Langgar Kidul dan Segala Argumentasi

Foto: Dokumentasi

Tak banyak memang yang paham peninggalan sejarah. Mungkin kebanyakan hanya mengetahui dari wacana tulisan buku kesejarahan yang imajinatif. Salah satunya adalah istilah "Langgar Kidul" di Kauman Yogyakarta.

Meski cukup banyak beberapa literatur online berkaitan historitas Langgar Kidul Sebagai tonggak awal perjalanan Kyai Ahmad Dahlan dan Muhammadiyah. Realitanya cukup banyak pula pihak yang tak paham betul istilah tersebut. Atau bahkan acuh apatis dari segala historitasnya.

Penulis sendiri termasuk kategori kedua, yang memang hanya mendengar lewat film "Sang Pencerah" buatan Hanung Bramantyo. Sebuah film yang mengurai sekilas sosok Ahmad Dahlan dan berbagai gebrakan dan inovasi pembaharuan, seperti kasus pergeseran kiblat Masjid Gedhe Kauman Jogja.

Wajar saja secara background pribadi, penulis terbilang tak pernah bersentuhan langsung dengan organisasi Muhammadiyah. Satu satunya yang penulis tahu dimasa lalu adalah amalan Muhammadiyah yang berbeda dengan Nadhlatul 'Ulama. Semacam; Tahlil, Ziarah Kubur, Qunut Sholat Subuh, hingga Terawih delapan rakaat.

Baru setelah penulis bersentuhan bangku perkuliahan. Penulis mulai sedikit terbuka tentang berbagai informasi baru seputar Muhammadiyah dan sejarah pergerakannya.

Salah satunya adalah dogma bahwa Muhammadiyah sebenarnya   sama dengan Nahdlatul 'Ulama. Pertama, hal yang tak asing bahwa Kyai Ahmad Dahlan (Pendiri Muhammadiyah) dengan. Kyai Hasyim Asy'ari (Pendiri NU) adalah rekan seperjuangan semasa nyantri di Syekh Sholeh Darat.

Dalam bahasa lepas bisa dibilang Kyai Ahmad Dahlan merupakan "Konco Ngopi" Kyai Hasyim Asy'ari. Namanya "Ngopi" tentu sangat mungkin terjadi sebuah hubungan interaksi kajian dan perbincangan pergerakan kebangsaan antar dua tokoh hebat tersebut. 

Toh, secara kebetulan atau tidak bahwa antara kedua organisasi dirian dua tokoh tersebut seakan saling melengkapi satu sama lain. Terutama dalam ruang cakupan wilayah sasaran dakwah. Muhammadiyah dengan basis masyarakat Yogyakarta yang elitis, birokaris, ningrat, dan burjois. 

Sangat berbeda dengan  NU yang bergenre "budaya tradisional". Dengan menyasar kaum santri dan para kyai ataupun 'Ulama melalui berbagai lembaga non formal yang awalnya nihil  birokrasi.

Foto: Dokumentasi

Kembali ke pembahasan awal langgar kidul. Berdasar pengamatan penulis dalam studi tour Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) UIN Maliki Malang tahun 2014 lalu. Ternyata sangat sulit mendapatkan informasi "live" tentang letak lokasi dimana Langgar Kidul berada. Tanpa memakai alat bantu internet semacam google map dan sejenis.

Banyak pihak dari penjual dan beberapa jamaah sholat masjid Gedhe yang sempat penulis tanya kala itu. Namun mereka tak mengetahui jelas dimana lokasi tersebut. 

Foto: Andiksaputra.net
Bagian Dalam Langgar

Setelah berlama mencari akhirnya penulis mendapati pula lokasi Langgar legendaris tersebut. Itu pun untuk menemukannya membutuhkan tambahan keyword " Langgar Kidul Kyai Ahmad Dahlan".

Sebuah hal yang tak mengejutkan memang. Karena Muhammadiyah terkenal dengan pandangan inovatif ke depan, dan mengurangi kadar menoleh ke belakang. Alias mengurangi porsi memperhatikan seputar hal berbau peninggalan kesejarahan masa lampau.

Perlu sebuah bukti, lihat saja kondisi makam Nyai Ahmad Dahlan (istri Kyai Ahmad Dahlan) yang terletak di pojok belakang masjid Gedhe. Dimana mencapainya harus melewati gang kecil kiri Masjid Gedhe Jogja. (Tak Sempat Penulis Dokumentasikan)

Ternyata keadaan makam tersebut terlihat berbeda dari kondisi makam ulama yang berlatar belakang Nahdlatul 'Ulama. Area makam yang dikelola ahli waris keluarga tersebut terdapat pagar besi yang digembok pula. Bahkan didalam makan yang sederhana tersebut dipenuhi beberapa semak dan daunan kering yang cukup lebat.

Nambor Petunjuk
Foto: Dokumentasi

Kesederhanaan makam Nyai Ahmad Dahlan sebenarnya sama pula dengan makam Kyai Ahmad Dahlan sendiri. Berada di area terpisah, tepatnya di karangkajen. Makam pendiri Muhammadiyah tersebut juga sangat sederhana dengan kondisi keheningan yang cukup tinggi, sangat jauh seperti makam 'Ulama legendaris lain.

Tanpa bermaksud mengurangi ta'dhim kepada Muhammadiyah. Dua hal diatas sebenarnya merupakan hipotesis pribadi bahwa Muhammadiyah memang lebih memandang ke depan. Mengusung semangat inovasi seperti konsep Islam berkemajuan yang digagasnya. Namun terkadang sepintas gerakan Muhammadiyah terkesan mengurangi kadar historis masa lalu.

Keadaan Langgar Kidul yang tampak sederhana. Nihil dari proses pembangunan hal berbau fisikal. Menjadi afirmasi lain hipotesis penulis sebagaimana diatas.

Meski sebenarnya juga kurang cocok jika Muhammadiyah disebut tak menghargai estafet perjuangan. Buktinya Langgar Kidul masih tetap eksis dalam pengelolaan. Bukan dibiarkan kosong tanpa perawatan, atau sekedar dipakai tempat ibadah belaka.

Ruang Majlis Tahfiz Qur'an di Langgar Kidul
Foto: Dokumentasi

Bahkan Langgar Kidul yang dikelola ahli waris Keluarga Ahmad Dahlan. Kini juga resmi distatuskan sebagai situs warisan budaya oleh Walikota Yogyakarta.

Menariknya bangunan legendaris tersebut kini juga digunakan sebagai pusat pendidikan. Mulai dari lembaga Taman Pendidikan Al Qur'an, pengajian jamaah ibu Aisyiyah, hingga menjadi pusat kajian para mahasiswa terutama yang berafiliasi kepada Muhammadiyah.

Sebut saja seperti Universitas Ahmad Dahlan yang sempat penulis jumpai beberapa hari lalu disana. Ketika penulis untuk kedua kalinya terdampar singgah di Langgar Kidul Kyai Ahmad Dahlan (09/05/18).

Sayang nihilnya pihak yang berkunjung ditambah tak ada kesempatan menanyai beberapa mahasiswa. Menjadi sebuah kendala dalam penggalian informasi tentang hal lebih dari sekedar Langgar Kidul.

Akhir kata Wallahu 'alam Bi As Showab. Salam MuhammadiNU



Menjelang Senja,
Kauman, Jogja - 09 Mei 2018

2 komentar:

  1. Saya Muhammadiyah. Baru tahu sejarah langgar kidul. Hahaha. Mantab mas. Lanjut

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih atas kunjungannya. Masukan dan saran selalu terbuka.

      Hapus

Terima kasih atas masukan anda.