Kajian Al Hikam: Fadhilah Lailatul Nisfi Sya'ban

Kajian Al Hikam: Fadhilah Lailatul Nisfi Sya'ban

(Edisi Lailatul Nisfi Sya'ban)


Pengajian Al Hikam kali ini bertepatan dengan malam Lailatul Nisfu Sya'ban. Sebab itu pula Kyai Moh. Djamaluddin Ahmad memutuskan untuk menjelaskan kajian Fadhilah terkait peristiwa tersebut.

Fadhilah Lailatul Nisfu Sya'ban.

Terkait dengan keutamaan malam Nisfu Sya'ban, Kyai Djamal memulai pemaparan lewat sebuah hikayat. Merujuk riwayat Syekh Ahmad Syihabuddin Bin Salamah Al Qayyubi dalam kitabnya Al Mawathir tentang sebuah hikayat dari Nabi Isa As.

Nabi Isa As merupakan Rasul Allah yang gemar berkelana mendidik umatnya, hingga tak pernah pulang ke singgahan. Wajar saja karena Nabi Isa As memang tak punya rumah, tak punya istri, atau tak punya kegemerlapan dunia.

Suatu hari dalam sebuah lelanaan, Nabi Isa As melihat sebuah gunung besar. Oleh Allah SWT pun meminta Nabi Isa As untuk submit ke puncak gunung tersebut.

Dipuncak gunung tersebut, Nabi Isa mendapati sebuah batu besar yang warnanya putih bersinar. Bahkan mengalahkan putihnya air susu murni. Hingga hal tersebut membuat Nabi Isa As heran, takjub dengan kebesaran batu tersebut. 

Sambil berputar kiri kanan mengamati fenomena unik tersebut, Nabi Isa As dikejutkan dengan Firman Allah SWT.

" Isa, apa engkau takjub dengan batu tersebut ?".

"Iya Rabbi, keunikan batu tersebut membuat saya takjub atas kebesaran engkau mewujudkan batu tersebut", balas Nabi Isa As.

"Maukah engkau Aku (Allah SWT) perlihatkan hal yang mengherankan lagi", firman Allah SWT sekali lagi.

Karena Nabi Isa As mengiyakan firman Allah SWT. Akhirnya Allah pun mewujudkan keinginan Nabi Isa As. Dari balik batu tersebut terpecah, ternyata muncul sebuah ruangan. Didalamnya terdapat orang tua berjubah bulu dengan tongkat warna hijau ditangannya. Didekatnya ada sebuah wadah pula  yang berisi buah anggur.

Setelah Nabi Isa As mengucap salam kepada orang tua tersebut. Ternyata didapati informasi bahwa orang tua tersebut ternyata sudah berada didalam batu tersebut selama 400 tahun. Sekaligus melakukan sebuah ibadah shalat dalam cakupan waktu yang sama. Hanya berbekal hidangan anggur di wadah sebagai makanan pokoknya.

Pasca itu pula Nabi Isa As menduga bawa orang tua tersebut merupakan mahluk Allah SWT yang utama. Ternyata sekali lagi Allah SWT mengejutkan Nabi Isa As tentang sebuah hal yang lebih utama lagi dibandingkan kejadian tersebut.

" Isa, besok umat Muhammad yang mendapati malam Nisfu Sya'ban lalu sholat dua rakaat. Maka Itu yang lebih utama dibandingkan dengan shalatnya orang tua tersebut sebanyak 400 tahun", firman Allah SWT.

Mendengar firman Allah SWT, Nabi Isa As pun bermunajat kepada Allah SWT. " Ya Rabbi, sekiranya (Mbok Yoho; Jawa) aku termasuk umat Nabi Muhammad Saw". (End)

Merujuk hikayat tersebut dapat disimpulkan bahwa keagungan Nisfu Sya'ban memang sangat besar teruntuk umat Nabi Muhammad Saw.

Selain itu dalam Kitab Dzurratun Nasihin karya Syekh Usman Bin Hasan juga dipaparkan keagungan malam Nisfu Sya'ban. Dikatakan bahwa sahabat Ahtok memaparkan bahwa Nabi bersabda; Tidak ada malam yang utama setelah malam Lailatul Qadar, kecuali malam Nisfu Sya'ban.

Lima Nama Malam Nisfu Sya'ban.

Dalam pengajian kali ini Kyai Djamal juga menyinggung pula sebuah hikayat tentang nama nama malam Nisfu Sya'ban. Merujuk kitab Musyafatul Qulub Al Muqorribal Illa Alammil Ghuyyub karya Syekh Al Ghozali (Halaman 314).

Dikatakan bahwa malam Nisfu Sya'ban mempunyai 5 macam nama. Antara lain; Lailatul 'Idil Malaikah, Lailatul 'Itqi atau Lailatul Baro'ah, Lailatul hayat, Lailatul Maghfiroh wa Rahmah, dan Lailatul Syafaah.

Pertama, disebut Lailatul 'Idil Malaikah. Dalam kitab yang sama dikatakan pula bahwa bahwa malaikat itu mempunyai dua macam hari raya Ied diatas langit. Seperti halnya seorang muslim yang mempunyai dua hari raya Ied di bumi. Pertama adalah Lailatul Qadar, sedang yang kedua adalah Lailatul Nisfu Sya'ban. Sebab itulah muncul penisbatan Lailatul 'Idil (Ied) Malaikah.

Kedua, dikatakan juga sebagai Lailatul 'Itqi atau Lailatul Baro'ah. Disebut demikian oleh Kyai Djamal dirujukkan pada Kitab Adwabul Fatin karya Sayyid Mohammad bin Alwi Al Maliki Al Hasani Al Maliki (Halaman 259). 

Didalam kitab tersebut dipaparkan  sebuah hikayat dari Hadist Riwayat Baihaqi. Dikatakan bahwa menurut Sayyididah Aisyah dikatakan bahwa Rasulullah Saw bersabda: malaikat Jibril datang kepada-ku kemudian berkata. Malam ini malam Lailatul Nisfi Sya'ban, pada malam ini pula Allah SWT memerdekakan orang orang ahli neraka (Idhqi: Redaksi Arab). Jumlahnya sama halnya dengan jumlah bulunya sekelompok domba Bani Kalbin.

Hal inilah yang menjadikan Nisfu Sya'ban disebut juga sebagai Lailatul 'Itqi atau Lailatul Baro'ah.

Adapun redaksi neraka sebagaimana diatas oleh Kyai Djamal diartikan bukan terbatas pada neraka haqiqi. Namun juga bisa berarti neraka kubur (An narr Surrah). Sementara terkait Bani Kalbin dalam riwayat diatas. Oleh Kyai Djamal disebut sebagai sekelompok suku yang terkenal kehidupannya dengan ternak domba. 

Satu domba saja bulunya begitu banyak. Apalagi sekelompok domba yang tak jelas jumlah pastinya. Bisa berarti sejumlah lima puluhan atau bahkan seratusan. 

Sebenarnya hal ini tiada lain adalah metafora Malaikat Jibril As  yang tak bisa mengetahui jumlah pengampunan Allah SWT. Karena terlalu banyak, hingga Malaikat Jibril pun terpaksa memetaforakan dengan domba Bani Kalbin.

Sebenarnya ada cacatan khusus yang dibabarkan Kyai Djamal terkait riwayat diatas. Bahwa tak semua kelompok di merdekakan oleh Allah SWT, ada beberapa kategori orang yang dinafikan Allah SWT dalam pengampunan Nisfu Sya'ban. 
  1. Orang yang Musyrik dan tak taubat hingga mati.
  2. Orang yang tidak menyapa sanaknya (Nyatru: Jawa). Bisa karena pertengkaran perebutan keduniawian.
  3. Orang yang memutuskan hubungan sanak keluarga.
  4. Musabbil, orang yang memanjangkan (Ngelembrehake; Jawa) sarung, Jubah, Celana, dan lain sebagainya. Yang dilandasi rasa sombong.
  5. Orang yang menyakiti hati kedua orang tuannya dan tak minta keridhaan hingga mati.
  6. Orang yang minum minuman keras hingga mati sebelum bertaubat.


Ketiga, Lailatul Nisfi Sya'ban disebut juga Lailatul hayat. Hal ini dijabarkan pula dalam kitab Munasyafatu Qulub, Hadist riwayat Imam Al Mundhiri.  Bahwa barangsiapa yang menghidupi (Ihyak: Arab) malam Nisfu Sya'ban maka hatinya orang tersebut tak akan mati.

Menurut penjelasan Kyai Djamal sulit untuk mengetahui tanda tanda hidup atau matinya sebuah hati. Berdasar penjelasan Ibnu Atto'illah dikatakan ada dua hal yang menjadi indikator matinya hati seseorang, begitu juga sebaliknya. Pertama, tidak susah ketika meninggalkan ibadah. Dan Kedua, tidak menyesal ketika melakukan suatu dosa.

Terkait indikator pertama, dicontohkan Kyai Djamal hikayat dari dua sahabat Rasulullah Saw (Dalam Munasyafatu Qulub). Dalam hal ini Sayyidina Umar bin Khatab dan Abu Tolhah yang mempunyai keterbukaan hati. 

Dikatakan bahwa Umar Bin Khattab merelakan untuk mewaqafkan kebun kurmanya yang subur pada faqir miskin. Hanya Karena sahabat Umar lalai shalat Ashar Berjamaah sebab terlena dengan gemerlap kebun kurma.

Sementara Abu Tolhah juga hampir sama hikayatnya. Dimana Abu Tolhah memasrahkan kebun kurma miliknya pada Rasulullah Saw. Hanya sebab tak ingat jumlah rakaat sholat yang ia lakukan ditengah kebun. Saat itu gegara Abu Tolhah tergoda dengan keindahan burung Hibsi yang terbang hinggap di setangkai pohon kurma miliknya.

Keempat, Nisfu Sya'ban disebut sebagai Lailatul Maghfiroh wa Rahmah. Juga mengacu pada kitab Abwabu Farodj (209). Dikatakan bahwa Nabi Muhammad Saw mempunyai janji untuk berkumpul dengan Sayyidah Aisyah sesuai giliran secara adil. Namun Nabi tak kunjung pulang ke rumah, hasilnya Sayyididah Aisyah pun menunggu dengan penuh kesetiaan. 

Karena khawatir terjadi sesuatu, Sayyidah Aisyah pun mendatangi masjid yang dibuat Nabi shalat. Disana Aisyah mendapati Nabi sedang sujud berlama lama. Karena mengira Nabi wafat, Aisyah pun menghampiri Nabi dan memegang jari jari Nabi Muhammad Saw. 

Seketika Sayyidah Asiyah lega mendapati Nabi Muhammad Saw dalam keadaan belum berpulang, saat jari jari Nabi Saw bergerak dan menyebut sebuah bacaan dalam sujud. 

Usai shalat Nabi menghampiri Sayyidah Aisyah dan berkata, "Aisyah apa engkau menyangka Nabi akan mengkhianati (Redaksi: Khosya, Giliran) engkau".

" Tidak Ya Rasulullah, aku hanya memastikan keadaan engkau yang berlama lama sujud. Hingga aku mengira engkau berpulang, sebab itulah aku memegang jari jari engkau", sahut Sayyidah Aisyah Ra.

Sontak Nabi Muhammad Saw pun kembali bersabda, " Apa engkau mengerti bahwa malam ini adalah separuh bulan Sya'ban. Dimana Allah SWT akan mengampuni siapa saja orang yang meminta ampunan (Kecuali golongan. Diatas). Atau juga akan memberi Rahmat siapa yang meminta Rahmat".

Dari riwayat diatas inilah yang menjadikan Malam Lailatul Nisfi Sya'ban disebut juga sebagai Lailatul Maghfiroh wa Rahmah.

Adapun kelima, Lailatul Nisfi Sya'ban disebut juga sebagai Lailatul Syafaah. Masih dalam rujukan kitab Munasyafatu Qulub dikatakan bahwa Nabi pernah bersabda.

Bahwa pada tanggal 13 Sya'ban  itu Nabi bermunajat pada Allah SWT untuk memintakan syafaat Allah SWT teruntuk umatnya. Seketika itu pula Allah SWT memberikan fadholnya (Syafaat Nabi) hanya sepertiga umat Rasulullah Saw. 

Sementara pada tanggal 14 Sya'ban Nabi Muhammad Saw melakukan hal yang sama, hingga Allah kembali umatnya. Seketika itu pula Allah SWT memberikan fadholnya (Syafaat Nabi) hanya sepertiga umat Rasulullah Saw. 

Terakhir di tanggal 15 Sya'ban Rasulullah Muhammad Saw kembali melakukan hal serupa, seperti di tanggal 13 dan 14. umatnya. Seketika itu pula Allah SWT memberikan fadholnya (Syafaat Nabi) pada sepertiga umat Rasulullah Saw. Hasilnya genap sudah Syafaat Nabi pada seluruh umatnya ditanggal 15 Sya'ban  (Nisfu Sya'ban).

Hal inilah yang menjadikan Lailatul Nisfi Sya'ban disebut juga sebagai Lailatul Syafaah. 

Pengalaman Nisyfu Sya'ban

Terkait bagaimana kaifiyah pengamalan Lailatul Nisfi Sya'ban. Kyai Djamal memaparkan bahwa dalam Kitab Majmu Syarif Kamil juga sudah disinggung hal tersebut.

Usai shalat Maghrib dianjurkan shalat Sunnah mutlaq dua rakaat, dilakukan munfarid. Dalam rakaat pertama membaca Surah Al Kafirun dan di rakaat kedua surah Al Ikhlas. 

Setelah itu dianjurkan membaca Surrah Yassin sebanyak tiga kali. Seraya meminta tiga hal usai membacanya; umur panjang untuk digunakan sebagai beribadah, Lancar Rizkinya, serta kuatnya keimanan.

Barulah setelah itu kaifiyah dilanjutkan dengan membaca doa khusus sebagaimana dalam Majmu Syarif Kamil.

Namun jangan khawatir terbatasi waktu, di dalam kitab Munasyafatu Qulub justru amalan Lailatul Nisfi Sya'ban dilakukan lebih fleksibel. Alias tidak terbatasi waktu dan kaifiyah seperti kaifiyah dalam Majmu Syarif Kamil.

Dalam kitab tersebut disinggung bahwa Sayyidina Ali bin Abi Thalib pernah mendengar Nabi Muhammad Saw bersabda, "Kalah datang Lailatul Nisfi Sya'ban maka berpuasalah dipagi harinya dan shakatlah di malam harinya. Sebab (Fadhol) Allah SWT saat itu turun, sejak terbenamnya matahari hingga fajar pagi menyongsong. Barang siapa yang meminta pengampunan maka akan diampuni Allah SWT. Barangsiapa yang meminta Rizki Allah SWT maka akan di berikan Rizki pula. Barang siapa yang meminta kesembuhan maka Allah SWT juga akan memberikan sebuah kesembuhan.

Sebab itulah merujuk penjelasan Kitab Musyafatul Qulub dianjurkan untuk senantiasa menghidupi (Ihya: Arab) malam Lailatul Nisfi Sya'ban dengan segala amal untuk mendekatkan diri pada Allah SWT. Tidak terbatasi kaifiyah amalan seperti di Majmu syariS Kamil sebagimana diatas.

(Selesai)





Catatan:

Tulisan diatas merupakan hasil rangkuman resuman pribadi merujuk Pengajian Al Hikam Kyai Moh Djamaluddin Ahmad.

Waktu: 30 April 2018




Tidak ada komentar

Terima kasih atas masukan anda.