Rasisme, Jalan Liku Sepakbola

Foto: Goal.com
Penampilan terakhir Ozil

Delapan tahun lalu sang imigran asal Turki ini menjadi pujaan warga Jerman. Tendangan kerasnya dari luar penalti di menit 60 ke gawang Ghana bersambut gol cantik di sudut gawang Richard Kingson. Praktis Jerman pun berhasil lolos dari partai hidup mati fase terakhir grub D.

Meski hanya mencetak sebiji gol sepanjang pagelaran Afrika Selatan, namun De Rabe (Si Burung Hantu) membuktikan diri sebagai kaisar lini tengah. Berkat dirinya pula Thomas Muller, Lucas Podolski, hingga Miroslav Klose mampu menjadi pembunuh kotak penalti lawan, termasuk kala membantai Messi cs 4 gol tanpa balas di perempat final.

Siapa sangka delapan tahun berlalu, pembuktian dan pengorbanan si burung hantu harus bersambut sad ending.

Nostalgia Ozil dengan tanah nenek moyangnya bersama presiden Tayyip Erdogan (Turki) pada akhirnya malah menjadi senjata makan tuan. Bersambut kecaman dan kritik keras dari pihak stekholder Jerman termasuk DFB atas anggapan nuansa politikisasi.

Dampaknya tak terduga, secara mengejutkan bintang Jerman di Piala Dunia 2014 tersebut memutuskan pensiun dini dari caps internasional. Sebuah anggapan kekecewaan Ozil atas feedback negatif dari perjuangan yang ia digoreskan.

Ozil, Sebuah Luapan

Disini penulis tak bermaksud mengurai kembali kronologis kasus bermuatan gejolak etnis tersebut. Atau mencoba berhipotesis mengaitkan dengan konflik politis Turki - Jerman yang setahun bergejolak. 

Bagi pribadi selaku penikmat drama bola, isu kontroversi Mesut Ozil yang bersambut dua kutub; pencitraan politikisasi dan deskriminasi etnik. Hal ini tiada lain merupakan puncak luapan dari kekecewaan fans fanatik Jerman atas ratting negatif yang didapatnya di Rusia 2018.

Bukan rahasia lagi bahwa Ozil begitu memplem sepanjang penyisihan grup F. Menjadi starter dua kali dari tiga laga yang dimainkan, nyatanya kedua-duanya berbalas dua kekalahan pula, kalah 0-1 atas Mexico dan 0-2 atas Korea Selatan.

Meski menguasai attacking possision ball, lini tengah Jerman yang digalang Ozil malah dibuat kocar-kacir dengan serangan balik cepat dari Hirving Lozano ( vs Mexico) dan Son Heung Min (vs Korsel). Padahal skuad Jerman kala itu termasuk mempunyai kedalaman dan pengalaman yang merata antar lini.

Lebih parah lagi Ozil gagal mewujudkan ekspektasi publik akan passing manja seperti yang biasa dilakukannya. Justru tak adanya Ozil dalam line up, Jerman mampu meraih satu satunya kemenangan di fase grup, menjungkalkan pragmatisme Swedia 2-1.

Maka tak mengherankan jika isu pertemuan Ozil dengan Erdogan sebelum bergulir Piala Dunia 2018 memicu kekecewaan bersambut opini negatif warga Jerman. Persis seperti opini chairman Bayern Uni Hoeness yang menyebut Ozil sebagai hantu dalam timnas Jerman.

Rasisme, Way of Life

Memang rasisme atas nama etnis merupakan sebuah benalu yang menjadi hama dalam dunia bola. Meski FIFA kerap mengkampanyekan gerakan " Say no Racism" tiap menjelang kick off laga internasional. Namun fakta lapangan masih banyak dijumpa diskriminasi rasial yang menyekat perbedaan ruang antar stekholder bola.

Hal ini terbilang tak mengejutkan sebagai gejala sosial yang dipaksakan masuk dalam peradaban bola. Jika dilihat dari sudut pandang historis, memang sepakbola awalnya merupakan produk yang dikhususkan kalangan tertentu. Lihat saja Piala Dunia pertama Uruguay 1930 yang hanya terkhusus tim undangan yang sekubu saja. 

Jika dibuat sebuah simpulan, penulis menyebut football is a real realism, sebuah gambaran realitas nyata masyarakat dengan komplikasi momen yang sangat epic. Sebuah hal yang sulit dijumpai dalam olahraga jenis lain. 

Isu diskriminasi berujung opini rasis etnik yang melanda Ozil sebenarnya merupakan hal yang biasa dalam bola. Ingat Dani Alves yang dilempar kulit pisang oleh suporter "Si Kapal Selam Kuning" saat Barcelona tandang ke El Madrigal. Atau tengok Mario Balotelli  yang tak henti hentinya menjadi sasaran diskriminasi dan rasisme publik gegara darah Ghana yang melekatinya.

Artinya, universalitas sepakbola pada akhirnya membentuk puzzle puzzle rasis sebagai keniscayaan yang tak bisa dinafikan sebagai realitas sosial. Apalagi seiring berkembangnya zaman penikmat sepakbola bukan hanya lapisan elitis, tetapi telah menjadi budaya internasional yang mencandui berbagai kategori dan lapisan.

Sepakbola sebagai "Way of Life", sebuah stigma yang dimunculkan Antony Sutton, seorang pengamat bola asal Inggris yang menasional. Perkataan Sutton tidaklah berlebihan, toh sepakbola memang telah dianggap sebagai peneguhan jatidiri sebuah realitas. 

Hingga pada akhirnya hal tersebut bak pisau bermata dua. Keberhasilan menumbuhkan ikatan "sesama Jersey" juga sangat berpotensi memunculkan ethnosentris yang berujung rasis dan diskriminatif.

Derby Buenos Aires bertajuk Superclasico yang melebihi panasnya El Clasico. Antara Bova Juniors vs  River Plate, menjadi sebuah bukti gejolak rasis  terbesar dalam bola.

Ingat saat River terdegradasi dari kasta atas Liga Argentina di tahun 2011 dan Boca menjadi juara. Saat itu pesta juara fans Boca benar benar over rasis.

Bukan hanya merayakan juara, mereka malah mengarak peti mati bertulis RIP berbungkus jersey River Plate yang telah kusut terinjak. Hasilnya bentrokan pendukung superclasico pun tak dapat diredam. 

Salah satu alasan mengapa sepakbola menjadi ajang sasaran rasis, diskriminatif, dan isu kontroversi. Tiada lain adalah dinamika sepakbola yang telah bercampur aduk dengan berbagai bumbu bumbu realitas. 

Soccer is Way of life, sebagai basis penjajahan kekuasaan. sebagai perlawanan ketidakadilan. Sebagai perwujudan identitas kegamaan. Sebagai luapan kekecewaan permainan. Hingga sebagai ajang mencari keuntungan finansial maupun pencitraan publik semata.

Tidak ada komentar

Terima kasih atas masukan anda.