Bukan Sekedar Pragmatisme

Foto: Bola.net
Korsel vs Jerman


Lupakan tentang topik final Piala Dunia serta kejutan didalamnya, kembali ke tema utama. Pastinya jika mengikuti perkembangan laga dari fase grup. Tentulah akan kembali diingatkan dengan taktik jitu ala Mou ketika mengantarkan Inter meraih si kuping besar 2011.

Kala itu memang permainan attacking possison ball yang diproklamirkan Barcelona dan Timnas Spanyol kerap menjadi ancaman berbagai tim yang memiliki komposisi tak sederajat. Nah, sejak saat itu pula Mou dianggap menjadi teknisi yang mampu mengorbitkan taktik penangkal attacking possison ball, melalui strategi parkir bus dengan kombinasi direct counter attack.

Meski resikonya adalah dogma cela suguhan pragmatisme permainan non ciamik yang lebih mengutamakan hasil. Toh, bukankah dalam laga sepakbola yang terpenting adalah hasil dari permainan (menang, kalah), tak perduli cara mencapainya bagaimana ?.

Sejak saat itulah dogma pragmatisme bola terus berevolusi seiring perkembangan. Hingga  memunculkan stigma mendasar, tak perlu menguasai permainan, yang terpenting memaksimalkan peluang. Meski hal seperti ini sebenarnya sudah berlaku sejak Euro 2004 saat pragmatisme Yunani menghancurkan sang host Portugal.

Hingga akhirnya Portugal sendiri yang mengadopsi pragmatisme bola dalam Euro 2016 lalu, saat menjungkalkan permainan tim yang mengandalkan Possison ball semacam Prancis di final.

Wacana menarik ini sebenarnya tiada lain terinspirasi dari opini jurnalis bola dalam laman Goal.com versi ID. Dimana tepat seminggu piala dunia berlangsung, dalam opini yang dimunculkannya ia menyinggung taktik jitu Islandia dan Mexico.

Dikatakan olehnya meski Islandia seakan bermain ketat diarea zone melawan Argentina, yang hanya menjaga kerapatan zona kedalaman. Namun ternyata taktik ini sangat jitu untuk membuat Messi cs frustasi. Hingga serangan balik cepat yang digalang Gylfi Sidursoon berhasil mencuri gol penyeimbang 1-1.

Sama halnya dengan Mexico yang mampu membuat kejutan mengkandaskan Jerman 2-1 dalam pekan pertama grup. Berkat keluwesan counter Attack cepat  akhibat kelengahan tim lawan yang berupaya mencetak gol lewat Possison Ball.

Meski teknik ini tak berlaku dihadapan Swedia yang model permainannya setipe, sama sama direct football. Namun Korsel lah yang berhasil mengadopsi cara bermain Mexico melawan tim yang mengandalkan Attacking Possison Ball.

Hasilnya Jerman yang menyerang habis habisan guna mencari tiga poin untuk lolos ke fase knock-out. Pun akhirnya dibuat frustasi atas ketatnya lini kedalaman Korsel, hingga puncaknya bintang Tottenham Son Heung Min mampu mengarsiteki dua gol di menit injury.

Sebenarnya Pragmatisme Bola ini sangat realistis, terutama berlaku bagi tim yang kedalaman skuadnya tak sesempurna pihak lawan. Apalagi ajang piala dunia yang hanya berlaku empat tahun sekali tentu membuat tim harus melakukan berbagai cara untuk memperoleh target yang diembankan. Termasuk pragmatisme bola dengan strategi yang minim attacking possison ball.

Persis pula seperti yang diberlakukan Timnas Indonesia kala menghadapi tim kuat dalam AFF 2016, sebagai ajang pertama usai pembekuan timnas. Serangan tujuh hari tujuh malam Vietnam pun tak mampu menandingi Counter Attack cepat dari Riski Pora Cs

Tidak ada komentar

Terima kasih atas masukan anda.