Menyoal Ajaran Mistik Jawa Klasik (Bagian I)

Foto: Google

Suyono dan Buku Mistisnya

Kebhinekaan Indonesia sangatlah beragam, termasuk dalam perbedaan kepercayaan yang sangat multi. Dalam kesempatan kali ini, tulisan lepas pribadi hanya fokus pada tema kepercayaan Jawa klasik. 

Sebenarnya latar belakang perangkaian tema kali ini bermula dari tafakur pribadi tentang berbagai kepercayaan Jawa klasik yang sarat mistis. Sebut saja semisal; adanya "dulur" kembaran kala lahir, perihal aura roh, hingga arwah gentayangan.

Dikarenakan sangat sulit untuk dinalar dengan bahasa akal. Maka mencari titik temu antara mistik dengan rasio kongkrit sungguh sangatlah sukar. 

Ini belum termasuk anggapan relatifnya kebenaran yang melekati kepercayaan tiap individu. Sebab itu penarikan simpulan hipotesis dalam tema kali ini merujuk pada pandangan Capt Suyono, seorang eks pelaut yang banting setir menjadi pengamat dunia mistikal.

Lewat bukunya yang berjudul Rahasia mistik orang Jawa yang ia sadur dari kitab klasik serat Walisanga. Suyono menuturkan beberapa teori mistik jawa, mulai dari komposisi unsur roh hingga proses kematian.

Komponen Halus Manusia

Dalam bukunya sebagaimana diatas, Suyono menyebut bahwa manusia terbentuk dari dua unsur. Dalam hal ini unsur jasmani (fisik) dan rohani (metafisik). 

Unsur jasmani ia sebut berperan sebagai kendaraan bagi unsur rohani untuk bereksisitensi dalam alam madyapada ( alam dunia). Sedangkan unsur rohani (metafisik) berperan sebagai unsur pembangun tatanan kehidupan. 

Unsur jasmani tak perlulah dijelaskan, mengingat sudah jelaslah ketampakan hal tersebut. Sedangkan unsur rohani (metafisik) secara umum oleh Suyono dibagi menjadi tiga bagian.

Pertama adalah ruh (Atma) yang disebut mempunyai keterkaitan dengan unsur ( fitrah )  ketuhanan. Jika dikaitkan dengan Islam bisa jadi unsur ini sepertihalnya penjelasan fitrah manusia yang secara alamiah menghamba pada Allah SWT sebelum tercipta kehidupan. Dalam tasawuf, jenis  kategori ini seperti; ruh Syekh Abdul Qadir dan Imam Ghazali yang dijumpai Nabi Muhammad Saw kala Isra mi'raj.

Kedua, oleh Suyono dimunculkan istilah Budhi ( jiwa kerohanian ). Perannya adalah untuk berkomunikasi dengan alam duniawi. Budhi masih menyandang unsur kefitrahan pada diri tiap Manusia. Sebelum akhirnya diselaputi oleh unsur lain (unsur ketiga) yang rentan terkena  pengaruh stimulus sifat baik - buruk dari luar.

Unsur ketiga ini oleh Suyono disebut Kamarupa alias badan halus. Seperti badan jasmani yang diselaputi kulit kasar, Kamarupa (badan halus) juga mempunyai sebuah kulit halus. Yang bentuk fisiknya juga persis menyerupai bentuk fisik tubuh jasmani seseorang.

Artinya dalam falsafah Jawa klasik, seorang manusia mempunyai dua badan sebagai wadah ruh. Dalam hal ini badan fisik (jasmani) beserta organ organnya, serta badan halus (Kamarupa) beserta kulit halus ( Lingga Sharira ).

Melalui badan halus ini pula terpancar sebuah aura alias magnet kehidupan. Yang tentu berbeda antar individu tergantung kepekaan badan halus dan pengaruh stimulus baik - buruk yang menjangkiti.

Arwah Gentayangan.

Sub tema ini terbilang juga sulit dinalar dengan Indra logika. Karena memang sebuah hal mistis sulit untuk dibuktikan dengan rasionalitas kongkret. 

Dalam Islam memandang bahwa tatkala manusia berjumpa dengan kematian. Maka ia akan berganti alam, dari alam duniawi menuju alam barzah (alam kubur) sebagai alam penantian. Jadi tidak mungkin seseorang yang berganti alam mampu bereksisitensi dengan alam sebelumnya, alam duniawi.

Kalaupun itu terjadi, tasawuf memandang hal tersebut tercipta atas Fadholnya Allah SWT. Seperti anggapan ruh orang alim yang dianggap masih hidup atau dogma ahli kubur yang pulang ke rumah tiap malam Jum'at.

Dengan kata lain mengacu berbagai argumentasi  diatas. Dapat ditarik premis bahwa mahluk yang kerap menyerupai manusia yang meninggal. Atau dalam pandangan umum dianggap memedi hingga hantu. Itu tidak mungkin arwah hakiki dari orang tersebut.

Pandangan Islam kerap menyebut bahwa Jin sebagai pihak yang mempunyai andil besar dalam peristiwa tersebut. Tentu dengan kelihaian menyamar dan merubah bentuk secara elastis. 

Anggapan ini sangatlah logis, namun dalam pandangan Jawa klasik terdapat pandangan lain sebagai penguat. Dimana eksistensi badan halus (Kamarupa) yang menjadi sebab terjadinya peristiwa tersebut. 

Dikatakan oleh Suyono bahwa saat manusia meninggal dan tercabut ruhnya. Maka badan halus dari orang tersebut tidak langsung ikut mati seperti organ badan jasmani.

Ini disebabkan adanya pertalian tali jiwa (Suratma), antara Atma (jiwa) dengan Kamarupa (badan halus) beserta kulit halus (Lingga sharira). Nah, pemutusan tali jiwa antara badan halus dengan unsur Atma tidak dilakukan spontan, melainkan berlahan-lahan dengan batas waktu yang berbeda.

Dengan demikian premis yang dapat ditarik adalah anggapan adanya ruh gentayangan  terjadi dari (badan halus) Kamarupa yang tali jiwanya belum sepenuhnya terputus antara keduniaan dengan kelangitan. Selain faktor rentannya kamarupa yang tanpa kendaraan fisik akan pengaruh negatif dari luar seperti stimulus jin dan sejenisnya.


Bersambung Bahian II 
( Magnet Halus )

2 komentar:

Terima kasih atas masukan anda.