(1) Hanoman, Kyai Semar, Dan Hastina

KYAI LURAH SEMAR (DALAM WAYANG KULIT)

Hanoman bangun dari tidur panjangnya. Si kera bijak itu memang dikaruniai umur panjang oleh Sang Hyang Ilahiyyah. Raja kera itu bingung melihat perubahan besar negeri yang dulu dikenalnya, Hastinapura. Ia tersentak gegara mendengar suara ribut sekelompok orang berbondong-bondong menerobos hutan, diantara pula ada yang berlarian sambil menggendong anak kecil mereka dan ada pula yang memikul harta benda sisa, kepanikan mereka laksana gemuruh angin yang menerpa dedaunan. Si kera putih segera naik pohon tertinggi melihat sekeliling negeri hastinapura, ia tampak terkejut melihat negeri yang dulu hijau dimasa Sri Rama ketika masih bernama Ayodya maupun saat bernama Hastina dimasa Prabu Puntadewa, kini negeri itu tlah menjadi kota mati, kota gersang akan nilai manusiawi. Rumah-rumah perdukuhan rungset laksana gara-gara bencana, beberapa pepohonan hitam efek terkena percikan si jago merah, diantaranya pula terlihat bekas percikan darah manusia dimana-mana. “Wah, ini pasti efek dari peperangan” fikir Hanoman dalam sanubari,

Merasa ada yang mengganjal dibenaknya, kera sakti itu pun melakukan “taba bhrata” memanggil sang maha guru untuk bertanya tentang apa yang terjadi. Pasca itu pula dihadapannya datang seorang resi tua berpakaian serba putih dengan sorban dipundaknya. Hanoman memanggilnya Kyai Lurah Smarsanta atau yang lebih biasa dikenal publik sebagai Kyai Semar titisan ruh Bathara Ismaya, salah satu dari empat tokoh punakawan legendaris kerap berkeliling negeri guna memberi wejangan pada para ksatria dan tetua-tetua berbagai negara.

Tutur Hanoman Si kera sakti Putih, “Wahai Maha guru ada apa dengan semua ini, apa yang terjadi dengan Hastina, dimanakah Sri Rama, Putri Sinta, Ibu Anjani, atau para ksatria Pandawa – Kurawa yang terkenal gagahnya, mengapa negeri ini justru luluh lantah, banyak mayat terdampar di sepanjang jalan raya, percikan darah manusia seakan laksana ebun yang membasahi dedaunan taman. Bukakah perdamaian tlah didapatkan oleh Hastinapura ?”.
 “ Wahai putra Dewi Anjani, engkau tampaknya tlah lama menghabiskan diri dengan kesendirian yang lama, tak sadar dengan realita yang terus menerus berputar. Ketahuilah bahwa roda masa tlah berputar cepat, generasi pelindung panji sakti negara telah tiada, Sri Rama dan istrinya Dewi Sinta bahkan para ksatria Pandawa – Kurawa semuanya telah hilang dilahap sang masa.”, Kyai Semar berwejang.

“Lantas, apa penyebab mahapralaya ini, siapa raksaksa yang mengamuk hingga sebabkan rakyat awam jelata menjadi korban, apakah Rahwana bangkit dari himpitan batunya, atau Kumbakarna terbangun dari tidurnya pula ?”

“Bukan anakku Pralaya Hastina bukan disebabkan oleh amukan jaringan raksaksa karena Bos Togog telah dipenjara di pulau segi tiga bermuda”. Papar Kyai Semar sambil menunjukkan pada Hanoman berita diringkusnya Togok melalui akun Twitternya.

Hanoman yang merasa tak faham perkataan Kyai Semar kembali bertanya, “Jika bukan Togok siapa lagi yang membuat keonaran di Hastina wahai Mahaguru ???”

“Engkau memang benar kera sakti namun gaptek informasi Hanoman. Tapi tak apalah, akan kujelaskan semua yang kuketahui. Ketahuilah bahwa hancurnya Hastina bukan karena serangan raksaksa apalagi bangkitnya Rahwana dan Kumbakarna, melainkan karena paradigma internal generasi mereka sendiri. Para tetua diantara mereka saling menebar kebencian satu sama lainnya, bahkan kerap kali menyebar berita palsu, isu kebencian, maupun pesan sara hingga sebabkan pertempuran Kurusetra kedua, bahkan ini lebih parah dari tragedi Kurusetra Pandawa vs Kurawa”.  Kalau engkau tak percaya engkau baca saja pesan whatsapp yang ada di smartphon kepunyaanku”. Kata Kyai Semar lagi pada Hanoman sambil menujukkan smartphone terbarunya.

“Aku tak tahu cara mengoperasikan benda itu guruku, aku pikir benda yang engkau pegang adalah sebuah jimat khusus seperti dimasa-masa Sri Rama. Tapi mungkin memang benar demikian karena setahuku dari laporan burung Garuda bahwa Kurusetra Pandawa – Kurawa kala memang terbilang masih beradab. Perang antar ksatria masih dilakukan dengan aksi nyata dengan norma-norma ksatria, tak membunuh rakyat jelata, tak merusak fasilitas negara, bahkan tipu daya Resi Kresna masih terbilang taraf biasa-biasa saja.

“ Jaman telah berubah muridku, engkau terlalu hidup dalam kesendirian ditengah hutan karena memang engkau adalah raja kera hutan. Hingga engkau tak tahu ada pusaka baru yang lebih canggih daripada panah sakti Indrajit atau bahkan kuku Pancanaka kepunyaanmu. Pusaka itu bernama Globalisasi, sebuah media akses global yang mampu membawa engkau berkeliling dunia dan berinteraksi dengan siapa saja. Ini tak perlu memakai indra keenam seperti ketika engkau memaggilku muridku., namun sayang muridku, sebagaian pusaka itu telah jatuh kepada pihak antagonis yang justru kerap digunakan untuk menyebarkan informasi kebencian dan cacian kepada pihak lain dengan tujuan mempropokasi demi untuk menimbulkan gejolak kebencian antar manusia hingga nihil nilai kemanusiaan. Kau lihat hastina hancur lebur seperti ini, para rakyat jelata mengusi bahkan adapula yang tewas dalam tragedi, semuanya juga karena efek penyalagunaan senjata globalisasi.”

“Lantas engkau diam saja wahai guruku dalam menyikapi pergolakan ini, ?” Tanya Hanoman dengan nada emosi.

“ Sabarr.., sulit untuk mengatakan kenyataan realita pahit ini murid kera saktiku. Ketahuilah bahwa para tetua negara hanya mendengarkan suara hati mereka sendiri yang justru kerap diseingi dengan emosi akan kekuasaan mengunggulkan diri. Mereka tak lagi percaya nilai-nilai darma kemanuisaan bahkan yang telah termuat dala kitab suci Sang Hyang Tunggal. Wejangan para resi dan punakawan sepuh sepertiku termentahkan dengan kabar-kabar Hoax yang tak jelas sumbernya, itu pun mereka telan mentah-mentah.”

“Guru, meskipun kata orang daku sakti mampu berjalan diatas lautan, mampu melepaskan diri dari kobaran api Rahwana. Namun sekali lagi daku hakekat hanya seekor kera putih yang tak lebih rendah dari derajat manusia terlepas dari derajat kesetaraan di mata Hyang Ilahiyyah. Jika engkau saja tak mampu untuk menyelesaikan permasalahan lantas apa coba yang dapat daku lakukan duhai Kyai Lurah Smarasanta guruku ?”

Mendengar pertanyaan balik dari Hanoman, Mahaguru Semar pun diam tanpa suara. Terlintas dibenaknya bahwa dalam mengatasi permasalahan Hastina membutuhkan kesatuan rasa bersama dari pihak yang merasa mempunyai idealisme kedamaian kemanusiaan yang sama guna menghimpun kekuatan untuk mempropogandakan dan mediasi antar pertikaian yang terjadi di hastina.

Pasca itu pula Kyai Semar menyahut Hanoman, “Wahai Hanoman si kera sakti putih, aku sudah mempuyai ide gambaran, bahwa konflik ini tak dapat diselesaikan kecuali dengan dukungan sesama warga yang mempunyai semangat ke-ikaan, karena itulah besok malam minggu mari rapatkan barisan di warung kopi, engkau punya Whatsapp chat pula Resi Sugriwa dan Dik Wanara sedang aku akan japri ke tiga punakawan lain; Ki Bagong, Ki Petruk, dan Ki Nala Gareng”.

Hanoman; “ ??##??#?##**?####???@”


-----
Prev: Karna Indonesia (Prolog)                        Next: Mustika Garda Panca Sirah ?



RIZAL NANDA M
Lamongan - 09 September 2017 (00.00 WIB)


Tidak ada komentar

Terima kasih atas masukan anda.