Filsafat Lilin

Tak dipungkiri memang bahwa lilin menyandang diri sebagai komplementer cahaya bagi manusiadikala tak ada listrik. Bahkan pada zaman dulu sebelum listrik menjamur di pelosok daerah, kehadiran lilin memiliki peran laksana alat pemersatu yang mampu sebagai media “guyup” bagi semua kalangan yang merasa membutuhkan cahaya dari kegelapan malam. Bagi anak-anak zaman dulu tentulah tidak asing dengan lilin yang menjadi pemersatu idealis anak-anak untuk bersama-sama berkumpul seraya merapatkan barisan untuk belajar ditengah cahaya lilin yang mampu memberikan penerang gelapnya suasana malam.

Paparan singkat diatas merupakan sebuah prolog berkenaan dengan Epistimologi sebatang lilin yang dapat mengeluarkan cahaya dengan mengorbankan dirinya sendiri hingga habis tak tersisa. Jika dipandang dalam sudut Ontologi lilin, apa yang dilakukan lilin tentulah muncul bermacam-macam tafsiran yang memetaforakan tindakan dari lilin melalui pesan-pesan tersirat. Imam Al Ghozali dalam kitabnya “Ihya’ Ulumuddin” justru memetaforakan lilin dengan perumpamaan dari orang “Jahlun Murrokab” yang senantiasa menyebar berita dusta (kebohongan) tentang segala sesuatu yang sebenarnya tak diketahuinya serta tak diamalkannya, orang jenis ini sepertihalnya perkataan Almaghfurullah Gusdur dalam salah satu bait syairnya “Kafire dewe ndak di gatekke”. Dalam hal ini orang demikian lama kelamaan akan binasa / hancur dengan sendirinya atas kebohongan dan kedustaan yang telah disebarkannya tanpa henti, sepertihalnya sebuah lilin yang senantiasa menyebarkan cahaya namun perlahan-lahan justru ia akan lenyap akhibat tindakan yang ia lakukan.

Disisi lain lilin juga mengandung perumpamaan sebuah pengorbanandan perjuangan sejati dari seorang ‘Abdullah (hamba Allah SWT), sebagaimana maqolah Almaghfurullah Mbah Wahab Hasbullah “Tiada kata udzur dalam berjuang”. Pernyataan Mbah Wahab diatas mengisyaratkan bahwa sebuah perjuangan fi sabilillah (menuju kebaikan) harus senantiasadiresapi dalam pangkal hati yang paling dalam pada setiap individu. Dalam hal ini seperti yang diteladankan oleh para sahabat Rasulullah SAW (Khulafa Urrasyidin) yang rela berkurban baik fisik maupun harta benda untuk kepentingan umat islam rahmatal lil ‘alamin. 

Pengorbanan demi kemanfaatan sesama juga diperlihatkan pula oleh para pejuang bangsa Indonesia yang rela mengorbankan harta benda bahkan nyawa demi nilai kemanfaatan bangsa Indonesia yang tidak lain adalah kado kemerdekaan. Tentu saja tindakan yang diperlihatkan para tokoh diatas laksana lilin yang rela mengorbankan diri mereka sendiri demi terciptanya sebuah kemanfaatan yang bersama.

Dua perumpamaan diatas tidak hanya mengisyaratkan pada kita tentang eksisitensi lilin yang terkadang dimetaforakan hal berbau negatif ataupun hal positif, akan tetapi dua perumpamaan diatas mengandung makna yang lebih dalam lagi yakni tentang bahwasahnya sebuah fikiran yang mampu berkembang menjadi ideologi dari tiap individu. Dalam artian bahwa perbedaan merupakan sebuah sunatullah sebagai fitrah alami manusia. 

Perbedaan penafsiran dari aksi lilintiada lain merupakan sebuah filsafat dari seorang yang sejak lahir telah melekat sebuah nilai hak asasi manusia (HAM) termasuk nilai kebebasan berfikir tentang ciptaansang Khaliq. Meskipun demikian bukan berarti seluruh kebebasan berfikir dan berkarya tidaklah bebas secara mutlaq melainkan terdapat batasanyang mengikat, tiada lain bahwa kebebasan tersebut tidak bertentangan dengan kepentingan umum dan hak orang lain. Dengan demikian didapatlah kesimpulan bahwa lilin merupakan sebagian dari hal-hal di dunia yang mampu berfilsafat, inilah keunikan lilin yang mengajarkan pada kita tentang berbagai perbedaan-perbedaan disekitar kita yang mana menuntut kita untuk berfikir bijak dalam menanggapi sebuah ide atau gagasan tanpa menjatuhkan atau menafikan gagasan lain yang berbeda dengan keyakinan kita.

(Ditulis ketika lampu mati,  15 September 2015)

Tidak ada komentar

Terima kasih atas masukan anda.