Mereview Kembali Sejarah Pesantren Tambakberas

Mereview Kembali Sejarah Pesantren Tambakberas
Gerbang Masuk Pesantren Tambakberas Jombang
Bahrul ‘Ulum merupakan salah satu dari Pondok Pesantren yang berada di Kabupaten Jombang. Pondok Pesantren Bahrul ‘Ulum Tambakberas Jombang, terletak di Dusun Tambakberas, Desa Tambakrejo, Kecamatan Jombang, Kabupaten Jombang, Propinsi Jawa Timur, tepatnya 3 Km sebelah utara kota Jombang. Pesantren ini secara keseluruhan menempati areal tanah kurang lebih 10 Ha.

Merujuk pada dokumen pondok pesamtren Bahrul ‘Ulum, istilah Bahrul ‘Ulum sendiri mulai muncul pada tahun 1965 tatkala Almaghfurullah KH.  Wahab Hasbullah bermaksud membuat nama resmi dari pondok Tambakberas, beliau pun memanggil empat orang santri beliau untuk merumuskan usulan nama pesantren.


keempat santri tersebut antara lain; Ahmad Junaidi (Bangil), M. Masrur Dimyati (Dawar blandong, Mojokerto), Abdullah Yazid Sulaiman (Keboan, Kudu, Jombang), dan Moh. Syamsul Huda (Jombang).

Dari hasil musyawarah keempat santri tersebut melahirkan tiga nama alternatif yaitu; Bahrul ‘Ulum, Darul Hikmah, dan Mamba’ul ‘Ulum, kemudian setelah dirundingkan bersama Almaghfurullah KH. Wahab Hasbullah dipilihlah nama Bahrul ‘Ulum menjadi nama resmi pondok pesantren Tambakberas.

Kemudian setelah mendapati nama resmi pesantren dan mendapati logo pessantren melalui sayembara, Almaghfurullah KH. Wahab Hasbullah meminta salah seorang santri bernama Djamaluddin Ahmad (Pengasuh Pesantren Al Muhibbin Sekarang) asal Gondanglegi Prambon Nganjuk untuk membacakan manaqib.

Pondok Pesantren Bahrul ‘Ulum Tambakberas Jombang merupakan salah satu pondok pesantren tertua dan terbesar di Jawa Timur.


Pondok Pesantren Bahrul ‘Ulum Tambakberas Jombang terus melakukan pengembangan dan perubahan seiring dengan dinamika perkembangan dan tuntutan global, dengan tetap mempertahankan nilai-nilai luhur kepesantrenan, berpegang pada prinsip al-muhafadhah ‘al al-qadim al-shalih wa al-akhdhu bi al-jadid al-ashlah dengan di bawah sinaran prinsip Aqidah Ahlussunnah Wal-Jama’ah ala NU.

Bahkan pondok pesantren Bahrul ‘Ulum sendiri terpilih menjadi salah satu tuan rumah Muktamar Nahdlatul ‘Ulama pada 1-5 Agustus 2015 bersama tiga pondok besar lainnya meliputi; Pesantren Mamba’ul Ma’rif Denanyar, Pesantren Tebuireng, dan Pesantren Darul ‘Ulum Rejoso Peterongan.

Secara struktural pondok pesantren Bahrul ‘Ulum Tambakberas Jombang berada di bawah naungan Yayasan Pondok Pesantren Bahrul ‘Ulum (YPPBU).

Yayasan ini berdiri sejak tahun 1966 melalui Akte Notaris nomor 03 tanggal 06 September 1966 dihadapan notaris Soembono Tjiptowidjojo dahulu wakil notaris di Mojokerto. 

Adapun Yayasan Pondok Pesantren Bahrul ‘Ulum (YPPBU) sendiri dibawah pengawasan Majlis Pengasuh Pondok Pesantren Bahrul ‘Ulum yang dipilih berdasarkan musyawarah keluarga pondok pesantren Bahrul’Ulum.

Secara historis Pondok Pesantren Bahrul ‘Ulum Tambakberas yang diresmikan namanya oleh Almaghfurullah KH. Abdul Wahab Hasbullah merupakan generasi ketiga dari perekembangan pondok pesantren terdahlu yang menjadi cikal bakal dari empat pondok pesantren besar di Kabupaten Jombang.

Generasi pertama adalah Pondok Selawe (1825-1860) yang digagas oleh Almaghfurullah KH. Abdus salam (Mbah Syaichah) setelah terjadinya Perang Diponegoro.

Konon disebut pondok selawe karena hanya menerima 25 orang santri, selain itu pondok tersebut juga dikenal pula dengan sebutan “Pondok Telu / Tiga” karena jumlah kamar yang disedikan untuk para santri hanya 3 buah ruangan.

Adapun ilmu yang diajarkan Mbah Syaichah sendiri adalah pengobatan dan kanuragan disamping ajaran syari’at Islam. Lokasi pondok tersebut sekarang telah menjadi makam keluarga Bani Chasbullah disamping makam Almaghfurullah Mbah Syaichah sendiri termasuk makam Almagfurullah KH. Wahab Hasbullah (Pendiri dan Penggerak Nahdlatul ‘Ulama) dan Almaghfurullah KH. Wahib Wahab (Menteri Agama Republik Indonesia tahun 1959-1963).

Kemudian Generasi Kedua adalah Pondok Gedang (1860-1910) yang didirikan oleh Almaghfurullah KH. Ustman, santri dari Mbah Syaichah yang juga merupakan menantu pertama dari beliau.

Oleh Kiai Ustman sepeninggal Mbah Syaichah Pondok Selawe diboyong 100 m kearah selatan menuju Dusun Gedang. Adapun Kiai Ustman sendiri merupakan kiai tasawuf yang juga merupakan salah satu tokoh musrsyid Thoriqoh Naqshabandiyyah pada zamannya.

Oleh karena itulah Pondok Gedang dikenal pula dengan sebutan pondok tasawuf karena kentalnya nuansa ilmu tasawuf yang diajarkan. Di dekat pondok tersebut didirikan pula sebuah masjid bernama “Masjid Gedang” yang merupakan salah satu masjid tertua di Jombang.

Kemudian dari Pondok Gedang tersebut berdiri pula Generasi Ketiga dalam hal ini Pondok Tambakberas yang didirikan oleh Almaghfurullah Kiai Said, beliau sendiri merupakan adik ipar dari Kiai Utsman.

Lokasi pondok baru tersebut terletak + 100 m ke arah barat dari lokasi Pondok Gedang. Tujuan pendirian pondok tersebut yaitu agar dapat diajarkan spesifikasi keilmuan secara maksimal.

Dimana Pondok Gedang yang mengajarkan ilmu tasawuf berbanding terbalik dengan Pondok Tambakberas yang memfokuskan tentang ilmu syari’at.

Sepeninggal kedua tokoh sentral dari kedua pondok, Kiai Utsman dengan Pondok Gedang dan Kiai Said dengan Pondok Tambakberas, perjuangan dilanjutkan dengan putra-putri beliau dimana Pondok Tambakberas dipimpin oleh Kiai Hasbullah.

Sementara Pondok Gedang diboyong oleh Kiai Asy’ari (Menantu Kiai Ustman) menuju lokasi baru yakni Desa Keras yang terletak +  18 km dari lokasi Pondok Gedang.

Lokasi inilah yang merupakan cikal bakal berdirinya Pondok Pesantren Tebu Ireng yang didirikan oleh Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari, yang juga salah satu putrera dari Kiai Asy’ari.

Tidak ada komentar

Terima kasih atas masukan anda.