AFF 2018, Waktunya Hentikan Raja Sepakbola ASEAN

Sumber: Jawapos.com

Jika di Eropa Real Madrid masih terlalu superior dalam pergolakan Liga Champions Eropa. Usai Zidane cs mencatat Hattrick menuju final turnamen klub bergengsi se jagat. Pasca menjungkalkan tembok  kokoh Munich dengan agregat 4-3. 

Maka di Asia Tenggara Thailand lah yang terbilang pas sebagai penyandang metafora Real Madrid-nya Asia tenggara. Pertama, sudah tentu prestasi timnas mereka yang sulit tergusur dari posisi kampiun lintas batas Asia Tenggara.

Thailand bukan hanya mendominasi timnas senior saja. Prestasi lintas jenjang junior juga terbilang begitu menakjubkan. Bahkan superior mereka merambah pula ke rana sepakbola wanita dan event futsal.

Itu belum membincangkan Thai League sebagai liga paling royal se kawasan Asia tenggara. Bukan hanya prestasi peringkat rangking yang ditetapkan badan AFC. Tetapi elemen didalamnya juga terbilang begitu unggul. Seperti; sarana prasarana, pembinaan jenjang muda, hingga profesionalisme klub sepakbola. 

Maka tak heran jika banyak sponsor ternama yang tertarik untuk berinvestasi di Liga Thailand. Sebut saja; Chang yang menjadi sponsor utama Chonburi FC dan Buriram United, atau Toyota dan Yamaha yang menjadi sponsor utama perhelatan Liga 1 dan Liga 2 versi Thailand.

Dari segi prestasi tak perlu diragukan lagi. Buriram United misalnya, klub peraih titel terbanyak Thai Legaue tersebut bahkan mampu berbicara banyak di kancah Liga Champions Asia musim ini. Usai beberapa waktu lalu berhasil meramaikan fase knock-out, unggul atas Cerezo Osaka (Jepang) dan Jeju United (Korsel).

Sedang di Indonesia hal semacam tersebut tentu sangat dirindukan di era Milenial. Tercatat hanya enam klub lawas yang pernah merasakan fase knock-out di era 1990-an;  PSMS,  Karma Yudha Tiga Berlian, PSM, Arema Malang, Arseto Solo, dan Pelita Jaya Jakarta.  

Bukan semata mengunggulkan Thailand dan mengecilkan kekuatan sepakbola Indonesia. Penulis disini hanya menguraikan realita apa adanya tentang Thailand yang menjelma sebagai raja sepakbola Asia Tenggara.

Apalagi AFF akhir tahun 2018 nanti untuk kesekian kalinya timnas Indonesia akan  kembali diuji dengan mentalitas juara Thailand di babak awalan. Potensi mengejutkan Singapura, Filipina, atau Brunai - Timor Leste juga wajib harus diwaspadai. Apalagi AFF 2018 nanti akan diberlakuan sistem Home - Away sejak babak grub.

Sumber: Goal.com

Lantas apakah timnas Indonesia nanti mampu meruntuhkan dominasi "tembok Pagoda". Sebuah ekspektasi yang tentu sangat didambakan oleh stakeholder sepakbola Indonesia. Khususnya bibit muda pesepakbola yang menjadi sasaran sorotan ekspektasi berlebih tersebut.

Sebuah ungkapan klasik mengatakan banyak jalan menuju Roma. Semboyan yang kerap diplesetkan para Romanisti tentang jalan menuju Roma adalah hanya dengan menyelami klub ibukota bernama AS Roma.

Artinya banyak cara untuk mencari jalan agar Indonesia juara. Namun bagi penggiat bola jalan yang wajib di tempuh adalah hanya perlu menyelami semangat sang juara. Tak peduli bagaimana kondisi pertandingan yang dilakoninya. 

Tidak ada yang mustahil di sepakbola. Bahkan degradasi identitas sekalipun, seperti klub legendaris AC Parma yang terperosok kasta amatir Serie D di tahun 2015 gara gara kebangrutan total. Perlahan demi pasti berbekal semangat juara, klub yang bahkan pernah dibandrol Rp 14.000 (1 Euro) tersebut berhasil merangkak. Terkini Parma hanya perlu tiga kemenangan lagi untuk memastikan menuju gerbang promosi ke Serie A tahun depan. 

Sebab itu bukan hanya jajaran pemain yang tertuntut tampil "ganteng maksimal" dalam mengembangan skill dan teknik lapangan. Atau para coach, manager, dan official sebagai peracik format formasi dan strategi. 

Melainkan juga semangat juara juga harus diusung oleh Stakeholder lain. Semacam; suporter dengan kerusuhannya. Klub - klub dengan kepentingan egonya. jurnalis dengan kelebayan mengekspos berita. Ketua PSSI dengan kepentingan pilkadanya. Atau komentator "kroco" dengan kebusukan ocehannya.

Bukan tidak mungkin dominasi Real Madrid versi Asia Tenggara tahun ini akan runtuh di tangan Garuda Si Merah. Seperti upaya The Reds "Bango" yang berupaya mengkudeta Real Madrid di final Kiev Ukraina nanti.

Bukan tidak mungkin keajaiban akan kembali datang di sepakbola. Salam olahraga.

Tidak ada komentar

Terima kasih atas masukan anda.