Total Football dan Metamorfosis Prancis

Foto: Bola sport
Selebrasi Griezmann usai cetak gol


Total Football Belanda pernah mengemukakan teori pertahanan terbaik adalah menyerang. Praktis Belanda kerap melahirkan pemain berkarakter football attacking, sejak Johan Cruyff, Koeman, Frank Rijkaard, Ruud Van Nistelrooy, Robin Van Persie, Arjen Rooben, Wesley Sneijder, Edgar Davies, Dirt Kuyt, atau klass jan Huntelaar.

Berkat filosofi itu pula sepakbola menjadi tontonan epic dengan serangan yang brutal yang menyedapkan mata. Apalagi ditambah perpaduan lini tengah yang aduhai mengoper bola dari kaki ke kaki antar lini.

Memang menarik, namun juga tak bisa dielak pula bahwa filosofi total football dengan penyerangan kadang pula menyayat tuannya. Totalitas serangan dalam attacking football tentu sangat berpotensi untuk terkena damage counter attack apabila defense tim terbuka dan lengah.

Total Football ala Kroasia

Malam lalu puncak ajang empat tahunan Rusia 2018 kembali menostalgiakan dimensi total football, yang memang mengandalkan efektivitas lini tengah.

Kali ini sang tuan bukan Belanda, atau bahkan Spanyol yang memermak filosofis Total Football lewat model tiki taka. Melainkan justru berlaku pada tim underdog dengan kemininalan budaya sepakbolanya.

Ya, Rusia 2018 memang menjadi sorotan usai Kroasia yang tak diunggulkan mampu menyodok hingga partai puncak di Luzhniki. Meski mengejutkan tapi secara rasional kejutan Kroasia terbilang hal wajar.

Kedalaman skuad sarat pengalaman level profesional menjadi sebuah penegas kemonceran Kroasia. Komposisi didalamnya pun terbilang "ngeri" dengan pemain elit yang penuh jam terbang tinggi semacam; Luca Modric, Ivan Rakitic, Mario Mandzukic, hingga Ivan Perisic.

Tak khayal permainan Kroasia edisi Rusia 2018 pun sangat cair dengan pergerakan menyerang. Penyebab hal ini tiada lain adalah banyaknya pemain bertipe menyerang semacam diatas. Kualitas individunya tak perlu diragukan lagi, apalagi jika dikaitkan pengaruh dalam klub masing-masing.

Maka tak mengherankan jika lini tengah Kroasia sangat piawai memainkan bola antar kaki ke kaki, antar lini ke lini, antar zona ke zona. Jadi tak mengherankan juga fenomena kala Argentina dilibas trigol oleh Modric dan kawan-kawan. Atau Comeback dramatis 2-1 atas "The Young England" dibabak semi final.

Sangat rasional jika Kroasia dikaitkan dengan filosofis Total Football yang bercirikan sepakbola menyerang dan taktik possison ball. Meski harus berakhir sad ending usai dini hari lalu takluk 2-4 atas si jago Prancis.

Bermain lepas, mengandalkan ekspansi  lini tengah sejak kick off dimulai itulah langkah yang dipilih juru racik Zlatko Dalic, sebagai pelatih berlabel caretaker.

Fakta di lapangan sedap dipandang memang. Namun siapa yang tahu jika Total Football punya cacat mendasar.

Bermain rapat, pressing ketat di area defense sendiri, seraya melancarkan direct counter attack melalui para pelari. Itulah penangkal dari Attacking Total Football yang mengandalkan pola penyerangan terstruktur.

Prancis, Kesederhanaan Metamorfosis 

Setelah gagal juara Euro dikandang, usai ditekuk Portugal 1-0 lewat pragmatisme taktik lapangan. Prancis mungkin baru sadar benar bahwa realitas taktik sepakbola tidak semata mata menekan keras, membabi buta penyerangan, maupun penguasaan pertandingan.

Hasilnya pada Piala Dunia Rusia 2018 permainan sepakbola Prancis pun bermetamorfosis sempurna. Bahkan mulai terpengaruh Portugal di Piala Eropa yang tak memedulikan possision ball.

Selain itu Griezmann yang biasanya menjadi target man untuk mencetak pundi pundi gol. Nyatanya pun bermetamorfosis akan peran vitalnya sebagai pelayan superstar lain semacam Mbape, Giroud, Pogba, Payet, atau Kante.

Sebab itu pula mengapa Total Football ala Kroasia tak berdaya dihadapan praktisnya taktik  Didier Deschamps. Pengamat bola, Darmanto dalam opininya (Jawapos, 15/07/18, Hal 13)  menyebut dua kata yang menggambarkan filosofi racikan Deschamps adalah disiplin dan stabilitas.

Artinya dalam praktek di Rusia 2018, Prancis bersama Deschamps terkesan lebih fungsionalis, lebih mengutamakan penjagaan tempo, maupun tidak tergerak panas meninggalkan pos. Dalam perspektif lain lebih memilih untuk menunggu lawan terlena dalam Total Football daripada merespon umpan balik penyerangan.

Mungkin hal ini dipengaruhi juga dari karakter Deschamps sebagai  gelandang bertahan kala masih berstatus pemain pro. Namanya gelandang bertahan tentulah tertuntut untuk bermain simpel, menjaga zona defense, serta menahan diri untuk tidak melakukan hal yang tak begitu perlu.

Tak tanggung-tanggung strategi ini membuat Kroasia yang mengandalkan attacking total football secara bertubi. pun terpaksa harus terkena Damege parah counter attack.

Baik Own goal Mario Mandukic, atau penalti VAR  Griezmann. Itu belum termasuk catatan single gol Mbappe dan Pogba berkat counter attack menembus dropnya stamina punggawa Kroasia.

Belanda saja sebagai pencipta filosofis Total Football faktanya tak cukup mampu memaksimalkan ideologi tersebut dikancah Piala Dunia. Bahkan dua kali keok di kesempatan partai puncak.

Apalagi jika status itu diberlakukan pada Kroasia sebagai jelmaan attacking Total Football. Yang mengandalkan efektifan jelajah lini tengah, namun timpang di zona defense.

Tentu apa artinya keunggulan possison ball 61% berbanding 31%. Jika fakta lapangan tak begitu berdaya dihadapan tim yang bermain sederhana namun efektif semacam Prancis.

Ya, Piala Dunia 2018 memang milik Prancis. Bersama Deschamp mereka tahu mana kapan harus menjaga kedalaman. kapan harus merapatkan zone. Kapan harus mengontrol frekuensi penyerangan. Atau kapan harus melawan filosofis Total Football tim lawan.

Tidak ada komentar

Terima kasih atas masukan anda.