Kajian Al Hikam: Empat Sifat Ubudiyyah Hamba Allah

PTDikatakan oleh beliau bahwa sebagai seorang hamba Allah (Abd) hendaknya selalu merasa mempunyai empat sifat ubuddiyyah.

Edisi Pengajian Rutin Al Hikam
22 Oktober 2018

Penjelasan KH Moh. Djamaluddin Ahmad

Dalam pengajian Al Hikam kali ini, KH Mohammad Djamaluddin Ahmad memulai dengan mengutip perkataan mushonif Al Hikam, Syaikh Tajuddin Ibnu Atto'illah Al Iskandari.

Dikatakan oleh beliau bahwa sebagai seorang hamba Allah (Abd) hendaknya selalu merasa mempunyai empat sifat ubuddiyyah. Yang jelas berlawanan dengan empat sifat Allah SWT sebagai dzat yang Rububiyyah (Jawa: Mengerani, Ngeramut hamba).

Sebelum memaparkan empat sifat ubuddiyyah beserta perbandingan dengan sifat Rububiyyah. Kyai Djamaluddin Ahmad menjelaskan gamblang tentang sifat "ngeramut-nya" Allah SWT, seperti fenomena kelahiran manusia. Dimana melalui sifat Qudrat dengan mudahnya Allah SWT memberikan siklus kehidupan pada janin tanpa bantuan oksigen atau bahkan makanan dan minuman.

Nah, sebab itulah seorang hamba tertuntut untuk selalu tawadhu dalam segala hal. Termasuk menerapkan empat sifat ubuddiyyah sesuai dengan dawuh Ibnu Atto'illah, antara lain:


  1. Sebagai hamba hendaknya merasa dirinya mempunyai sifat Faqir (Tak punya apapun). Karena sejatinya sifat Ghina' (kaya) hanyalah melekat pada sifat Rububiyyah Allah SWT.
  2. Sebagai hamba hendaknya merasa dirinya mempunyai sifat hina. Berbanding dengan Allah SWT sebagai satu satunya yang mempunyai sifat Al Izzah (Mulya).
  3. Sebagai hamba hendaknya merasa dirinya mempunyai sifat Al Ajzu ( Lembek, tak mampu). Karena sifat Qudrat (kuasa) hanya dimiliki oleh Allah SWT.
  4. Sebagai hamba hendaknya merasa dirinya mempunyai sifat Dhoif (Apes, Lemah). Karena sifat Qowwiy (Kuat) hanya melekat pada Dzat Rububiyyah Allah SWT 

Dari empat sifat Ubuddiyyah diatas, oleh Romo Yai Djamal dikatakan bahwa barangsiapa yang mampu memposisikan diri dengan empat sifat tabiat Ubuddiyyah, maka Allah SWT akan mengangkat derajat hamba tersebut atas ketawadhuannya.

Sebaliknya barang  siapa yang merasa takabur dengan mencomot empat sifat Rububiyyah Allah SWT, maka pasti Allah SWT akan memberikan kemurkaan dan hukuman.

Hikayat Sufi

Seperti pengajian Al Hikam sebelum sebelumnya, Kyai Djamaluddin Ahmad pun tak luput menyampaikan hikayat sufi dalam rangkaian penjelasan. Termasuk pula beberapa hikayat dalam pengajian kali ini, simak terus.

( Raja Kaya dan Sufi Faqir)

Dikutip dari Syekh Ibnu Ajibah Al Khasaini dalam kitab karyanya Iqodul Himmam. Diceritakan bahwa di suatu daerah ada seorang raja yang kaya raya. Meski kaya ia tergolong ringan tangan untuk membantu orang miskin yang membutuhkan.

Suatu saat raja tersebut bertemu dengan seorang sufi faqir yang pakaiannya terbuat dari bulu kasar seperti goni. Melihat kondisi sufi tersebut, si raja pun berempati untuk memberikan bantuan.

" Wahai faqir, jika engkau punya hajat. Tolong sampaikan padaku, niscaya akan ku penuhi hajatmu ! "

" Hajat saya sudah saya sampaikan ke pihak yang lebih berkuasa daripada engkau. Kalau Ia mengabulkan hajatku maka dengan kerelaan aku membalas. Namun jika hajatku tak dikabulkan oleh-Nya maka tak akan mengurangi pula batas kerelaan ku, semuanya pasti ada hikmahnya "

" Siapa pihak yang engkau anggap lebih berkuasa daripada ku ?", Tanya Raja.

"Allah SWT", jawab sang sufi faqir.

"Jadi engkau sudah tak ada jahat lagi untuk ku kabulkan ?"

" Aku masih punya hajat untuk ku sampaikan padamu. Jangan engkau lihat aku, dan aku pun tidak akan melihat engkau. Hatiku sudah dipenuhi dengan penglihatan dari Allah SWT. ", Papar sufi faqir.

Berdasarkan hikayat diatas, dapatlah ditarik simpulan bahwa sufi sebagai mana disinggung Ibnu Ajibah mempunyai ketawadhuan yang tinggi. Sang sufi menganggap dirinya faqir, sebab itu Allah SWT selalu memberikan turunan sifat Ghina' yang membuat sang sufi tak pernah berkeluh kesah dan rela terhadap pilihan Allah SWT.

(Syaiban Al Jamal dan pertanyaan Ibnu Hambal)

Ada seorang sufi bernama Syaiban Al Jamal yang bergelar Ar Rokhi (Penggembala). Kala ia sedang diam, hadir berjumpa sepasang Mujtahid Mutlak, Iman Syafi'i dan Imam Hambali yang sedang berjalan jalan bersama.

Melihat Syaiban Al Jamal, terselip keinginan Al Hambali untuk bertanya pada Syaiban tentang sebuah permasalahan. Imam Syafi'i sempat mengingatkan muridnya tersebut agar tidak menggangu Syaiban. Namun karena bersikeras, Mujtahid yang juga murid pakar tasawuf Syekh Hatim Al Ashim pun memutuskan untuk berdialog dengan Syaiban.

" Wahai Syaiban, aku hendak bertanya padamu sebuah permasalahan"

"Silakan", Syaiban membolehkan.

"Ada seorang melakukan Shalat empat rakaat. Namun tak sadar ia lupa melakukan empat sujud. Supaya shalat orang tersebut sah, harus bagaimana ?"

"Dijawab pakai madzhab yang engkau anut, atau pakai madzhab ku ?", tawar Syaiban.

"Dua duanya tidak apa apa".

" Kalau berdasarkan madzabmu maka orang tersebut harus menambah dua rakaat dan diakhiri dengan sujud syahwi. Sedang jika berdasarkan madzabku maka hatinya harus diperbaiki dahulu. Shalat menghadap Allah SWT kok bisa lupa, berarti itu namanya tidak cinta pada Allah SWT ".

Imam Al Hambali pun diam, dan kembali menguraikan pertanyaan kedua pada Syaiban.

" Ada seseorang mempunyai 40 ekor kambing yang juga sudah mencapai haul setahun. Maka harus berapa ekor kambing yang harus di zakatkan ?"

"Dijawab pakai madzhab yang engkau anut, atau pakai madzhab ku ?", tawar Syaiban.

"Dua duanya tidak apa apa".

" Kalau versi madzabku, orang tersebut harus berzakat seekor kambing. Namun jika berdasarkan madzabku  maka sebenarnya manusia tidak punya apapun. Semuanya adalah titipan dari Allah SWT selalu juragan, maka si pemilik aslilah yang lebih berhak menentukan berapa kambing yang di zakatkan, Walau bahkan 40 ekor sekali pun ".

Mendengar penjelasan Syaiban, imam Al Hambali pun seketika pingsan. Hingga akhirnya terbangun kala Syaiban sudah pergi. " Bukankah dari awal sudah ku peringatkan engkau agar tidak bertanya pada Syaiban", kata Imam As Syafi'i pada muridnya.

Berdasarkan hikayat diatas, dapatlah ditarik simpulan bahwa  Syaiban memiliki derajat tinggi dalam tasawuf yang membuat pandangan argumentasinya keluar dari cakupan fiqh syar'i.

( Syaiban Al Jamal dan Singa Padang Pasir )

Masih membincang derajat sufi Syaiban Al Jamal. Diceritakan oleh Romo Kyai Djamal, bahwa suatu saat Syaiban bersama Sufyan As Tsauri hendak berpergian haji menuju Makkah.

Ditengah perjalanan melewati Padang  pasir, keduanya dihadang sekor singa besar. Sufyan As Tsauri pun memutuskan Thu lari menjauh. Disisi lain Syaiban malah tak beranjak dari tempatnya.

Bi Idznillah, singa tersebut pun seketika jinak dan mengendus endus Syaiban Al Jamal. Kemudian dengan santainya pula Syaiban membelai singa besar tersebut dari kelapa hingga ekor. Seketika itu juga Sufyan heran dengan kejadian tersebut, segeralah ia bertanya pada Syaiban tentang apa yang sebenarnya terjadi.

" Seandainya aku mau, maka singa ini akan mampu ku tunggangi hingga sampai ke Makkah. Tetapi aku tidak ingin melihat orang Makkah takjub dengan hal tersebut.", Kata Syaiban Al Jamal.

Hikayat ini, menegaskan kembali bahwa Syaiban mempunyai anggapan perasaan Ajzun (lemah) dalam dirinya, tanpa Fadhol Allah SWT. Sebab ketawadhuan itu pula Allah SWT berkehendak untuk menguatkan Syaiban melalui sifat Qudrat Allah.

(Sofyan As Tsauri dan Pemuda Haji)

Hikayat ini menyinggung tentang sosok Sufyan As Tsauri yang sebenarnya merupakan salah satu dari enam tokoh mujahid mutlak, bersama Al Maliki, Al Hanafi, As Syafi'i, Al Hambali, dan Daud Dhohiri. Dari keenam nama diatas, Sofyan dan Daud merupakan sosok yang ijtihadnya sudah tidak dapat diikuti. Dikarenakan koidah hukumnya  sudah punah alias terputus. karena selain pengikutnya sedikit juga tak ada yang membukukan koidah hukum dua Mujtahid tersebut.

Kembali ke cerita, Sufyan merupakan sosok yang memiliki keingin tahuan yang tinggi terhadap sesuatu yang ia anggap unik. Suatu ketika kala Sufyan sedang haji, beliau berjumpa dengan seorang pemuda yang selalu mengucap Sholawat dalam semua rangkaian ibadah haji, mulai wuquf, thawaf, hingga sai.

Karena ingin tahu Sufyan pun bertanya pada si pemuda. " Wahai pemuda, bukankah di setiap tempat ada doanya sendiri. Mengapa yang engkau baca hanya mengulang ulang sholawat saja ?".

"Siapa engkau ?"., Tanya pemuda.

"Aku Sofyan As Tsauri"

" Kalau bukan dirimu, niscaya tak akan ku jawab apa alasanku. Saya punya cerita yang melatarbelakangi saya melakukan hal itu."

Segeralah Si pemuda menjelaskan kronologi kejadian sebenarnya secara berurutan.

" Sebenarnya aku hendak haji bersama ayahku. Namun sesampai Kuffah, ayahku jatuh sakit parah hingga meninggal dunia di sana. 

Saat itu pula keajaiban datang, disaat aku membuka kain penutup wajah jenazah ayahku. Bi Idznillah, wajah ayahku tampak menghitam dan berubah menjadi wajah seekor khimar.

Melihat kejadian aneh tersebut, aku pun sangat sedih. Khawatir muncul anggapan buruk dari para sahabat dan orang-orang tentang apa yang menimpa ayahku. Aku pun menangis sedih, hingga terlelap dalam tidur. 

Saat itulah kejadian ajaib selanjutnya datang. Dalam mimpi aku bertemu dengan seorang lelaki tampan yang belum pernah ku jumpa lelaki setampan lelaki tersebut. Pakaian yang dikenakan-nya putih bersih bersinar. Dan tercium aroma harum yang juga belum pernah ku jumpa wewangian seharum wangi tersebut.

Lelaki tersebut bertanya padaku tentang apa yang menimpa padaku hingga membuatku terlihat susah. Maka aku pun menjelaskan secara rinci urutan peristiwa kejadian. 

Lelaki tampan tersebut pun kemudian membuka kain yang ada menutup wajah ayahku. Lalu dilanjutkan dengan mengusap wajah ayahku pula. Bi Idznillah, wajah ayahku yang semula nampak menyerupai Khimar berupa ke bentuk semula. Bahkan nampak bersih bersinar.

Akhirnya Ku tanya pada lelaki tersebut tentang siapa identitasnya. 
Ia menjawab, "Aku adalah Muhammad Al Musthofa Nabimu".

Aku pun kaget bukan main, segeralah ku tanya apa yang sebenarnya terjadi dengan ayahku hingga Rasullullah memutuskan menampakkan Mu'jizatnya.

" Ayah engkau selalu berbuat dosa. Ia gemar melakukan riba. Namun ayahmu setiap menjelang tidur selalu tak lupa membaca Sholawat sebanyak 100 kali "., Jelas Rasulullah Saw.

Aku pun meminta pesan pada Rasulullah, "wahai Rasulullah tolong beri pesan padaku".

"Aku pesan kala engkau haji baca Sholawat berulang ulang di setiap rangkaian haji", jawab Rasulullah Saw.

Saat itulah seketika aku terbangun dari tidur. Saat aku buka kain penutup wajah jenazah ayahku, bi Idznillah wajah ayahku  tampak bersinar seperti dalam mimpi kala diusap Rasulullah Saw. 

Sebab itu maka aku pun hanya membaca Lafal Sholawat berulang ulang dalam berbagai rangkaian ibadah haji. Sebagaimana pesan Rasulullah Muhammad Saw.

( Perbedaan Fiqh As Syafi'i dengan As Tsauri)


Sebelumnya Kyai Djamal menyinggung sedikit tentang As Tsauri yang sebenarnya merupakan salah satu enam mujahid mutlak.  

Kali ini tak lupa juga Kyai Djamal memaparkan berbedaan salah satu contoh Fiqh As Syafi'i dengan fiqh Sofyan As Tsauri yang cenderung berbau sufi.

Dalam madzhab As Syafi'i membuang hajat mengahadap kiblat di ruang terbuka tanpa satir berhukum haram. Sedang jika ada satir di ruang tertutup maka hukumnya berganti makruh.

Tetapi menurut madzhab Sufyan As Tsauri tak ada beda antara kedua masalah diatas. Membuang hajat menghadap kiblat baik di ruang terbuka atau tertutup hukumnya haram. Dengan alasan kiblat itu di mulyakan Allah SWT.

Wallahu alam bi showab.



Rizal Nanda Maghfiroh

( 22 Oktober 2018 )

Disadur dari Pengajian Rutin Al Hikam
KH Moh Djamaluddin Ahmad (Tambakberas Jombang)



2 komentar:

Terima kasih atas masukan anda.