USWAH: Syekh Sahal dan Berak Ajaib

Foto: nulampung.or.id

Dikatakan oleh Kyai Djamaluddin Ahmad bahwa hampir orang orang hebat diuji Allah SWT dengan tanpa kehadiran bapak. Sebut saja seperti Nabi Isa As dan Nabi Muhammad Saw. Ini bertujuan agar hati tidak tergantung pada hal selain Allah SWT, termasuk kehadiran sosok bapak.

Termasuk pula seorang ulama sufi bernama Sahal bin Abdillah At Tustari (L 200 H - w 293 H ) yang sudah ditinggal ayahnya saat masih Kecil. Oleh ibunya Sahal kecil dititipkan pada pamannya bernama Muhammad As Shawar. Untuk nantinya akan dididik dengan ilmu ilmu agama.

Umur tiga tahun, Sahal kecil sudah dibiasakan untuk sholat malam. Begitu juga saat hendak berpakaian, oleh Muhammad As Shawar diajarkan pembiasaan mengucap kalimat tauhid dalam hati.

"Allahu Ma'i (Allah selalu bersamaku) ". Dalam waktu lain diganti kalimat " Allahu Nadhoro Illayi (Allah selalu melihatku)". Lalu setelah Istiqomah disuruh mengucapkan kesemuanya dalam hati sejumlah tujuh kali.

Dalam peristiwa lain, saat Sahal mulai tumbuh. Ia gemar shalat Jum'at dibelakang imam. Pada suatu ketika terselip keinginannya melanjutkan keistiqomahan amalannya tersebut.

Namun sayang sekali, saat itu Sahal berstatus masbuq, hingga membuatnya tak bisa buruk dibelakang imam karena terhalang janaah. Sebab itu pula Sahal rel untuk melompati para jamaah yang ada dbatisan depan, menuju puncak posisi belakang imam.

Sesampainya dengan apa yang diinginkannya, terbesit keinginan (Jawa: kebelet) Sahal untuk buang air kecil dan besar. Namun jika ia melakukannya maka pastilah ia akan tertinggal Sholat Jum'at. 

Ditengah kegundahannya menentukan pilihan. Sahal dipanggil seorang yang duduk di sampingnya.

"Sahal, engkau sedang kebelet hajat ya ?"
"Ya"

Orang tersebut pun mengkerodong Sahal dengan sorban miliknya. 

" Jika engkau sudah selesai buang hajat, dan ku panggil. Maka sambutlah dengan perkataan ya sudah", kata orang tersebut.

Sahal pun menuruti perkataan lelaki disampingnya tersebut. Bi Idznillah hakekat Sahal sudah berada di luar ruangan, di kamar mandi depan pohon kurma. Kemudian segeralah Sahal membuang hajat bahkan ia habiskan dengan mandi pula.

Saat lelaki asing tersebut memanggil, dan Sahal sudah selesai. Segeralah ia mengucapkan kata "sudah". 

Lelaki samping Sahal tersebut pun melepaskan sorban dari Sahal. Bi Idznillah Sahal sudah berada di dalam masjid.

Sehabis shalat segeralah Sahal menghampiri lelaki asing tersebut. 
"Engkau kok bisa mengetahui kalau namaku Sahal. Padahal kita belum pernah bertemu ?", Tanya Sahal.

" Man Arofa Allah, Arofa Kullu Saiun (Barangsiapa yang mengetahui Allah, akan mengetahui segala sesuatu)"

"Supaya seperti itu bagaimana ?", Tanya Sahal kembali.

" Man Atto'a Allah, Atto'a Kullu Saiun (Barangsiapa yang taat Allah, maka akan ditaati segala sesuatu). Man Khofa Allah, Khofa Kullu Saiun (Barangsiapa takut Allah, maka akan ditakuti segala sesuatu) ".

"Bagaimana bisa seperti itu ?", Tanya Sahal untuk kesekian kalinya.

"Carilah, kelak pasti kau akan menemukannya ", kata lelaki asing tersebut, yang sebenarnya merupakan waliyullah.

Seiring berjalannya waktu Sahal bin Abdullah pun mampu mencapai derajat Zuhud yang tinggi. Hanya dengan memandang, Syekh Sahal mampu merubah batu bata menjadi emas, atau merubah pasir menjadi berlian.



Sumber:

Pengajian Al Hikam KM  Moh. Djamaluddin Ahmad


Tidak ada komentar

Terima kasih atas masukan anda.