Jangan Biarkan Kemesraan Berlalu


Si A masih saja tak beranjak dari kamar pribadinya. Katanya masih tapa mencari wangsit tentang berita apa yang akan digodog dengan isu politik untuk menyerang pak Joko. Di ring sebelah Si B juga masih memolak malik arsip LPj kepengurusan. Tentu untuk meminderkan suporter liar pak Bowo atas pencapaian kinerja sang juragan. 

Awalnya adu tanding berjalan apa adanya. Saling pamer identitas pakaian satu sama lain. Kata Si A mencuit, Pak bowolah yang lebih garang. Berkat pawangnya hujan medali emas berjatuhan di negeri ini. Sisi seberang Si B membantah, justru Pak Joko yang berjasa menyiapkan akomodasi dan logistik pesta.

Justru menjelang berakhirnya pesta, adu tanding si A dan si B semakin menjadi semrawut. Di lepaslah kedua pakaian dari dua kubu karena gerah. Tampaknya si A dan si B kini saling adu pamer tubuh telanjang nan seksinya ke muka khalayak. Berharap banyak orang terangsang akan pesona rayuan dari masing masing kubu. Sehingga akan dipaksa menjadi pengikut buta atas tak diketahui ada baut hitam di kulit putihnya.

Inilah efek samping fenomena kampung global yang sarat keterbukaan bebas. Meminjam istilah presiden jancukers Sujiwo Tejo yang menyebut ini dengan istilah Dunia maya kuadrat, karena semua dialam ini hakekatnya adalah sebuah kemayaan. Sebab itu banyak orang tenggelam dalam mayanya dunia politik yang kerap memakan segala perbincangan. Termasuk pula pesta bahagia hujan medali asian games yang melanda bumi pertiwi.

Oase itu bernama Hanif

Oase pasti ada ditengah padang pasir. Artinya harapan kemesraan pastinya akan tetap tersedia ditengah ketimpangan degradasi sosial atas benang merah politik kotak kotak. Kali ini peredam gejolak bias politik muncul dari salah satu atlet pencak silat terbaik, Hanifan Yudani kusuma.

Ia bertarung jantan di panasnya final perebutan emas dengan epic. Bersambut merdunya lantunan Indonesia Raya. Memanjat doa pada Ilahiyyah. Berlari mengucap salam pada penjuru lapangan. Berbalas prok prok respect tepuk tangan pencinta kedamaian.

Lalu dipungkas dengan pelukan hangat dua juragan besar negeri; pak Joko dan pak Bowo. Tanpa tendensi, tanpa pilih kasih, tanpa peduli godaan politik pengobrak abrik. Ketiganya bersama berselimut, disaksikan selubung kain sakral merah putih. Menegaskan bahwa sesungguhnya tak ada kebencian yang meruntuhkan satu keluarga.

Kemesraan ini janganlah cepat berlalu.
Kemesraan ini inginku kenang selalu.

Tidak ada komentar

Terima kasih atas masukan anda.