Menyoal Amin Rais dan Rezim Politiknya

Meski bersambut banyak kritik dari publik akibat manuvernya, nyatanya Amin Rais tak merasa kapok dan tetap memaksa diri sebagai bomber politik kubu yang ia ikuti. Bak seorang Arsene Wenger yang merezimkan diri sebagai juru racik abadi Gunners
Foto: Kompas.com

Apa kesamaan Amin Rais dengan sosok Arsene Wenger ?. Pertanyaan ini mungkin terkesan sebagai cucoklogi. Meski sebenarnya kedua sosok beda profesi diatas punya karakter yang cukup sama.

Arsene Wenger merupakan legenda Arsenal. Meski tak pernah membesut The Gunners meraih tropi bergengsi si kuping besar. Tapi pria kelahiran Prancis tersebut mendapat label Sang Profesor. Kepiawaian mengambil hati para direksi hingga basis fans kala awal membesut, menjadi sebuah awal cerita rezim dari seorang Arsene Wenger di London Utara.

Sisi lain Amin Rais hanya seorang politikus senior, ia bukan penyandang manajer sepakbola. Tapi ingat Amin Rais bukanlah politikus biasa. Ia merangkap peran pula sebagai cendekiawan dan tokoh agama ormas Muhammadiyah. Jika Arsene Wenger memiliki julukan Sang Profesor. Maka oleh Gusdur, Amin Rais diberkati julukan Tiga Pendekar cendekiawan universitas Chicago, bersama dengan Ahmad Syafii Maarif dan Nur Cholis Madjid.

Kesamaan Arsene Wenger dalam diri Amin Rais adalah sisi rezimnya. Istilah rezim disini bermakna kontekstual yang universal, bukan spesifik dalam rana birokrasi pemerintahan yang selama ini kembali diviralkan oleh oposisi penentang. Indikator  pokok yang membuat penulis menyebut Amin Rais sebagai rezim. Pastinya, tentu berbagai upaya ngototnya untuk tetap berusaha menjaga sisi senioritasnya sebagai politikus senior dengan pengaruhnya di masa lampau.

Berbagai ciutan kontroversialnya seperti Partai Allah dan Partai syetan, atau ciutan lain yang kesemuanya terkesan menyudutkan lembaga eksekutif. Menjadi sebuah tolak ukur sisi rezim dalam kebijakan Amin Rais. Bukankah fenomena kritik mengkritik merupakan hal lumrah dalam politik. Lantas mengapa penulis mengaitkan antara kicauan Amin Rais dengan rezim ?.

Bukan bermaksud menyudutkan Amin Rais, hanya saja tindak langkah keputusannya sebagai politisi senior yang gemar tampil di depan panggung. Lalu memukau publik dengan aneka penampilan yang dipenuhi nuansa pembenaran kelompok yang dianut. Inilah yang terkesan menjadikan Amin Rais menyandang posisi seorang rezim politik.

Berdasarkan argumentasi penulis, sebagai politisi senior, secara alami dalam diri Amin Rais menyandang sebagai sosok panutan. Pengalamannya sebagai politikus senior bersama rival semacam Gusdur, Akbar Tandjung, Habibie, atau bahkan Soeharto.  Ditambah gelar bapak reformasi yang menyandang pada dirinya sejak reformasi 1998. Tentulah diharapkan mampu menjadi oase ditengah gonjang ganjing politik era Neo reformasi yang rentan bisikan hoax.

Namun yang terjadi sebaliknya, ditengah perang identitas, justru Amin Rais ogah memposisikan diri sebagai penasehat kebangsaan yang diekspektaikan sebagai basis penengah kegaduhan. Justru Amin Rais dengan mantabnya memilih untuk turun gunung kembali ke Medan perang politik penentang birokrasi pemerintahan.

Dikubu politiknya, ia bukan memposisikan diri sebagai seorang penasehat dengan kebijaksanaan sebagai politisi senior. Sebaliknya ia tetap menonjolkan diri sebagai seorang bomber politik dengan berbagai manuver kontroversial yang rentan memunculkan feedback kegaduhan.

Meski bersambut banyak kritik dari publik akibat manuvernya, nyatanya Amin Rais tak merasa kapok dan tetap memaksa diri sebagai bomber politik kubu yang ia ikuti. Bak seorang Arsene Wenger yang merezimkan diri sebagai juru racik abadi Gunners, hingga ia dilengserkan paksa pertengahan tahun lalu.

Disinilah letak sisi rezim dari seorang Amin Rais. Idealismenya sebagai mantan aktivis elit bergelar Sang Reformasi mendorongnya untuk selalu tampil terdepan dipanggung politik. Bahkan mengalahkan status alami  sebagai politisi senior berlabel cendekiawan, yang diekspektaikan memberi warna warni kebijaksanaan dalam kerunyaman sandiwara politik.

Akankah suatu saat nasip Amin Rais akan kehilangan pengaruhnya, seperti Arsene Wenger yang dilengserkan paksa dari kursi nomor satu Arsenal. Akibat  idealismenya untuk tampil terdepan sebagai juru racik meriam London. Tanpa sadar diri terhadap perkembangan era sepakbola yang secara dinamis memunculkan para juru racik anyar beserta ide ide segar.

Biar waktu yang akan menjawab, yang pasti sebuah rezim yang dipupuk lambat laun pasti akan memudar, meredupkan pengaruh sebuah kekuatan kepercayaan.

Wallahu alam bi showab.

Tidak ada komentar

Terima kasih atas masukan anda.