Umpan Balik Luis Milla


Gagal dan gagal lagi. Apa yg aku cari. Tangis perih tersimpan dalam hati. Lirik lagu disini dibatas ala Tommy J Pisa diatas mungkin pas dengan kondisi timnas Indonesia dengan tekanan ekspektasi prestasi yang terus melekatinya. Termasuk tuntutan moncer di kandang sendiri dalam kancah Asian Games 2018. 

Ya, siapa yang tahu jika wasit bon bonan PSSI di liga indonesia lalu. Pada akhirnya malah menjadi sandungan ekspektasi besar menebar semangat energi asia. Kesemrawutan Shaun Evans dalam memberi kebijakan memimpin pertandingan di babak knock out. Malah membuat Tuan rumah takluk 4-3 atas UEA lewat drama adu penalti, setelah bermain 2-2 dalam waktu normal.

Menyakitkan memang, faktor kekalahan kali ini bukan murni dari nihilnya argesifitas permainan. Atau bukan sekedar tak bersua keberuntungan adu penalti. Namanya pertandingan bola. Didalamnya terdapat berbagai drama klasik yang kerap berbalut kekecewaan pada sang pengadil lapangan. 

Memang mengkambing hitamkan wasit ketika memperoleh  kekalahan merupakan tindakan pelarian. Tapi kali ini penulis sepakat argumentasi juru racik Luis Milla bahwa pemain terbaik UEA kala bersua anak asuhnya adalah Sang pengadil Shaun Evans sendiri.

Kekecewaan Milla berujung kritik terbilang wajar melihat record Kebijakan wasit asal Australia tersebut yang sangat merugikan Indonesia. Terlebih penalti UEA kedua ke gawang Andritany yang sarat diving dari punggawa UEA. Hingga murahnya memperuntukkan kartu bagi punggawa garuda dibanding pemain UEA yang justru sepanjang laga kerap bermain estafet drama mengulur ulur waktu.

Berdasarkan track record  permainan Timnas Indonesia sepanjang fase grub hingga tersisih histeris di knock out asian Games 2018. Maka tak mengherankan jika banyak publik  yang justru menginginkan PSSI mempertahankan Luis Milla sebagai juru racik tim garuda. Padahal dilihat kuantitas target Luis Milla terbilang gagal total bersama Timnas u23 di ajang Sea Games dan Asian Games.

Meski demikian, Luis Milla nyatanya mampu memikat hati para penggiat suporter bola Tanah Air berkat kepiawaiannya meracik filosofi permainan Hansamu Yama Dkk. Tak dipungkiri memang bahwa gaya permainan Timnas berubah ditangan Milla, terlihat lebih berkarakter menyerang dengan perpaduan antar zona. Jika sebelumnnya timnas gemar bermain bola bola panjang, yang berimbas mematikan mobilitas lini tengah dalam beralih ruang antara menyerang dan bertahan.

Maka Milla mengekspresikan hal lebih sesuai karakter pemain Indonesia. Nyatanya Milla tidak egois memaksakan pola permainan modern eropa seperti yang dipraktikan kala membesut Spanyol U20 dengan tiki taka lini tengah.

Minimnya bomber lokal berkualitas berbanding melimpahnya stok wonderkid bertipe pelari di sisi penyerang sayap semacam; Febri, Saddil, Irfan Jaya, hingga Ilhamudin menjadi pertimbangan Milla dalam membangun karakter khas tim.   Tak mengherankan jika akhirnya Milla hanya membawa satu striker murni (Beto) dalam Asian Games. Dan malah memperbanyak pemain pelari di lini kedua yang menjadi karakter pola penyerangan Timnas besutan Milla.

Meski hanya memplot Beto sebagai single striker, dalam praktiknya timnas justru mampu bermanuver secara dinamis. Stefano Lilipaly yang posisi aslinya merupakan playmaker justru secara alamiyah mampu berperan sebagai Trequarrista guna membantu penyerangan di zona kedua. Berkolaborasi dengan para winger pelari yang masuk menyerang ke zona defense lawan. Meski taktik ini juga kerap beresiko jika para winger tak mampu bebas dari pressing ketat tim lawan.

Disisi lain Evan Dimas yang biasanya aktif membantu menyerang  dari lini tengah seperti kala berseragam U19. Oleh Milla, Evan Dimas malah dipaksa mundur kebelakang sebagai Gelandang Bertahan. Justru dengan posisi barunya tersebut Evan mampu  menjadi pemutus penyerangan tim lawan dari zona kedalaman. Serta berperan menghubungkan bola dari zona belakang, tengah, hingga depan.

Paparan diatas sebenarnya merupakan sebagian kecil dari kejeniusan Luis Milla sebagai peracik strategi. Milla memang tidak mampu membawa prestasi lebih jauh. Namun ia membawa perubahan besar  bagi permainan Timnas ke arah yang modern; dari beralih menyerang ke bertahan, menghidupi lini tengah sebagai poros, bahkan membuat para defender semacam Hansamu Yama ikut berkamuflase menjadi penyerang.

Selain itu kecermatan penggantian pemain dalam lima laga timnas di Asian Games menjadi penegas lain tentang kecermatan milla. Sebab itulah sebelum tulisan ini diakhiri, tagar yang sempat viral #inMillaWeTrust atau #SaveLuisMilla menjadi perhatian PSSI dalam mengambil langkah memutus atau mempertahankan eks pelatih Spanyol U21 tersebut. Apalagi dua bulan nanti ajang bergengsi AFF 2018 akan menjadi lanjutan ekspektasi yang diemban.

Tidak ada komentar

Terima kasih atas masukan anda.