Berkat Mama, Islam Nusantara Kembali Viral

Foto: nu.or.id


Lagi lagi mencuat perdebatan fatwa Islam Nusantara, yang bermula dari fatwa yang digalangkan oleh salah satu ormas Islam terbesar sedunia Nahdlatul Ulama.


Beberapa hari lalu kembali viral komentar Mama Dedeh terkait Islam Nusantara yang sebenarnya terekam sejak 2015 lalu. Dimana ia mengatakan, wa ma arsalnaka illa rahmatan lil' alamin, Nabi Muhammad diutus oleh Allah memberikan rahmat bagi segenap alam, bukan Islam Nusantara, bukan, coret itu.” 

Memang, perbedaan itu realita. karenanya menurut pribadi hal tersebut merupakan hal lumrah bagi setiap individu yang dikaruniai perbedaan paradigma pengetahuan. Yang tentu berimbas mempengaruhi pandangan yang diyakini. Toh, perdebatan dogma Islam Nusantara sendiri terbilang sudah basi, alias sudah sering terjadi sejak awal dipropagandakan menjelang Muktamar NU Jombang silam.

Tentang kontrofersi Islam Nusantara, pribadi teringat berbincang lepas dengan teman sejawat sealumni pesantren terkait hal tersebut. Alasan penunjang antipati redaksi Islam Nusantara, bukan sekedar proses Al mulhafadhatu ala Qosim Sholih wal akhdu bil jadidil aslakh.

Lebih dari itu yakni tersirat pesan politis sebagai penonjolan identitas formil kelembagaan, sebagai bagian afiliasi dari institusi formil Republik Indonesia. Pada akhirnya dikhawatirkan mematikan daya hubung terhadap kelompok masyarakat anti pemerintah. Dimana selama ini populer sekali anggapan anti pemerintah dengan dogma anti pada NKRI.

Kembali ke topik Mama Dedeh. Meski bersambut tindakan Mama Dedeh yang mentabayyunkan diri seraya meminta maaf atas argumentasinya dihadapan publik.

Ntah memang semata mata keterbukaan pandangannya dengan hal baru yang tak dijamahnya dalam argumentasi tiga tahun lalu. Atau karena terdesak attacking of cyberwar dari kubu pembela Islam Nusantara.

Pastinya hal tersebut murni hak kebebasan untuk mewujudkan hak asasi berargumentasi. Sebagaimana ungkapan liberalisme pemikiran yang dianggap baik oleh almaghfurlah Kyai Hasyim Muzadi, asal bukan liberalisme tindakan.

Sebab itu dalam tulisan bebas ini, pribadi berusaha memposisikan diri berada di ambang tengah tentang kontranya Mama Dedeh dengan pandangan Islam Nusantara silam. Meski sebenarnya dalam perspektif keNU-an penulis yang didapat dari turunan, juga menyayangkan spesifiknya rana pandangan mama Dede tentang Islam Nusantara. Tanpa mencoba menjamah rana variabel lain yang tak disentuh dalam justifikasi argumentasinya.

Permasalahannya kembali ke awal, dimana sudut pandang pemikiran yang didasarkan pengalaman pribadi tentu menjadi sebuah pendorong munculnya sebuah stigma. Yang tentu menjadi pembeda antara individu satu dengan lain.

Sebenarnya jika dipikir bebas tentu hal tersebut ada benarnya. Dalam artian tak bisa dijustice salah bahkan pelecehan  atau menista sebuah stigma.

Toh, secara simpel Islam itu memang Rahmatal Lil Alamin, bukan hanya terbatas cakupan rana Nusantara saja.  Variabel ini menurut pribadi hanya berpatokan pada objek dan sasaran pemberlakuan dari Islam itu sendiri.

Sudah barang tentu beberapa kaum pendudung fatwa Islam Nusantara akan tersulut api  argumentasi yang dianggap terlalu tekstual. Dan mencoba melawan dengan argumentasi yang menjamah  heterogenitas ruang "universe " dalam kaca mata filsafat (Epistemologi, Ontologi, dan Aksiologi).

Seperti klarifikasi Kyai Said Aqil dalam Kuliah Umum UIN SA (05/03/18, Dikutip muslimoderat.com) bahwa Islam Nusantara bukan mazhab, bukan aliran, tapi tipologi, mumayyizaat, khashais,”.

Meski hal ini tak bisa ditepis pula bahwa dengan adanya gagasan Islam Nusantara. Yang kemudian diafirmasi lembaga kenegaraan, juga berpotensi menyebabkan sebuah anggapan hegemoni penonjolan identitas akan anak emas pemerintah.

Hal ini sangat tampak dari kubu yang menolak gagasan Islam Nusantara, terlepas dari pengaruh intervensi politik dan fanatisme identitas. Adakalanya si kubu apatis tanpa mau tahu dengan apa yang ditabayyunkan pendudung pro. Sebagaimana juga beberapa pendukung pro yang juga melakukan feed back serupa pada kelompok kontras.

Dengan kata lain disinilah perlunya memandang dan menjajaki rana lain. Terkait sebuah fenomena yang berbeda pandangan. Syukur mau  bersilaturahmi dengan kelompok other yang dianggap saingan. Dengan ditemani pahitnya kopi hitam sebagai peredam egoisme kefanatikan. Nikmat tuhan mana yang harus didustakan ?



Lamongan, 3 Juli 2018

Tidak ada komentar

Terima kasih atas masukan anda.