Semprol, Sontoloyo, dan Pisuhannya


Foto: Pesan Berantai WhatsApp
Lagi lagi bom bam bom, membunuh orang yang tak tahu apa apa. "Yah, beginilah bang kondisi negeri ini", celetuk si semprul yang pasrah dengan kondisi.

Entah apa salah dari negeri ini, hingga para dedengkot putra pertiwi kerap sesuka diri melancarkan berbagai aksi kekerasan. Melebihi batasan nilai kemanusiaan sebagai fitrah pemberian Tuhan.

Bukankah mereka makan minum dari hasil negeri. Berekspresi bebas dan berdemonstrasi dari konstitusi bangsa sendiri. Bahkan dilahirkan oleh rahim wanita produk Pertiwi. 

Lantas mengapa putra pertiwi sendiri yang membuat goncang ganjing jagat Kenegaraan. "Bukankah ini hal yang aneh cuk", pisuh si sontoloyo ikut ikutan emosi melihat foto foto korban bom yang diperlihatkan si semprol.


Hanya orang yang "nggeragas kedunyan" yang hobinya suka membuat gaduh. Melalui aksi keji anarki yang kadang menyisakan tumbal para amatir yang tak tahu apa apa.

" Mungkin Itu yang namanya jihad jaman kekinian bang. Membuat gaduh suasana berdalih membela dan menolong agama. Dengan cara menumpas segala kemusyrikan yang tak sesuai agama", pikir si semprol mendadak "kemeruh" usai nyeruput kopi.

" Semprol, Ini bukan jaman perang cuk. Kenapa mesti harus bom bam bom sana sini. Membunuh amatiran yang tak tahu apa apa. Bukankah ini namanya juga menistakan kekuasaan Tuhan sebagai satu satunya Dzat yang pantas mencabut nyawa hamba-Nya".

Bahkan berita lintas telivisi pun tak hentinya pagi ini menyiarkan kabar bom tumbal diri. Mengabarkan kebejatan titisan Ya'jud Ma'jud yang gemar merusak tatanan kemanusiaan. Berkomentar bebas mengutuk si tetua juragan proyek tersebut.

" Itu proyekan cuuk, si juragan besar jelas menang banyak atas suksesnya rencana bejat tersebut. Mampu membuat gempar jagat pemberitaan. Tanpa perlu susah susah ikut angkat pelor dan tusuk tusukan gaman. Atau harus harus mengorbankan nyawa sendiri yang dianggap berharga".

" Wenak toh son, jobdisnya tinggal suruh babunya untuk mati dengan bom diri. Dengan petuah iming iming surga yang akan didapatkan kelak di akhirat ".

" Itu rezim namanya cuuk. Antipati dengan pemerintahan Jokowi yang dianggap rezim sesat. Tapi tak sadar tindakan si bos atas proyeknya juga melebihi posisi rezim. Malah sebagai penyaing kebijaksanaan Tuhan atas wewenangnya melebihi batas kuasa seorang hamba-Nya".

" Itu bukan rezim lagi cuuk. Lebih tepat lagi rezim gocik. Yang kerjanya suka ngumpet dan mengendalikan awam dari persembunyiannya. Lalu menyebar kerusakan secara gerilya pada amatiran negara. Bukan pada Trias politika yang dianggap sumber kedholiman ".

"Apalah, namanya juga manusia si plagiat Tuhan. Hobinya tertawa diatas penderitaan orang lain, disertai tindakan genosida biadab yang tak kemanusiaan", tawa sinis  kedua amatiran membincangkan topik yang bukan level mereka.

" Ini perbincangan level tingkat dewa !!!".


Tidak ada komentar

Terima kasih atas masukan anda.