Piala Dunia 2018, Kejutan Yang Tak Mengejutkan

Selebrasi Pasca Kroasia kandaskan Inggris 2-1
Foto: Kompas

Hajatan empat tahunan edisi "World Cup Rusia 2018" mendekati puncak. Luzhniki pun akan menjadi saksi pertempuran "si biru" Prancis vs " retro kotak" Kroasia. Sedang satu hari sebelumnya partai pengantar sarat gengsi peringkat tiga akan diisi oleh Inggris vs Belgia.

Seperti biasanya terdapat drama dan tuah rekor sejak partai pembuka grub A Rusia vs Arab Saudi, menjadi sebuah bumbu epic perhelatan bola empat tahunan. Bahkan  para pengamat lepas kerap memetafora World Cup Rusia 2018 sebagai ajang sulap, dengan kejutan yang menjadi khas ajang Piala Dunia.

Kutukan Juara Bertahan

Terjerembabnya  juara  bertahan Jerman di juru kunci fase grup tentu menjadi alasan pertama. Yang kerap diwacanakan sebagai kutukan juara bertahan sejak "Pildun" 2002 Korea Japan.

Padahal Jerman datang berembel embel juara bertahan ajang terwahid. Sekaligus pula dicap sebagai unggulan pertama merai jawara. Berkat komposisi skuad yang merata antar lini sekaligus rekor fantastis gol terbanyak di fase penyisihan zona Eropa.

Joachim Loew mungkin salah satu orang yang dianggap paling bersalah atas insiden memalukan tersebut. Beberapa fans menganggap tak diikut sertakannya Lauren Sane ke Rusia, tersisihnya Ter Stegen dari kiper utama, serta  pahlawan Piala Dunia 2014 "Gotze", menjadi salah satu runtutan kesalahan Loew.

Itu belum kontroversi "PHP-nya" Loew pada skuad muda yang mempersembahkan Tropi Konfederasi sebagai starting XI. Hingga memunculkan isu dualisme kubu ditubuh tim.

Kejutan Yang Tak Mengejutkan

Tersisihnya Jerman yang diunggulkan di fase grup tentu dianggap pihak lepas sebagai kejutan terbesar Piala Dunia 2018. Bagaimana mungkin tim yang sangat superior di babak kualifikasi, dengan bermaterikan pemain bintang yang dominan di klub masing masing. Nyatanya ia justru tampil memplem di ajang resminya.

Daya juang tim non unggulan memang menjadi  pembeda Piala Dunia 2018. Tim unggulan lain semacam; Spanyol, Portugal, Argentina, Kolombia, atau Brazil pun harus menuntaskan laga terakhir fase grup untuk lolos ke fase knock-out.  Keempat nama pertama diatas itupun bahkan harus langsung tersisih di fase knock-out pula.

Belgia yang menyingkirkan unggulan CONMEBOL Brazil di perempat final. Atau comeback 2-1 Kroasia atas tim wonderkid Inggris, hingga mencatat sejarah pertama kalinya tampil di final. Tentu dianggap sebagai estafet lanjutan kejutan yang tak terduga.

Namun berdasar perspektif analisa lepas pribadi, tak khayal kejutan yang terjadi di Piala Dunia 2018 bukanlah kejutan yang mengejutkan. Itu tiada lain adalah bagian dari daya magis ajang Piala Dunia yang selalu menyisahkan kesan.

Ingat Piala Dunia 2014, bahkan kejutan yang dicatatkan tak kalah dengan Piala Dunia 2018. Pembalasan Belanda 5-1 di fase grup atas tim yang mengalahkan di edisi World Cup 2010 sebelumnya "Spanyol", hingga degradasikan sang juara bertahan di babak awal.

Atau kejutan lolosnya Kosta Rika dan Uruguay ke Knock out menyingkirkan mantan juara Italia dan Inggris. Amerika Serikat yang menjegal Portugal ke fase knock-out. Belum lagi tragedi kelam Maracana usai dibantainya Brazil 1-7 atas Klose cs. Yang kemudian Neymar cs kembali dibantai tiga gol tanpa balas atas Belanda di perebutan peringkat Ketiga.

Dengan kata lain kejutan yang terjadi di piala dunia 2018 bukanlah hal yang  mengejutkan. Alias penuh dengan rasionalitas yang didasarkan pada latar belakang catatan kronologis perjalanan tim setempat.

Contohnya adalah superiornya Belgia yang memang sudah tampak sejak babak kualifikasi, usai menjadi  timnas pertama yang merebut tiket ke Rusia 2018. Sementara Kroasia walau ke Rusia berstatus play off, namun lawan yang disingkirkan adalah Yunani. Tak tanggung-tanggung juara Euro 2004 tersebut dibantai agregat 4-1.

Toh, plot drama yang terjadi di Piala Dunia 2018 tiada lain juga pengaruh hasil dari formasi babak kualifikasi yang memang sangat mengejutkan. Dikatakan kejutan karena memang dibabak kualifikasi inilah tersisih para tim elit langganan Piala Dunia dari tiap zona semacam; Italia, Belanda, Yunani, Chile, Amerika serikat, Kamerun, Pantai Gading, Ghana.

Dengan kata lain sebuah kejutan tidak akan muncul secara instan, tiba tiba, atau berdasar sudut pandang hasil dari satu match saja. Melainkan datangnya kejutan tentu dipengaruhi oleh proses pembangun sebuah kejutan pada sebuah hal yang muncul sebelum hal yang dianggap mengejutkan tersebut.

Terakhir, bagaimana pilih pasang Prancis dengan wonderkid potensial di antar lini, atau Kroasia dengan kematangan pengalaman stekholder tim inti.

Tidak ada komentar

Terima kasih atas masukan anda.