Kajian Adabul Alim wal Muta'alim: Adab Santri terhadap Guru


Jaman semakin maju, eh ternyata semakin gendeng tantangannya, semakin kemplo orangnya pula dengan aneka pemanjaan yang tiada tara. Belum lagi perihal penyerupaan eksistensi para orang bodoh dengan orang berilmu. Tak jarang banyak orang yang gemar mengaku menjadi seorang  guru Mursyid, kyai, ulama, bahkan nabi sekalipun.

Tak khayal sebagai seorang murid  tentulah tertuntut untuk mampu menseleksi seseorang yang akan dijadikan sebagai guru alias panutan. Ini pula yang menjadi penegas perlunya proses selektif bagi murid terhadap background seorang yang akan dijadikan panutan alias guru. Persis seperti penggalan mandat perkataan Hadratussyaikh KH Hasyim  Asy'ari dalam kitabnya Adabul Alim wal Muta'alim.

Di bab ketiga kitab tersebut yang isinya tentang Adab seorang santri berkaitan dengan guru. Dari jumlah dua belas adab yang harus diamalkan.

Dua poin pertama menjadi penegas pentingnya selektif seorang murid terhadap pemilihan guru. Poin pertama mengatakan bahwa seorang murid harus mampu tafakur bi istikharah kepada Allah SWT tentang sosok yang akan dijadikan panutan (guru Mursyid). Yang mana kriteria guru menurut KH Hasyim Asy'ari haruslah mempunyai perilaku kebajikan (Khusnul Khuluq) dalam setiap perangainya. Termasuk pula harus mempunyai sebuah keahlian tentang suatu hal yang hendak dipelajari oleh si murid.

Sementara poin kedua adab santri berkaitan dengan guru, dikatakan bahwa santri (murid) haruslah berijtihad (bersungguh sungguh) untuk mewujudkan munajatnya tentang pencarian guru yang hendak dijadikan panutan. Sebab munajat tanpa proses ikhtiar bagai dua sisi koin mata uang yang tak bisa dipisahkan satu sama lain.

Nah, apabila seorang murid sudah mampu mendapatkan guru panutan sesuai kriteria sebagaimana dalam kitab Adabul Alim wal Muta'alim. Maka hendaknya si murid selalu menaati segala perintah dari sang guru dan tidak keluar dari batasan pendapat argumentasi sang guru.

Hadratussyaikh KH Hasyim Asy'ari bahkan menyebut Guru dan Murid harusnya memiliki ikatan yang kuat. Seperti seorang pasien sakit dengan seorang dokter yang pandai. Sebagai seorang pasien yang sedang sakit pastilah harus selalu menuruti setiap perintah sang dokter selaku pemandu kesehatan. Oleh karena itulah bagi santri (murid) tertuntut untuk selalu memuliakan seorang guru semata mata untuk mendapatkan ridhon-Nya. Bahkan salah seorang Kyai besar pernah berpesan Apabila ada dua illat (hal) bertentangan antara perintah orang tua dan guru maka harus mendahulukan perintah guru. Sebab kontribusi orang tua adalah menafkahi fisik (jasmani) sedang guru berkaitan dengan nafkah spiritual (rohani).

Poin ketiga adab santri berkaitan dengan guru ditutup dengan kesimpulan penting. Apabila seseorang mampu memuliakan gurunya pastilah Allah SWT juga akan membalas seseorang tersebut dengan sebuah kemuliaan. Ntah berlaku terhadap dirinya sendiri, anak-anaknya, atau bahkan cucu dan cicitnya kelak. Wallahu alam.





Tidak ada komentar

Terima kasih atas masukan anda.