About Me

header ads

Amalan Sunnah Puasa Tasu'a dan Asyura

Foto: Pustaka Al Muhibbin Jombang



Bulan Muharram atau disebut bulan "suro" merupakan bulan sakral bagi umat islam, disebut sakral karena bulan ini menjadi saksi awal peradaban baru Nabi Muhammad Saw di kota Madinah mengembangkan ajaran Islam rahmatal lil alamin hingga sampai besar seperti sekarang.

Adapun di bulan pertama tahun Hijriyah tersebut terdapat dua hari sakral yang sunnah untuk berpuasa, dua hari tersebut adalah 9 Muharram atau dikenal dengan hari Tasu'a dan 10 Muharram yang dikenal dengan hari Asyura.

Khusus untuk puasa Asyura (10 Muharram) sebenarnya juga merupakan hari sakral bagi umat agama Yahudi, dimana saat itu mereka diperintahkan Nabi Musa As untuk berpuasa pada hari itu, sekaligus bershodaqah pada fakir miskin sebanyak-banyaknya pada hari itu. Karena Puasa hari Asyura Allah menjanjikan akan menghapus dosa seseorang setahun penuh.

Tercatat beberapa peristiwa bersejarah dalam ajaran Islam pada hari Asyura (10 Muharram). Seperti Tobatnya Nabi Adam As kepada Allah SWT atas dosa-dosanya usai makan buah khuldi. Nabi Idris As diangkat ke tempat yang lebih tinggi ke surga. Nabi Musa As dianugerahi kitab Taurat saat berada di bukit Thursina (Sinai), serta beliau diselamatkan dari pasukan Fir`aun saat menyeberangi laut merah juga pada hari Asyura. Pada hari Asyura lain Nabi Ibrahim As diselamatkan dari api yang menyala dan berkobar ketika dihukum Raja Namrud. Terakhir berlabuhnya kapal Nabi Nuh As di bukit Zuhdi dengan selamat.

Anjuran Islam

Berkaitan dengan perintah berpuasa Tasu'a (9 Muharram) dan Asyura (10 Muharram), Imam Asy-Syafi’i dan para sahabatnya, Ahmad, Ishaq dan lainnya berkata:

"Disunnahkan berpuasa pada hari kesembilan dan kesepuluh secara keseluruhan, karena Nabi Saw. telah berpuasa pada hari kesepuluh dan berniat puasa pada hari kesembilan.”

Imam Nawawi rahimahullaah menyebutkan ada tiga hikmah disyariatkannya puasa pada hari Tasu’a: Pertama Untuk menyelisihi orang Yahudi yang hanya berpuasa pada hari kesepuluh saja. Kedua, Untuk menyambung puasa hari ‘Asyura dengan puasa di hari lainnya, sebagaimana dilarang berpuasa pada hari Jum’at saja. Ketiga, Untuk kehati-hatian dalam pelaksanaan puasa ‘Asyura, dikhawatirkan hilal berkurang sehingga terjadi kesalahan dalam menetapkan hitungan, hari kesembilan dalam penanggalan sebenarnya sudah hari kesepuluh.

Dengan kata lain sebagai umat islam hendaknya berpuasa pada Yaumul Tasu'a dan Asyura sekaligus, sebagai ittiba' (ikut) pada sunnah Rasulullah Saw. Meskipun tidak apa untuk berpuasa Tasu'a atau Asyura saja jika tidakl kuasa.  Seperti halnya puasa Hari Tarwiyah (8 Dzulhijjah) dan Hari Arofah (9 Dzulhijjah)

 

Berikut niat Puasa Tasu'a (9 Muharram)

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ التَا سُوعَاء لِلهِ تَعَالَى


Sementara niat puasa Asyura (10 Muharam)

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ ِعَا شُورَاء لِلهِ تَعَالَى



 

Posting Komentar

0 Komentar