagai peleburan sebuah dosa ketika bertaubat secara Kaffah. (End)

( Nabi Adam Dan Ayyamul Bidh)

Terkait apa itu Ayyamul Bidh Kyai Djamal menjelaskan bahwa hal tersebut dinisbatkan pada hikayat Nabi Adam As yang diuji hukuman turun ke bumi. Panasnya bumi dari sengatan matahari pun membuat tubuh Nabi Adam menghitam. Akhirnya suatu saat Nabi Adam As memutuskan untuk memohon ampun melalui bertawassul kepada asma Nabi Muhammad Saw. 

Asma Muhammad diketahui Nabi Adam ketika masih berada di Ars. Dimana di tiang tiang Ars setiap ada asma Allah SWT tentu disebelahnya tertera pula nama Muhammad.

Sebab itu pula Nabi Adam berspekulasi bahwa Nama Muhammad adalah kekasih Allah SWT. Akhirnya Allah pun mengijabahi permohonan maaf Nabi Adam, lalu menyuruhnya untuk penyucian diri melalui berpuasa (taubat) selama tiga  hari berturut-turut.

Ajaibnya usai tiga hari selesai, tubuh Nabi Adam yang menghitam pun perlahan lahan menjadi putih bersinar. Nah, sebab itulah h tersebut disebut dengan Ayyamul Bidh (Hari Hari Putih). (End)

(Kaifiyah Ayyamul Bidh)

Terkait kaifiyah Ayyamul Bidh Kyai Djamal menjelaskan bahwa puasa taubat tiga hari tersebut juga dibarengi pula dengan amalan sholat taubat tiap malam dalam kurun waktu tiga hari.

Adapun kaifiyah shalat taubat dipapar Kyai Djamal bahwa rakaatnya sebanyak dua rakaat. Dengan pembacaan Surah Al Kafirirun dan Al Ikhlas di rakaat pertama usai membaca Surah Al Fatihah. Sedang pada rakaat kedua yang dibaca adalah Surah Al Falaq dan Surah An Nass. 

Kemudian tepat sebelum salam membaca istighfar, tasbih, Hamdalah, tahlil, dan takbir sebanyak tujuh puluh kali. Baru setelah itu sujud seraya meminta pengampunan dari Allah SWT. 

Kaifiyah  sebagaimana diatas juga berlaku sama persis dihari kedua dan ketiga Ayyamul Bidh.

Sebelum memungkasi pengajian Hikam, Kyai Djamal kembali memaparkan Hikayat seorang Abd. Kali ini adalah seorang raja yang gemar mencari sebuah kesenangan.

Alkisah disebuah daerah terdapat seorang raja yang suka mencari sebuah kesenangan dan ketentraman keduniaan. Suatu malam raja tersebut mengajak Wazir (perdana menteri) untuk naik kendaraan untuk berkeliling melihat situasi kondisi.

Akhirnya mereka berdua sampailah disebuah tempat dan melihat nyala sinar api daerah dekat gunung. Melihat hal tersebut Raja dan wazirnya pun memutuskan untuk pergi ke sana.

Ternyata disana terdapat sebuah rumah besar dengan dua bagian, rumah teras dan rumah belakang. Adapun di rumah bagian pertama ternyata banyak penari dan penyanyi dengan aneka musik.

Singkat cerita (sekali lagi efek streaming yang buferring) Raja beserta perdana menteri (Wazir) mendapat informasi adanya sebuah kota yang dipenuhi kedamaian, ketentraman, ketertiban  keamanan. Karena Raja tertarik akhirnya ia menyuruh wazirnya mencari tahu petunjuk dimana lokasi daerah tersebut berada.

Setelah dicari berlama lama akhirnya Wazir tersebut mendapat petunjuk tentang keberadaan daerah tersebut di lokasi kuburan leluhur sang Raja sendiri. Sontak ia pun memberi tahu pada raja perihal hal tersebut.

Usai memberitahukan informasi pada Raja, mereka berdua pun bersama sama kembali ke area makam. Ternyata dimakan tersebut terdapat sebuah tulisan kuno (Prasasti) berisi empat bait syair. (Sebagaimana hanya dibawah yang dapat pribadi kutip)

"Apakah kamu buta tentang dunia. Padahal kamu bisa melihat"

"Apakah kamu tidak mengerti apa isinya dunia. Padahal kamu orang yang waspada"

"Pagi pagi kami membangun dunia. Kamu bangun bangunan megah dan tinggi."

"Tapi tempat tinggalnya besok adalah rumah kecil dalam kubur"

"Silakan kamu berbuat sesukamu. Tapi ingat sesungguhnya orang mati adalah kubur".

Usai tulisan kuno tersebut dibaca oleh Raja, akhirnya Raja tersebut pun menyesal akan perangainya. Ia pun memutuskan untuk bertaubat, mengakhiri sebuah pencarian hal hal keduniawiaan. Hingga ia wafat dengan status Khusnul khatimah. (End)



Catatan:

Tulisan diatas merupakan hasil rangkuman resuman pribadi merujuk Pengajian Al Hikam Kyai Moh Djamaluddin Ahmad.

Waktu: 16 April 2018
Via : Streaming studioibien.com.

Mohon maaf jika terdapat beberapa penggalan penjelasan Kyai Djamal yang tak terangkum. Semata mata karena kekurangan pribadi selaku peresume, selain faktor non teknis seperti buffering nya siaran online.

Tidak ada komentar

Terima kasih atas masukan anda.