Ekspektasi Warna Hijau Di Parangtritis


Entah mengapa cuaca akhir akhir ini begitu panasnya luar biasa. Hujan tak lagi turun menyegarkan bumi dengan air surgawi. Apalagi berekspektasi lebih dengan kehadiran sang pelangi yang tak tahu kapan lagi akan menampakkan kembali sebuah hiasan warna warni.

Sayang engkau kembali tak disini. Apa mungkin akibat engkau ikut menjadi korban pengukuhan PTUN tentang pembubaran HTI. Sehingga tak tahu lagi harus singgah ke mana lagi gerangan akan pencarian jati diri. 

Padahal suasana menjelang sore menyapa kali ini sangatlah istimewa. Untuk bersama berimajinasi tentang apa arti sebuah kesatuan negara republik ini. Gemuruh gerombolan ombak pantai selatan membisingkan telinga dari berbagai "penggacor" yang memuakkan. Sementara hembusan angin laut menggerakkan rambut kepala untuk melambaikan sebuah keajaiban khayalan.

Ya, pantai Parangtritis di Bantul Yogyakarta memang sarat varian kenangan beberapa pengguna seputar memorial di masa lampau. Masih melekat pula mitos klasikal tentang larangan memakai pakaian hijau ketika berkunjung ke sana.

Jika dulu alasan klasik pelarangan warna hijau adalah penisbatan hal hal mistikal Kanjeng Nyi Roro Kidul yang suka warna hijau. Hingga mitosnya jika Nyi Roro Kidul kepincut kepincut pengguna warna hijau, maka orang tersebut akan dibawa paksa ke singgasana.

Namun ketika warna hijau dikaitkan dengan konteks kekinian yang lebih sesuai realitas. Maka warna hijau pas jika dikaitkan dengan warna Identitas kepartaian.

Hasilnya warna hijau kerap direpresentatifkan sebagai warna kebesaran PKB dan PPP.  Sama halnya dengan warna hitam yang kerap dikaitkan dengan PKS dan Ormas Politik HTI. Atau warna merah yang disebut warna kebanggaan PDI P.

Hingga ijo-ijo menjadi sebuah daya tarik tersendiri bagi Presiden Joko Widodo selaku mandataris Kanjeng Nyi Roro Kidul. Guna membawa beberapa pihak ijo ijo tersebut ke dalam " koalisi keraton istana". 

Lantas mengapa harus warna ijo yang dipilih. Baik untuk dibawa ke keraton sitinggil langit laut kidul, atau setinggil-nya Pak Jokowi. Mungkin apa karena pengaruh dominasi warna hijau yang benar menyuguhkan hidangan segar menggoda yang siap disantap dengan lahap. Atau adakah kepingan kaitan lain yang dapat dirangkai dalam momentum lain.

Belum selesai berekspektasi lebih banyak tentang godaan warna hijau. Dengan  suguhan ombak pantai laut selatan yang menyuguhkan khayalan tingkat tinggi dalam pembukaan tabir laut selatan. Tapi sayang si pengguna harus menanggalkan zona nyaman merangkai tulisan oleh aparat pantai atas pemakaian fasilitas payung payungan tanpa biaya tunjangan.

Padahal hanya mampir sejenak untuk berlindung dari sengatan panas matahari menjelang sore hari. Begitulah nyata apa adanya, bahwa tak ada yang murah untuk mendapatkan hal lebih. Termasuk melanjutkan aneka momentum yang dianggap sebagai zona nyaman.



Ditulis di: 
Parangtritis Yogyakarta, 9 Mei 2018



Tidak ada komentar

Terima kasih atas masukan anda.