About Me

header ads

Kunci Madrasah Berdedikasi Tinggi

 


Ditengah hiruk pikuk kesibukan pekerjaan di lembaga pendidikan yang pribadi emban. Apalagi akhir tahun geliat penilaian akhir semester (PAS) selalu menjadi sebuah pekerjaan rumah bagi guru-guru di sekolahan. Belum lagi perihal pembagian rapot pada para wali murid sebagai wujud pertanggung jawaban hasil belajar anak didiknya, bak seorang malaikat Rokib Atid yang selalu disibukkan dengan catatan amalnya. Ntah itu amal seorang hamba yang benar-benar mengabdikan diri bagi Ilahi, atau justru amal seorang hamba yang hobinya “Nyeliput” sesuka diri dari bangku perkuliahan semasa di dunia.

Komunikasi yang terpenting

Dalam dunia persekolahan  istilah “Nyeliput” kerap kali dinisbatkan dengan tindakan peserta didik yang sesuka diri tak mau diatur oleh aturan sekolah. Ntah itu mereka meloncat pagar sekolah untuk mencari sensasi di warung kopi, atau bersembunyi di pojok sekolah untuk sekedar meyedot sebatang rokok. Umumnya ketika ditanya diantara mengapa mereka “Nyeliput”, justru argumen Jamkos (jam kosong) pelajaran menjadi alasan terdepan yang mereka kemukakan.

Disini bukan masalah benar tidaknya alasan yang dikemukakan para pelajar yang “nyeliput”, tetapi yang jelas adanya pelajar yang “nyeliput” sedikit banyak tentu ada sebuah stimulus yang pada akhirnya memancing respon mereka untuk tidak patuh pada aturan lembaga. Entah datang dari para pendidik yang kurang “Ikhlas” atau malah kurang “Totalitas” dalam meyampaikan materi di kelas, akhibatnya ketidak monceran komunikasi menjadikan retaknya proses pembelajaran.

Istilah kurang ikhlas dan kurang totalitas diatas, bisa dinisbatkan pada pendidik yang kurang mengerti tanggung jawabnya dikelas. Bagaimana mungkin seorang guru akan “digugu dan ditiru” jika dirinya sendiri malah kerap “nyeliput” dari tanggungjawab. Baik segi kuantitas dalam hal ini kehadiran sebagai leader dalam kegiatan tatap muka belajar mengajar dikelas, atau dalam segi kualitas metode dan penguasaan materi yang disampaikan pada peserta didik.

Meski demkian stimulus juga bisa datang dari masalah internal keluarga yang berdampak pada psikis peserta didik. Hingga akhirnya permasalahan tersebut diseret-seret dalam lingkungan sekolah si peserta didik. Akhibatnya jelas si anak didik pasti akan mengalami degradasi dalam dunia pendidikannya, baik dari segi etika dan moral atau segi akademis yang kerap dilihat dari itung-itungan nilai berbasis angka.

Permasalahan diatas salah satu kunci penyelesaiannya adalah “komunikasi” intensif antara pihak sekolah dengan pihak luar sekolah yang berkenaan dengan peserta didik, lebih-lebih orang tua dan wali murid peserta didik yang lebih banyak menghabiskan waktu bersama anak didik. Bukan malah mengkambing-hitamkan catatan negatif anak didik tanpa mengetahui alasan dan latar belakang sesunggungnya tentang stimulus dan respon dari anak didik terkait masalah. Lebih parah lagi mengeluarkan langsung dari sekolah tanpa mengorek info secara jelas dan melibatkan mediasi antara guru, murid, dan orang tua.

Tentang anak didik yang bermasalah penulis mendapat sebuah filosofi menarik dari bapak kepala sekolah tempat penulis singgah. Kala itu sekolah melakukan rapat kenaikan kelas dan pengeluaran siswa yang dianggap indipliner. Saat itu muncul tertekap beberapa nama-nama beserta tingkat prosesntase ketidakhadirannya. Dalam sambutannya beliau mengatakan, “Anak didik bermasalah tersebut seperti ikan yang menyangkut dijaring seorang nelayan. Jika ikan tidak ada yang memegang, memungutnya, lalu diolah dengan niat untuk menjadikannya manfa’at. Niscaya ikan tersebut akan semakin busuk dan hilang nilai kemanfaatannya kelak ”

Kemudiann bukan menjadi rahasia lagi tentang kedilemaan bagi para guru di sekolah manapun, terebih guru pendidikan agama islam. Yang mana secara profesi melalui UU No 20 Tahun 2003 tentang SISDIKNAS para guru di tuntut untuk mengembangkan potensi anak didik dalam hal kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan anak didik dalam bermasyarakat berbangsa dan bernegara. Tanggung jawab yang begitu banyak sebagaimana diatas tak berbanding dengan Jam tatap muka langsung para guru dengan anak didiknya. Belum lagi para guru harus mampu membagi waktu antara fokus menyampaikan matreri di kelas dengan urusan data-data admistrasi pendidikan yang kerap kali menjadi santapan wajib bagi guru jika ingin dikatakan  professional.

Dengan demikian aneka permasalahan yang menggurita sebagaimana diatas, hanya satu kunci yang dapat menyelesaikannya minimal meredam, dalam hal ini adalah proses komunikasi yang baik. Perlu dicatat sebuah komunikasi yang baik tidak hanya sekedar mengintruksikan sebuah mandat, tetapi juga harus ada sebuah unsur motivasi didalamnya sebagai sebuah stimulus. Bukan malah memberikan ancaman, beban, dan tanggungjawab yang besar bagi anak didik yang mempunyai sebuah catatan negatif. Namun ketegasan dan idealis sebuah lembaga juga sekikit banyak harus tetap dijaga, tanpa menghilangkan nilai humanisme dalam sebuah proses pendidikan.

Kejujuran dalam Berproses

Diakui atau tidak bahwa pendidikan di Indonesia masih terjebak dalam paradigma berbasis “nilai”, tapi nilai disini bukan dilihat dari baik buruk tentang sebuah hal. Melainkan nilai hanya diartikan dalam rana kontekstual alias diterjemahkan dalam angka-angka nominal yang dituangkan dalam rapot. Dampaknya anggapan nilai tinggi menjadi primadona dan nilai jelek menjadi kasta bawah masih menghiasi bangku pendididikan. Anak yang rajin diberikan nilai nominal tinggi, dan yang tidak rajin diberikan nilai nominal rendah, tanpa memperhatikan sudut pandang karakteristik siswa, itulah budaya yang selama ini melekat pada dunia pendidikan  di Indonesia.

Disini penulis tidak bermaksud mengkritisi anggapan tentang pemberian nilai tinggi dan nilai rendah, karena itu merupakan batas target dan kriteria minimal penilaian. Hanya saja yang penulis sayangkan adalah budaya negatif dari proses mencapai target tersebut. Anak didik kerap kali hanya didoktrin tentang bagaimana mencapai target nilai yang dipatok tanpa diajarkan cara menikmati proses pembelajaran. Akhibatnya budaya mencontek selama pelaksanaan ujian pun menjadi budaya yang terwariskan dari generasi ke generasi. Belum lagi menjamurnya informasi di database google terkadang disikapi negatif oleh peserta didik dengan menjadikannya sebagai media contekan secara diam-diam.

Sebenarnya mudah bagi pendidik untuk mengecek apakah anak didik mencontek sama persis dengan info dari konten semacam qureta. Tinggal buka google lalu beri tanda petik (“) diawal dan diakhir tulisan kutipan jawaban dari anak didik. Hanya saja beberapa pendidik masih kurang memperhatikan hal tersebut, jawaban yang banyak diberikan nilai tinggi, dan jawaban yang sederhana diberikan nilai rendah, Tanpa mempertimbangkan faktor kejujuran dalam mengerjakan sebuah soal ujian penilaian sekolah. Lebih parah lagi penilaian akhir semester hanya dilihat berdasarkan nilai ujian akhir semester saja, tanpa memperhatikan indikator penilaian lain, seperti; keaktifan dikelas, buku catatan, atau seberapa tanggap anak didik dalam menerima respon dalam kegiatan pembelajaran.

Belum lagi masalah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang kerap dianggap sebagai target lembaga pendidikan, ini dikarenakan semakin tinggi daya serap dan akumulasi nilai rapot sekolah maka akan mempengaruhi grid sekolah di mata luar. Akhibatnya para guru tertuntut untuk melakukan pengkatrolan nilai besar-besaran bagi anak didik yang nilai ujiannya rendah, lebih-lebih anak didik yang tergolong mempunyai kecerdasan intelektual dan daya serap materi yang rendah. Bahkan tak jarang guru yang langsung memberikan nilai anak didik karegori tersebut nilai diatas KKM, dengan dalih sebuah remidi akan menghasilkan nilai yang tak jauh beda dengan nilai semula, apakah ini ketidakjujuran dalam pendidikan ?, entahlah.

 

Tikung, 10 Desember 2020


Oleh: Rizal Nanda Maghfiroh 

(Dibuat dalam mata kuliah Sosiologi Pendidikan Pascasarjana UNISLA)

Posting Komentar

0 Komentar