About Me

header ads

Implikasi Pembentukan Karakter Terhadap Proses Pendidikan

 


Kopi ditangan kanan, rokok ditangan kiri, namun penulis masih bingung dengan esai yang ditugaskan oleh dosen pengampu mata kuliah Psikologi Pendidikan Islam. Begitulah dunia mahasiswa pascasarjana yang disibukkan dengan aneka geliat kegiatan ekstra yang tidak hanya berkutat pada ruang perkuliahan saja. Meski sebenarnya sebagai seorang mahasiswa pasca tentu harus mampu berfikir kritis terhadap ide-ide pembaharuan di segala bidang pendidikan.

Perlu dicatat paragraph pertama ini bukanlah sekedar curhatan atau uraian kegelisahann dari penulis selaku manusia biasa yang disibukkan dengan aneka beban tugas perkuliahan. Tetapi lebih dari itu paragraf pertama ini seolah merupakan penggambaran proses pendidikan era sekarang yang seakan-akan mati dalam pengembangan sebuah proses kemandirian. Bagaimana tak mandiri para stakeholder penyedia sistem pendidikan seolah bermain-main dalam pengembangan kurikulum pendidikan dengan aneka pembaharuan yang serba instan.

Bagaimana tidak instan, pendidikan di negeri kita dituntut untuk melangkah lebih jauh dengan berbagai gebrakan kurikulum dan tuntutan Sumber daya manusia (SDM), sedangkan pemberlakukan gebrakan kurikulum di tingkat lembaga pendidikan masih terbilang amburadul. Fenomena Para guru masih kebingungan tentang sistem penilaian AKM, hingga para peserta didik masih dituntut umtuk menguasai empat kompetensi secara total; kompetensi spiritual, sosial, pengetahuan, hingga keterampilan.

Peserta didik yang memplem

Pada akhirnya presiden jokowi dalam sambutannya selalu mengedepankan pentingnya revolusi mental melalui pengembangan pendidikan karakter. Hasilnya dalam pengembangan kurikulum pendidikan pun isu-isu tentang karakter dan etika selalu diintegrasikan dalam semua mata pelajaran. Pendidikan Agama Islam pun bermetamotrfosis menjadi mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti. Ntah apa yang melatar belakangi perubahan tersebut. Yang pasti penambahan redaksi Budi Pekerti dalam bagian dari pelajaran Pendidikan Agama menjadi sebuah penegas pentingnya pembentukan karakter dalam peserta didik. Sedangkan Pendidikan Agama sendiri merupakan sebuah kunci utama dalam melaksanakan hal tersebut.

Pendidikan karakter merupakan ekspektasi yang besar pemerintah dalam membagun mental para peserta didik yang mempunyai kemandirian dan kedewasaan karakter. Tetapi dalam praktiknya tentu pembahasan katakter menjadi sebuah tantanan tersendiri bagi lembaga pendidikan. Termasuk para pendidik dan pemerhati pendidikan. Apalagi dalam praktik lapangan beberapa pendidik seolah menjadi santapan kritikus dari kalangan orang tua terhadap hambatan dalam pengembangan anak didik mereka.

Memang benar pada era sekarang para peserta didik seolah dimanjakan dengan kemudahan zaman. Tersedianya Gadget menjadi sebuah alat bantu peserta didik yang juga menjadi racun yang mematikan daya kreatifitas mereka jika tak mampu mengimbangi dengan hal-hal yang berbau kreatifitas. Kemanjaaan tersebut juga datang dari orang tua yang selalu memposisikan anak didik sebagai “raja” dengan aneka pemanjaan, bahkan itu berlaku dalam lembaga pendidikan dimana beberapa orang tua selalu membela mati-matian anak didik mereka jika terdapat permasalahan dalam lembaga pendidikan. Tak jarang para pendidik menjadi sebuah sasaran dari omelan, cacian,dan kritik besar-besaran dari beberapa orang tua.

Kemanjaan anak didik era sekarang juga datang dari eksistensi UU Perlindungan anak yang bahkan eksistensinya masuk dalam ruang pendidikan. Jika pada zaman dulu pendidikan ala militer dengan hentakan dan nasihat keras menjadi santapan empuk para peserta didik jaman kawak, tetapi era sekarang berlaku sebaliknya. Jangankan memukul anak didik dengan “njalin” atau menghantamnya dengan “Penghapus papan”, mencubit bahkan membentak saja terkadang malah berlanjut pada tindakan pelanggaran UU Perlindungan Anak.

Lebih memprihatinkan lagi hingga kini wacana UU Perlindungan Guru masih sebatas suara-suara dan usulan yang digaungkan aktivis pendidikan pada gedung senayan. Tentu hal tersebut menjadi boomerang dalam proses pendidikan, khususunya para pendidik yang kerap menjadi sasaran utama kritik ketidak monceran pendidikan di ruang sosial.

Adapun bagi anak didik, satu sisi anak didik menjadi aman dan terlindungi dari tindakan kekerasan bahkan pelecahan dalam ruang pendidikan, karena masih terdapat opnum pendidik dan tenaga kerja kependidikan. Namun satu sisi lainnya anak didik akan merasa dimanjakan yang pada akhirnya pastilah berdampak pada perkembangan proses pendidikan yang “nyantai” jika tak dibarengi dengan sebuah tekanan untuk berbenah ke yang lebih baik dari orang tua atau para guru.

Pengalaman dan pendewasaan

 Sekilas penulis pernah dengar slentingan dari beberapa kalangan “sekolah sing penting ijazah e”, memang sepintas anggapan tersebut seolah benar, karena realitas sosial sekarang eksistensi secarik kertas dari produk pendidikan tersebut menjadi sebuah primadona pendidikan yang menjadi bekal hidup dalam mencari legalitas persyaratan kerja.

Tetapi perlu dicatat bersama bahwa tujuan pendidikan sebagaimana UU Sisdiknas bukanlah target kelulusan yang dibuktikan dengan legalitas ijazah. Namun pendidikan disana diartikan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mengembangkan potensi peserta didik. Disinilah urgensi pendidikan yang harusnya melibatkan segi proses bukan melulu soal hasil, apalagi jika hasil tersebut didapat melalui jalur instan.

Jika suatu proses dapat berjalan pada alur dan prosedur sebagaimana rel yang ditentukan, pastinya sebuah proses  akan berlanjut pada hasil yang memuaskan. Dengan demikian sebuah pengalaman menjadi sabuah keywoard yang dititik beratkan dalam ruang pendidikan. Bagaimana anak didik mendapatkan pengalaman hidup yang pada akhirnya mampu menjadi sebuah refleksi bagi pengembangan karakter yang ujung-ujungnya adalah pengembangan potensi peserta didik terhadap suatu hal yang nantinya akan dibutuhkan dalam sebuah ruang masyarakat.

Tetapi sekali lagi hal diatas merupakan ekspektasi dan impian pendidikan di lembaga pendidikan  manapun, namun praktik lapangan masih saja terdapat aneka permasalahan yang menyangkut anak didik yang terbilang kurang pendewasaan sebuah pengalaman nilai. Sebut saja semisal tingkat keaktifan peserta didik, tingkat pemahaman agama peserta didik, hingga tingkat pelanggaran norma-norma social dan kesusilaan. Sebenarnya perilaku dari peserta didik yang demikian mayoritas disebabkan karena kegagalan pendidikan keluarga menampilkan fungsinya sebagai pemberian afeksi, konseling, dan transfer of value.

Memang tak bisa ditepis bahwa kedewasaan dan pengalaman akan mempengaruhi sebuah tindakan yang ditempuh peserta didik dalam berselancar di ruang pendidikan. Simpelnya tingkat pengalaman peserta didik terhadap materi yang diajarkan pasti akan berdampak positif terhadap hasil evaluasi program pembelajaran. Namun mirisnya di era sekarang fenomena pendidikan berbasis “Nilai Angka” masih menjadi prioritas tujuan peserta didik. Tak jarang cara-cara licik untuk mendapatkan nilai rapor terbaik pun dilakukan dengan cara-cara curang yang menggunakan pendekatan instan, seperti mencari jawaban melalui browsing google. Fenomena ini menjadi penegas bahwa tujuan pendidikan di lingkungan kita masih berkutat dengan masalah nilai yang berupa angka, maupun rangking yang diidam-idamkan peserta didik.

Bagi penulis sendiri keputusan adanya KKM (kompetensi criteria miminal) dalam aneka mata pelajaran menjadi sebuah kegelisahan tersendiri dalam memberikan penilaian objektif terhadap pengembangan perilaku peserta didik dalam 4 kompetensi. Satu sisi memang berdampak positif sebagai tuntutan pendidikan harus melampai target yang di bingkai dalam bentuk KKM. Tetapi realita yang sebenarya terjadi berkebalikan, jangankan hasil belajarnya mencapai KKM, nyerempet KKM saja menjadi sebuah hal langkah dalam sebuah penilaian semester para peserta didik. Ini membuktikan bahwa pengalaman pembelajaran peserta didik terhadap sebuah materi terbilang minim, namun adanya KKM memaksa pendidik harus selalu melakukan aneka cara untuk mengatrol nilai peserta didik yang terbilang dibawah KKM. [ ]

 Oleh; Rizal nanda Maghfiroh

(Disusun sebagai tugas mata kuliah Pemikiran Pendidikan Islam Pascasarjana UNISLA)

 

 

 

Posting Komentar

0 Komentar