Hiatus Kata






Sudah lama tidak merangkai sebuah kata ketikan untuk ditampilkan di media maya. Kesibukan rutinitas sehari-hari sebagai pengajar sebuah pesantren menjadi sebuah afirmasi diri. Meski sebenarnya alasan klasik rutinitas hanyalah sebuah alasan klasik, kuno, pasaran yang kerap dijumpai oleh para khalayak se-madyapada. Tapi mau bagaimana lagi namanya kompetensi menulis pastilah haruslah selalu dipraktekan dan diasah terus kemampuannya. Jika dibiarkan terdiam tanpa sebuah untaian kata pasti lambat laun akan tumpul, mentok dengan daya nalar dan imajinasi menuangkan perasaan dengan secerah pena.


Ini soal pembiasaan membuat secarik tulisan, merangkai kata demi kata untuk membuat sebuah wacana yang integral dengan sebuah makna didalamnya. Tak peduli mau mengarah ke mana sebuah  alur tulisan. Atau bobot kualitas keilmiahan sebuah tulisan yang dirangkai, melalui rujukan teori-teori para tokoh yang telah tersebar dalam berbagai buku-buku best seller, mungkin ?.

Bukankah bagi insan awam yang terpenting dalam kompetensi penulisan adalah sebuah pembiasaan untuk menunagkan perasaan dan perspektif pola pikir dalam goresan di kertas putih ?. Ibarat seorang muda mudi yang tak kuasa menyampaikan perasaan  terhadap orang yang dikagumi lewat dialek lisan, lalu memtuskan untuk melampiaskan perasaannya dengan cara berteman dengan seutas pena.

Meski sebenarnya yang tak kalah penting dalam geliat kepenulsian adalah kemampuan mengeksplorasi sebuah wacana di luar kepala, lalu mencoba pelan-pelan di transfer ke otak untuk ditafsirkan akan seluk beluk wacana tersebut. Mungkin inilah kesulitan utama bagi para beginner yang hendak memulai terjun ke dunia merangkai kata, tak terkecuali pula bagi penulis yang sudah lama "hiatus" dalam geliat kepenulisan gegara tenggelam dalam zona nyaman.

Yah, semoga saja ini adalah awal untuk kembali memulai kemesraan dengan sebuah celoteh tulisan yang tak jelas mengarah ke mana alur wacananya. Tak jelas sumber rujukannya. Tak jelas kadar keilmiahannya. Tak jelas nilai sastra yang terkandung didalamnya. Ini hanyalah tentang kebebasan. Semua bebas berkomentar. Bebas berekspresi. Bebas memulai dari sudut pandang mana yang akan dipilih untuk membuat sebuah rangkaian kata, yang telah lama hilang dilahap diamnya wacana.


Lamongan, 31 Juli 2019



Tidak ada komentar

Terima kasih atas masukan anda.