Kajian Al Hikam: Hikmah 286 (Mata Hati dan Mata Asli)

  
 *) 
 

“ Jika mata hati memandang bahwa Allah itu tuhan dalam segala pemberian karunia-Nya, maka syari’at harus berterima kasih kepada semua mahluk”
 (Hikmah 286)
  1. Manusia mengetahui segla sesuatu melalui indra mata, sedang dalam dunia tasawuf (sufi) mata dibagi menjdi dua macam, yakni Pertama mata dhohir atau fisik yang disebut ناضرة  yang merupakan salah satu panca indra kita (mata) sebagai media pengelihatan benda-benda fisik. Kedua mata batin (metafisik) yang dalam ilmu tasawuf disebut باصرة   berkenaan dengan keilahian, mata yang mana para sufi ahli tasawuf memiliki memiliki pengelihatan jenis ini (mata hati) yang sangat besar.
  2. Kebanyakan para manusia itu tidak memiliki mata hati yang hanya memikiki mata dhahir (fisik), berbeda dengan orang yang tauhid nya tinggi yang juga memiliki pengeliatan mata hati (Bashirah) karena segala sesuatu yang diingatnya hanya Allah SWT. Adapun orang yang memiliki mata hati itu senantiasa rela atas segala sesuatu yang dikehendaki oleh Allah SWT. Di zaman sekarang banyak seseorang yang buta akan mata hatinya dikareakan nafsu duniawi, contohnya saja kasus orang yang bersikukuh memenjarahkan kakek tua hanya karena mencuru sebuah semangka saja.
  3. Adapun orang yang mempunyai mata hati itu pasti memiliki sifat خسن الخلق  (Budi pekerti yang baik), jika seseorang lebih dominan mata fisik / dhohir (Nadhiroh) daripada mata hati (basyirah) maka seseorang tersebut tidak akan mempunyai خسن الخلق . Salah satu dari sifat خسن الخلق yaitu  dalam artian jadilah orang yang pemaaf yang juga mempuyai sfat amar ma’ruf nahi mungkar. Sepertihalnya yang diteladankan oleh Rasulullah Muhammad SAW, alkisah beiau pernah meminjam seekor unta jelek seorang badui untuk digunakan berperang, pada suatu saat badui tersebut menagih unta tersebut pada beliau secara kasar. Melihat hal tersebut datanglah sayyidina Umar Bin Khottob yang hendak menghajar orang tersebut atas kekasarannya pada Nabi. Akan tetapi Nabi justru meminta pada Umar agar tidak menghajar orang badui tersebut, justru kemudian Nabi membayar uang sewanya dan memberikan pada si badui seeokor unta yang lebih bagus daripada unta pertama.
  4. Kisah Nabi sebagaimana diatas oleh Abah Kyai Djamaluddin Ahmad disimpulkan bahwa sebagus-bagusnya orang adalah yang paling bagus / baik dalaam  cara membayar hutang, adapun cara yang baik adalah; membayar sebelum jatuh temponya  dan mengembalikan harta yang dihutang dengan kembalian lebih dengan catatan tanpa ada perjajian (Riba).
  5. Apabila seseorang dianiaya oleh orang lain kemudian membalasnya dengan lebih kejam maka orang tersebut termasuk orang yang dholim. Namun jika apabila orang tersebut memiliki mata hati yang dominan maka sudah tentu orang tersebut tidak akan membalas.
  6. Dalam sebuah riwayat Nabi Muhammad SAW pernah ditanya oleh seseorang, “Apa di dunia ini yang paling baik ?”, Nabi kemudian menjawab خسن الخلق “,  kemudian orang tersebut bertanya lagi “ itu seperti yang bagaimana ?”, Nabi kemudian menjawab, “ ada tiga hal; Pertama sambunglah tali silaturrahim kepada orang yang tela terputus hubungan, Kedua Berikanlah sesuatu pada orang yang belum memberi kamu, Ketiga Maafkanlah orang yang pernah bermaksiat terhadap kamu.” Pesan Nabi diatas diilhami pula oleh seorang alim bernama Abdullah At Tusairi, ketika beliau juga ditanya terkait sesuatu yang baik itu apa, beliau menjawab “apabila kita disakiti maka kita tidak membalas justru memaafkan."
  7. Apabila kita diberi oleh seseorang suatu hal tentulah kita harus berterima kasih, namun makna terima kasih bukan sebatas mengucapkan terima kasih saja, melainkan juga mendoakannya minimal mengucap   جزا كم الله احسن الجزا.
  8. Salah satu khusnul khulq lain adalah syukur terhadap nikmat Allah SWT, untuk dapat menyuskuri nikmat Allah dapat melaksanakan 3 hal;
  • Pertama, Syukur dengan lisan, yaitu dengan mengucapkan ucapan   الحمد لله رب العلمين dengan sepenuh hati
  • Kedua, syukur dengan hati, dengan cara memupuk kecintaan pada Allah sang pemberi nikmat, bukan cinta pada dunia (nikmat) yang didapat.
  • Ketiga, Syukur dengan perbuatanm yakni dengan cara memanfaatkan nikmat yang didapat (harta / dunia) dengan cara mentashorufkan kepada hal-hal yang dicintai Allah SWT, seperti dishodaqohkan kepada yang berhak membutuhkan, dibelikan kitab untuk mengaji TPQ, dan lain sebagainya.
 *) 
Tulisan ini merupakan Resuman Pengajian Al Hikam KH. Moh. Djamaluddin Ahmad yang penulis catat ketika nyantri di pesantren beliau

Tanggal :07 Desember 2009
Tempat  : Bumi Damai Al Muhibbin Tambakberas Jombang
Oleh       : Rizal Nanda Maghfiroh










Tidak ada komentar

Terima kasih atas masukan anda.