(8) Aliansi Punakawan


Foto: Dokumentasi (Museum Borobudur)

Latar suasana kali ini masih fokus dengan gonjang ganjing negeri Imantaka. Negeri yang populer dengan ramah tamah, namun tercoreng dengan kotoran  sempalan yang tak tahu balas budi.

Ya, sudah lama memang tak terdengar tentang dialek punakawan. Mungkin mereka lagi sibuk menyiapkan diri ikut sayembara politik. Memutuskan koalisi dengan tokoh elitis yang dianggap berelektabilitas tinggi.

Di Imantaka Petruk si kantong bolong masih berdebat ricuh tentang gonjang ganjing di jagat Imantaka. Dengan Dewi Ning Mustikaweni yang sebelumnya menjelma menjadi wanara. 

" Ini soal peneguhan identitas diri. Di Imantaka keyakinan terhadap implementasi nilai ketuhanan memang menjadi nomor Wahid. Bukan soal siapa Tuhannya, namun bagaimana penghuni Imantaka mampu menerapkan nilai ketuhanan".

" Rasanya teori teori yang terbatas pada imaji dan ekspektasi yang telah lama mewabah. Seakan bak aturan kosong tanpa eksistensi tiada arti ", Mustikaweni mengawali perbincangan.

" Pohon beringin tua yang konon dianggap sebagai media pemersatu aneka identitas, tampaknya telah tereduksi peranan. Kini beralih sebagai alat bantu pasar budak dalam rekrutmen ",  Petruk  ikut berwejang.

" Entah siapa yang memulai melestarikan kembali pasar budak. Banyak juragan besar yang kembali berlomba mengiming iming rakyat amatiran, agar menjadi pengikut setia yang  dipaksa  menghamba hingga nyawa taruhannya ", Mustikaweni mencoba memunculkan sebuah argumentasi pertanyaan.

" Bukankah pasar budak telah lama dihapuskan karena tak sesuai falsafah kemanusiaan ?", Kata Mustikaweni sekali lagi.

" Memang demikian, di era kekinian banyak pribumi yang tenggelam dalam ketidak sadaran esensi nilai kemanusiaan. Hingga memperlakukan pihak other sebagai budak yang digunakan sebagai alat memperkokoh Identitas diri ".

Inti perbincangan diatas menyoroti salah kaprahnya penghayatan nilai ketuhanan yang diusung tanpa membawa cangkang nilai kemanusiaan.

"Aku kini tahu apa alasanmu merubah diri menjadi wanara. Sebenarnya engkau frustasi terhadap fenomena gagalnya memerger nilai kemanusiaan dengan nilai ketuhanan, hingga lahirkan citra buruk kolaborasi gagal tersebut ", Petruk menyahut sok tahu.

***

Ditengah tengah keheningan introspeksi dua pewayangan. Suasana dikejutkan dengan penyerangan sosok hitam misterius secara dadakan.

Adu tanding siapa yang  paling jago pun tak elakkan terjadi. Dengan lihainya Petruk loncat sana kesini, semua berkat fisik kurus kerempeng yang seolah bak pengendali angin.

Begitu juga Mustikaweni yang tak beranjak dari dekat pohon beringin tua dengan Selendang sakti. Itulah usahanya untuk melindungi pohon keramat tersebut, menerka kalau ada yang berniat merusaknya.

Dar Dur dor gaman sosok hitam tersebut mengeluarkan ajian yang mengelegarkan telinga. Bak bom tumbal diri yang mengguncang bagian Imantaka.

Petruk pun terpaksa mengeluarkan senjata Pethel welgeduwelneh miliknya. Diputar putar pethel tersebut hingga mampu menjadi tameng penghalang serangan dadakan si sosok hitam misterius.

" Dari model serangan senjata itu tampaknya aku mengenal identitas orang ini ", gumam prabu Petruk welgeduwelbeh.

***

Seketika terdengar suara sosok yang tak asing lagi bagi Petruk. " Hentikan seranganmu Togok".

" Guru Smarasanta !, Apa maksud dari semua kekacauan ini. Mengapa Togok disini bersama engkau  ", Petruk mencoba mencari tahu alasan utama.

" Welgeduwelbeh, aku disini hanya ingin memastikan kondisi Imantaka yang hancur lebur akhibat ulah budak budak awam yang mati mengenaskan. ", sahut Togok ikut serta dalam perbincangan.

" Bukankah engkau mempunyai tugas khusus untuk menghasut para ksatria hingga menjadi rakasa yang lupa daratan ", tutur Petruk.

" Status mereka sebagai mahkluk mulia justru terkadang memunculkan pemahaman lebay nilai ketuhanan. Terkadang juga diimplementasikan penuh bahkan menjebol batasan nilai dzatiyyah yang bersifat tunggal. Seperti; hak membunuh sesama, pembenaran diri, hingga pengkafiran yang tak ada henti ", Togok membalas argumentasi Petruk.

Sebuah hal yang epic memang. Togok yang semula kerap bersebelahan dengan argumentasi punakawan garis kanan. Mendadak ia ikut terbawa emosi atas kondisi Imantaka. 

" Manusia yang berwujud syetan memang lebih menakutkan. Dibandingkan dengan setan alami yang hanya sekedar memprovokasi nafsu syahwati belaka ", gumam Togok.

" Jika Imantaka hancur lebur. Maka sia sia pula usaha penggalangan propoganda partai Togok menyodok ".

" Mari bangun aliansi bersama. Rapatkan barisan untuk perbaiki stabilitas kemanan dari para sempalan busuk. Tak peduli memandang apa identitas kita.  Bahwa barangsiapa yang mencoba memporak porandakan Imantaka. Maka wajib ditumpas habis sampai akar akarnya ", teriak Kyai Semar dengan nada keras membara. 

Sebuah hal yang mengejutkan bagi titisan Hyang Ismaya. Kala itu tak seperti hari biasanya yang beperangai lembut menyejukkan suasana.

Sayembara punakawan ditutup dengan kejutan datangnya Sang Garuda. Tokoh sentral yang sudah lama dicari oleh para punakawan garis kanan. Untuk dimintai keterangan tentang pusaka garda pancasirah berada.

Sambil mencengkram pita hitam di antara jemari kakinya. Bertulisan dialek nantang pada para sempalan busuk. " Teroris Jancuk", kurang lebih begitu tulisannya.



(Dibuat pada Senin, 14 Mei 2018)




Tidak ada komentar

Terima kasih atas masukan anda.