Refleksi Konflik Muhammadiyah dan NU Godog

Foto: Duta Islam
Propoganda Godog

Muhammadiyah dan Nahdlatul 'Ulama merupakan dua ormas Islam terbesar di Indonesia, bahkan mungkin termasuk deretan terbesar di dunia. Dari segi riwayat perjuangan keduanya pun terbilang punya andil besar dalam pembangunan ukhuwah kebangsaan Indonesia.

Rasanya tak perlulah diurai tentang apa alasan penyebutan dua ormas tersebut sebagai ormas kebangsaan. Karena memang sudah banyak kajian dan argumentasi dari para tokoh terkait tsamrah dari dua ormas tersebut.

Toh, Kyai Ahmad Dahlan dengan Kyai Hasyim Asy'ari merupakan senior - junior semasa nyantri di Kyai Sholeh Darat. Bahasa lepasnya seperti konco ngopi, didalamnya terlintas aneka obrolan dan berbagai kajian dialek.

Sebenarnya tulisan ini dibuat sebagai respon argumentasi penyikapan kisruh antara Muhammadiyah dengan Nahdlatul 'Ulama di sebuah ranting kecil di Desa Godog. Sebuah desa di Kecamatan laren, kabupaten Lamongan.

Seperti diketahui bahwa kisruh dua ormas di Godog sudah terjadi sejak beberapa tahun lalu. Alasannya simpel bahwa Godog diplot sebagai daerah mayoritas masyarakat berafiliasi ke ormas Muhammadiyah.

Sehingga akhirnya adanya pembentukan tatanan baru lain di Godog, dalam hal ini Ranting NU Godog yang diprakarsai kaum minoritas. Pun memicu cultural shock tatanan sosial Godog, hingga puncaknya adalah propoganda penolakan pengajian bertajuk pelantikan Ranting NU Godog di Musholla NU setempat (26/07/2018).

Sebagai kalangan yang terlahir dalam keluarga NU, penulis tentu prihatin dan geram dengan tindakan rasis kaum mayoritas di Godog. Meski sebenarnya ini merupakan fenomena yang wajar dan penuh kelogisan.

Wajar saja selama ini Godog memang terkenal sebagai basis ormas Muhammadiyah. Yang mana juga diplot sebagai daerah percontohan nomor dua organisasi Muhammadiyah.

Semangat ashobiah tentu menjadi sebuah keniscayaan yang tak dapat dinafikan dalam tatanan sosial yang terbentuk dari satu kultur mayoritas. Ini tampak pada propoganda #GSM (Godog Selamanya Muhammadiyah).

Meski berdampak positif sebagai penguat ukhuwah lokal. Namun hal tersebut sangat berpotensi menimbulkan sikap ethnosentris bahkan primordial terhadap kelompok minoritas.

Sama halnya seperti tindakan penolakan yang juga beberapa kali juga dilakukan oleh kelompok Nahdliyyin terhadap penggiat Hizbut Tahrir di berbagai daerah. Atau penolakan warga Nahdliyyin di Madura terhadap kelompok Syiah bahkan  Ahmadiyah sekalipun.

Lain halnya dengan konflik NU vs HTI. Bukankah NU dan Muhammadiyah merupakan satu organisasi yang masih satu nasap keilmuan, perbedaan hanya tampak dalam beberapa amalan. Mengapa harus terjadi gejolak konflik antar keduanya. Mengapa harus menolak agenda kegiatan yang berbeda.

Memang selama ini mainsite daerah lokal terkenal bahwa NU dan Muhammadiyah mempunyai rivalitas dalam bereksisitensi. Terutama dalam perbedaan paradigma beberapa amalan ibadah.

Nah, ini sebenarnya hanyalah konflik budaya lokal spesifik. Efek ketatnya ikatan keormasan dengan peneguhan identitas budaya khas kedaerahan.

Toh, pimpinan pusat masing masing kedua organisasi sangat adem ayem, bahkan kerap ngopi bareng membincang ukhuwah kebangsaan Indonesia yang berpotensi terkena damege politik keagamaan. Tokoh-tokoh Muhammadiyah pun banyak yang terlibat proses tersebut; mulai Prof Haedar Nashir, Prof Din Syamsuddin, hingga Buya Syafi'i Ma'arif.

Dengan demikian disini sebenarnya perlu sebuah proses integrasi intensif dari kedua ormas yang berkonflik. Tentu dengan mediasi langsung dari pimpinan tertinggi kedua ormas, semisal NU dengan Pengurus Besarnya dan Muhammadiyah dengan Pengurus Pusatnya, atau tokoh ternama dari kedua organisasi tersebut.

Upaya ini paling tidak akan memberikan pemahaman, sehingga akan menurunkan tensi mosi tidak percaya kedua ormas yang sebenarnya satu atap. Hingga lambat laun akan tercipta keluwesan ruang akses kelompok minoritas dalam tatanan budaya setempat. 

Tidak ada komentar

Terima kasih atas masukan anda.