Konsep Empat Unsur Pohon

Konsep Empat Unsur Pohon
Empat poin dalam gambar pohon sebagaimana tersebut merupakan sebuah elemen yang saling berkaitan alias saling terikat satu sama lain. Pertama; Aqidah, yang mana aqidah sendiri merupakan sebuah wujud kongkret sebuah keimanan tentang ajaran suatu agama termasuk agama Islam sendiri yang ditekankan dalam 6 rukun iman, Alhasil wajar kalau unsur aqidah berada di bawah dengan bentuk akar yang tiada lain akar merupakan sebuah pondasi awal sebuah bangunan (pohon). Kuat, tegak, kokoh, atau kerennya sebuah pohon itu faktor utama ditentukan oleh seberapa kuat sebuah akar (Baca: Aqidah / Iman) untuk menopang batang pohon dari berbagai terpaan tantangan dari luar yang tak henti untuk menerjang. 

Kedua; Ibadah Asas, dimetaforakan dengan batang pohon yang berfungsi untuk menopang ranting dan cabang-cabang diatasnya, dalam artian bahwa ibadah asas merupakan sebuah hal yang urgen untuk menopang sendi-sendi kehidupan umat manusia yang tiada lain adalah 5 rukun islam sebagai ibadah fardhiyyah. Tegaknya sebuah batang pohon ditentukan oleh kuatnya tancapan sebuah akar, oleh karena itulah tegaknya ibadah asas (fardhiyyah) tergantung pula dengan seberapa besarnya Aqidah / keimanan yang menancap dalam lubuk hati seorang mukallaf. 

Ketiga; Ibadah Sunnah, dimetafoakan sebagai ranting dan cabang-cabang dari sebuah batang pohon, karena ibadah sunnah sendiri merupakan sebuah alternatif yang disyariatkan oleh Illahi Robbul ‘Alamin kepada hambanya (mukallaf) untuk berhak memilih cabang atau ranting mana yang akan dijajakinya, diluar Ibadah Asas sebagai batang penopang fardhiyyah. 

Keempat: Akhlaq, merupakan sebuah tsamrah (buah) sebagai produk atau hasil dari keberhasilan merawat sebuah tatanan pohon kehidupan, mulai dari akar (Aqidah), batang (Ibadah Asas), hingga ranting (Ibadah Sunnah) yang  berlanjut pada munculnya Buah (Akhlaq) sebagai suatu hikmah sehingga dapat dinikmati oleh semua kalangan.

Contoh Realita:
Adapun contoh kongkret dari empat tahapan tersebut dapat dilihat dari realita tindak perilaku para ulama sufi ahli thariqat, yang mana beliau-beliau memiliki kedalaman iman aqidah yang sangat dalam hingga berimbas pada kemampuan beliau untuk senantiasa menjalankan perintah Allah SWT baik dalam Ibadah Asas maupun Ibadah Sunnah. Alhasil kita lihat perilaku beliau, betapa besarnya keluhuran akhlaq yang beliau miliki hingga mampu menjadi pengayom agama, bangsa, maupun negara Indonesia.
 

Dikaitakan dengan kondisi realita masyarakat sekarang tentulah tak banyak orang yang mampu mencapai tahapan sebagaimana konsep diatas. Hal ini dikarenakan masih banyak beberapa kalangan masyarakat dilingkungan kita yang masih saja terjebak dalam dogma berkutat pada nilai Islam secara tersurat saja (Tekstual) tanpa menyelami lebih dalam menuju nilai tersirat sebagai esensi dasar nilai keluhuran agama Islam sendiri. Alhasil banyak kalangan yang kerap hanya menyuarakan tentang penegakan syari’ah secara serentak dalam ruang publik (Formalisasi Syari’ah). Mereka beranggapan bahwa penerapan syari’ah secara Kaffah merupakan tujuan utama sebuah ajaran Islam, alhasil munculnya penuntutan dan unjuk rasa beberapa kalangan yang berlanjut pada munculnya perda-perda berbasis syari’ah disegala ruang publik menunjukkan bahwa beberapa masyarakat di lingkungan kita belum memahami esensi lain ajaran agama Islam, yang mana syari’at sendiri merupakan sebuah Thariqat (jalan) menuju pencapaian sebuah hakekat dari agama islam sendiri yang tiada lain adalah mampu bermusyahadah dengaan Allah SWT hingga berujung dengan munculnya buah (Tsamrah) berupa Akhlaqul Karimah yang dapat membimbing umat manusia menuju jalan luhur kedamaian yang diridhai oleh Allah SWT, sebagaimana istilah “Islam” sendiri yang secara lughawi berarti “Kedamaian” dan “keselamatan”.

Tidak ada komentar

Terima kasih atas masukan anda.