Merangkai Dialeka Entah Berantah

Foto: Dokumentasi Pribadi

Malam ini gemerlap bintang bintang benar berlomba di jagat angkasa. Sayang kalau menawannya si bintang tak dapat ditranskrip dalam rangkaian dialeka. Nyatanya otak kembali dibuat bingung tentang sudut pandang apa yang akan dikaitkan dengan kenyamanan sebuah kenyataan.

Ditengah kebuntuan menulis rangkaian kata yang pantas untuk menemani zona kenyamanan. Akhirnya terbesit dibenak pesan senior HIMMABA kala penulis terdampar dalam event Diklat jurnalistik yang dibuat sendiri.

Saat itu memang event yang berbau pengembangan akademik kemahasiswaan memang sangat nihil diminati anggota. Dibandingkan dengan event semacam rihlah dan aneka relaksasi. Apalagi jika event tersebut harus merogoh kocek para mahasiswa. 

Ternyata dugaan kami kala itu itu memang terbukti benar. Hasilnya menggratiskan pun menjadi jalan pintas agar agenda Diklat yang dicanangkan bersama dapat diikuti banyak responden. Meski endingnya adalah kebangrutan kas kepengurusan sebagai bandar organisasi.

Sebenarnya dialeka ini bukan bermaksud menostalgiakan diri sendiri seputar perjalanan "pahit-manis" menjadi pengabdi organisasi ekstra kampus kala. Tapi buntunya pijaran otak akan sebuah coretan apa yang akan dituangkan dalam kesyahduan suasana.

Ternyata ada benarnya perkataan pemateri Diklat kala itu. Ia mengatakan bahwa sebuah tulisan merupakan gabungan antara tangan, otak, dan perasaan yang harus terus menerus diasah kemampuannya.

Artinya sebuah tulisan meski adakalanya tanpak biasa, monoton, atau bahkan tak memiliki daya tarik. Namun dibalik itu semua benar terdapat sebuah sudut pandang yang epic dalam setiap rangkaian dialeka yang dibuat oleh si pengguna.

Didalamnya juga terdapat sebuah "ruh" tulisan yang menjadi sebuah karakter pewacanaan agar tampak hidup. Istilah ruh disini bukan berarti penulis membawa embel embel seputar hal hal spiritual dan aneka metafisik. 

Ini hanya soal metafora, itinya sebuah tulisan dari rangkaian dialeka dikatakan hidup jika benar dibuat oleh si pengguna berdasarkan karakteristik dan keadaan si pengguna di suatu masa.

Hal ini pula yang akhirnya kerap membedakan sebuah genre tulisan antara si pengguna satu dengan yang lain. Termasuk pula sudut pandang alur sebuah dialeka tulisan, sekaligus pemaknaan pesan antar dialeka dari para pengguna. 

Toh semuanya tak ada yang perlu diperdebatkan, karena memang model sebuah gaya tulisan dipengaruhi oleh karakteristik pola pikir si pengguna. Dimana sebuah pengalaman lah yang mempengaruhi seberapa jauh si pengguna mengeksplorasi setiap fenomena yang dialaminya.

Inilah hal tersulit dari merangkai sebuah dialeka. Mungkin sama susahnya dengan merangkai kata kata dialeka puitis yang akan dikumandangkan kepada sosok nan terkasih, teristimewakan sejagat Lil alamin. Kadang pula harus rela buntu akan hal apa yang akan ditranskrip dalam rangkaian kata oleh si pengguna. 

Sebelum dipungkasi rubik entah berantah ini. Penulis teringat pertanyaan besar dibenak tentang mengapa kerajaan kerajaan kawakan semacam Majapahit, Singosari, Kahuripan, atau Sriwijaya mampu tetap lestari dalam belantara  jaman milenial.

Sudah tentu semua itu berkat kontribusi para empu empu ternama yang menjadi pentranskip fenomena kerajaan dalam sebuah catatan kepenulisan. Atau prasasti prasasti wacana raja yang direkam dalam sebuah "font font" dalam media tertentu.

Dengan kata lain melalui sebuah tulisan pula akan mampu melestarikan tuntutan kehidupan. Melalui sebuah tulisan pula akan terdeteksi corak sudut pandang murni dari seorang si pengguna. Seperti penjelasan Ahmad Baso tentang "teks" yang bersifat tetap, absolut, tidak seperti dialeka lisan yang cenderung berubah ubah berdasarkan emosional si pengguna.

Terakhir, selamat merangkai dialeka sebagai kedalaman penghayatan perasaan. Sebelum semakin buntu tentang apa yang harus diuraikan dalam rubik entah berantah. Meminjam istilah Aktivis cendekiawan angkatan lama - Mahbub Djunaidi, dikatakan "Aku menulis tentang segala yang aku lihat".

Mungkin ini pula yang melatarbelakangi para Romo Yai kerap mewanti - wanti agar berkawan dengan buku catatan dan pena gegawan. Seraya berpesan agar mencatat berbagai ilmu yang dijumpa. Alasannya jika kalau tak dicatat maka tentu akan mudah lupa, hilang dilahap masa yang berubah ubah. Wallahu alam.



Lamongan, 4 Mei 2018 ( 22.00 Wib)

Tidak ada komentar

Terima kasih atas masukan anda.