Paradigma JAS HIJAU

Foto: Bengkulutoday.com

Jika dulu kerap muncul jargon kata “Jas Merah” ala Bung Karno. Guna memberi isyarat tentang ajuran utuk tetap menjaga sejarah atau hikayat napak tilas sebuah perjuangan tempo dulu.

Maka akhir-akhir ini muncul pula istilah “Jas Hijau”, sebuah istilah yang tentu tak asing terutama dari kalangan Nahdliyyin, “Jangan Sekali-kali Hilangkan Jasa ‘Ulama.

Istilah ini awal kemunculannya pertama-kali digaungkan oleh Kiai Haji. M. Hasan Mutawakkil Alallah selaku Ketua PWNU Jawa Timur pada saat Kirab Resosuli Jihad tahun 2015 di Tugu Surabaya.

Jika dipahami secara filosofis istilah “Jas Hijau” bukan hanya sekedar akronim politis sebagai perlawanan dogma “Jas Merah” Bung Karno yang terlebih dahulu sudah menjadi paradigma nasional.

Akan tetapi jika dikorelasikan dengan paradigma historitas istilah “Jas Hijau” justru mempunyai sebuah korelasi tersendiri untuk melengkapi pemahaman “Jas Merah” Bung Karno.

Kita tahu bahwa peran para ‘Ulama tempo dulu juga tak kalah nasionalis dengan tokoh-tokoh nasionalis modernis semacam; Tiga Serangkai Kemerdekaan (Soekarno, Hatta, Syahir) atau Tiga Serangkai Indische Partij (Douwes Dekker, Tjipto Mangkusumo, Suwardi “Dewantoro”).

Peran tiga serangkai Nahdliyyin (Hardatussyaikh Hasyim Asyari, KH. Wahab Hasbullah, KH. Bisri Syansuri) juga memiliki urgensi tersendiri bagi perjuangan merebut kemerdekaan, mempertahankan kemerdekaan. Hingga membangun bangsa lintas orde melalui organisasi Nahdlatul ‘Ulama yang mampu menjadi garda depan civil society ke-Indonesiaan. 

Para ‘ulama juga memegang peran yang penting dalam pembentukan Pancasila sebagai dasar negara Indonesia. Dimana melalui sebuah sidang dalam Dokuritsu Jumbi Coosakai, atau dalam bahasa Indonesia dikenal dengan nama BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia). para ‘ulama mampu menjadi sebuah referensi dan alat pertimbangan bagi penentuan dasar negara Indonesia yang baru memproklamasikan diri sebagai bangsa yang merdeka.

Diantara ‘ulama yang menjadi wakil umat islam dalam BPUPKI antara lain; KH. Wahid Hasyim, KH. Mas Mansyur, KH. Kahar Mudzakir, serta Ki Bagus.

Sikap KH. Wahid Hasyim yang melunakkan diri terhadap argumennya yang semula berkeinginan menjadikan redaksi “Kewajiban menjalankan syariat islam bagi para pemeluknya” bagi sila pertama Pancasila. Hingga akhirnya beliau menyepakati redaksi “Ketuhanan Yang Maha Esa”  dari Ir. Soekarno merupakan bukti kongket kenegarawanan dari para ‘Ulama terdahulu.

Kemudian dalam usaha untuk mempertahankan kemerdekaan, sekali lagi para ‘ulama mampu menjadi motor penggerak bagi bangsa Indonesia, khususnya umat islam untuk mempertahankan tanah air.

Resolusi Jihad dari Nahdlatul ‘Ulama pada 22 Oktober 1945 merupakan salah satu bukti kongket bahwa para ‘ulama berkontribusi besar bagi bangsa Indonesia. Dimana melalui resolusi yang ditandatangani oleh Hadratus Syeikh KH. Hasyim Asy’ari dan digalakkan oleh para ‘kiai dan santri  mampu menjadi pemancik pertempuran 10 November 1945 di Surabaya. Dalam rangka mempertahankan Indonesia, khususnya Surabaya dari sekutu dalam hal ini  NICA.

Bukti lain yang semakin memperlihatkan kebangsaan dari para ‘ulama. Tampak pada beberapa lagu yang diciptakan sebagai alat pemompa semangat bangsa Indonesia dalam membela tanah air.

Diantara lagu perjuangan yang cukup popouler diantara para umat islam khususnya Nahdliyyin adalah lagu ciptaan dari KH. Wahab Hasbullah yang berjudul “ Yaa Lal Wathan”. Yang juga pernah diplot sebagai Mars Syubbanul Wathon yang merupakan perkumpulan pemuda semi formal bentukan beliau.

Lagu yang kini berkombinasi bahasa Arab-Indonesia tersebut dibuat oleh KH. Wahab Hasbullah pada tahun 1934. Tujuannya sebagai alat untuk memompa semangat bangsa Indonesia. khususnya umat islam untuk mempunyai rasa cinta tanah air.

sehingga diharapkan akan lahir beberapa sosok baru yang mempuyai nilai kebangsaan yang kental guna membawa Indonesia terbang menuju langit yang bebas.

Pada akhirnya harapan tersebut tidak bertepuk sebelah tangan seiring muncul beberapa tokoh nasionalis baru. Diantaranya adalah sang proklamator Ir.Soekarno yang juga merupakan salah satu murid dari KH. Wahab Hasbullah sendiri.

Belum lagi putra belau, Kiai Wahib Wahab yang merupakan mantan menteri agama dua periode era Bung Karno. Sekaligus salah satu tokoh garda depan pasukan Hizbullah “ala santri” dalam rangka merebut kemerdekaan.

Selain itu masih banyak para ‘ulama lain yang tak kalah besar jasanya bagi Indonesia yang tak dapat disampaikan satu persatu, karena memang begitu banyak dan besar jasa-jasa dari para ‘Ulama itu sendiri.

Nah, uraian panjang diatas dapatlah ditarik simpulan bahwa “Jas Hijau” merupakan sebuah rangkaian rangkap dari “Jas Merah” Bung Karno yang tak dapat dipisahkan satu sama lainnya. Karena memang para ‘ulama beserta para santrinya memiliki kontribusi besar terhadap perkembangan negara Indonesia.

Mulai dari zaman pergerakan kerajaan “lawas”, konolialisme bangsa barat, kebangkitan pergerakan, menjelang kemerdekaan, mempertahankan kemerdekaan, hingga pembangunan berkelanjutan tiga orde bangsa.

Oleh karenanya pemahaman perjuangan para tokoh kala serta ‘ulama di masa lama haruslah dibingkai rapi, dalam palung hati yang harus terus disirami motivasi tuk lanjutkan pengorbanan perjuangan yang penuh darah dan nyawa penghabisan, demi kelestarian dan keberlangsungan kenegaraan berbingkai ukuwah kegamaan. 



Rizal Nanda Maghfiroh

Tidak ada komentar

Terima kasih atas masukan anda.