Catatan Seorang Santri Kelas Akhir





 Catatan KH. Moh. Djamaluddin Ahmad
(Sowan Kelas Akhir/ Jombang, 29 April 2011)

Pagi itu kami meluncur dari PP. Al-Muhibbin dengan menggunakan “Truk Embek” menuju ndalem Sambong untuk sowan kelas akhir kepada KH. M. Djamaluddin Ahmad yang memang sudah direncakan sejak awal dan menjadi rutinitas bagi setiap kelas akhir guna mendapatkan petuah-petuah guna menyongsong fase kehidupan selanjutnya. 

Dari perwakilan kami, Mas Hisyam, bertindak sebagai Juru Bicara yang memecah keheningan pagi itu setelah rawuhnya Abah. Mas Hisyam, waktu itu, dalam salah satu poin yang disampaikannya mengucapkan terimakasih pada Abah atas semua yang telah diberikan selama ini, serta memohon maaf karena belum bisa membalas apapun atas semua hal yang telah diberikan kepada kami. 

Saat yang ditunggu-tunggu pun tiba, Abah memberikan mutiaranya kepada kami. Tapi suasana menjadi agak tegang di awal-awal. Suara Abah lebih tinggi dari biasanya. Abah merespon kalimat pembuka dari Juru bicara kami. Abah ngendikan waktu itu dengan memberi catatan khusus untuk kalimat Mas Hisyam “Kito mboten saget bales menopo-menopo”. 

Abah kemudian menerangkan bahwa selamanya yang namanya murid, takkan pernah bisa membalas apa yang telah diberikan oleh gurunya, takkan pernah bisa membalas jasa dari para guru-gurunya, karena 1 huruf saja yang telah diberikan guru kepada muridnya itu bernilai seperti 1 dirham, sedangkan 1 dirham bernilai 160.000 Rupiah. Bayangkan, 1 huruf saja 160 ribu, bagaimana mungkin kita bisa membalas ilmu yang telah diberikan guru-guru kita. 1 kitab saja ada berapa huruf, berapa kitab yang telah diajarkan guru kepada kita. Jadi, selamanya yang namanya murid, takkan pernah bisa membalas jasa para guru-gurunya. 

Suasana menjadi haru setelah itu, terdengar suara Abah menjadi agak parau. Pandangan abah telihat berkaca-kaca menatap ke segala penjuru dimana anak-anaknya berada. Waktu itu Abah ngendikan yang kira-kira isinya begini:

“Aku nek ngene iki ojo mbok anggep muring-muring kerono geting sampean kabeh. Aku ngene iki nyeneni justru kerono sayang karo sampean kabeh. Arek-arek Tambakberas pas rene gak enek sing tak seneni koyo sampean kabeh ngene iki. Arek mardhiyyah, fathimiyyah, gak enek sing tak seneni ngene iki. Cuma sampean tok. Kerono opo? Berarti kerono aku sayang karo sampean kabeh,” tegas Abah dengan suara terbata-bata kepada para kami yang sedari awal menunduk tak sanggup memandang wajah Abah kami dengan matanya yang merah berkaca-kaca seolah tak tega melepas kami. 

Selepas itu, Abah berpesan kepada kami untuk selalu menjaga niat. Abah menukil Surat Asy-Syuro ayat 20. 


مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الْآخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ ۖ وَمَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ نَصِيبٍ

Artinya: Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat maka akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia maka Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bagianpun di akhirat.

Abah berpesan kepada kami untuk menata niat di manapun kita berada. Mau melanjutkan kuliah atau belajar di luar pun harus selalu menjaga niat, supaya belajar ato kuliah tidak diniatkan untuk mencari pangkat, kekayaan, gelar, dan pernak pernik keduniaan lainnya. Barang siapa kuliah atau mencari ilmu kog untuk mencari dunia saja maka dia akan mendapat sedikit bagian dari dunia, barang siapa mencari ilmu untuk tujuan akhirat maka dia akan mendapatkan dunia dan akhirat. Mencari dunia, maka akan mendapatkan dunia saja, tapi jika diniatkan mencari akhirat akan mendapat dunia dan akhirat. 

Abah menguatkan ayat itu dengan hadits yang sudah sangat masyhur di kalangan santri. 

إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا 
يُصِيْبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيِهِ

“Sesungguhnya segala amalan itu tidak lain tergantung pada niat; dan sesungguhnya tiap-tiap orang tidak lain (akan memperoleh balasan dari) apa yang diniatkannya. Barangsiapa hijrahnya menuju (keridhaan) Allah dan rasul-Nya, maka hijrahnya itu ke arah (keridhaan) Allah dan rasul-Nya. Barangsiapa hijrahnya karena (harta atau kemegahan) dunia yang dia harapkan, atau karena seorang wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya itu ke arah yang ditujunya.”

Abah juga menyampaikan tentang fase-fase kehidupan manusia sebagai bekal untuk kami yang mungkin saja akan berpindah ke tempat lain. Abah menukil Surat Al-Hadid ayat 20. 

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ ۚ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.”

An-Nasafi berpendapat bahwa menurut ayat tersebut fase kehidupan manusia dibagi menjadi 8 tahun:

  1. Umur 1-8 tahun: diisi dengan bermain (لعب)
  2. Umur 9-16 tahun: diisi dengan hal-hal yang dapat melalaikan Allah (لهو
  3. Umur 17-24 tahun: senang perhiasan, senang yang indah-indah (زينة
  4. Umur 25-32 tahun: senang bermegah-megahan (تفاخر)
  5. Umur 33-40 tahun: berganggaa-banggaan dengan banyaknya harta (تكاثر)


Setelah umur 40 tahun sduah bergantung rahmatnya Allah dia akan bertaubat dan menambah amal atau sebalikanya jika tidak mendapat rahmat dia akan semakin meninggalkan Allah. 

Abah juga menjelaskan ayat lain yang menguatkan tentang fase kehidupan 40 tahun tersebut, yakni Surat Ali Imron ayat 164, tapi ayat ini menjelaskan tentang tanda-tanda orang yang mencari akhirat, kebalikan dari Surat Al-Hadid diatas.

لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

“Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.”

Dari ayat tersebut fase kehidupan dibagi menjadi 10 tahun:

  1. Umur 1-10 tahun: Belajar Alquran (يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ)
  2. Umur 11-20 tahun: mempelajari tata karma pada Allah, guru, ortu, teman, dan diri sendiri (يُزَكِّيهِم)
  3. Umur 21-30 tahun: mengajar dan memberi pengertian tentang Alquran (يُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ)
  4. Umur 31-40 tahun: mengajarkan hikmah (وَالْحِكْمَةَ)
Pengertian hikmah ada 29, tapi yang paling masyhur ialah العلم النافع والمعارف
Karena fase kehidupan itu juga lah Rasulullah SAW baru diutus menjadi Rasul pada umur 40 tahun.



Ditulis oleh : M. Zakky Mubarok  ( kolega santri seperjuangan si pemilik blog angkatan 2011)

Tidak ada komentar

Terima kasih atas masukan anda.