Indonesia Memang Gila !!!


Indonesia Memang Gila !!!

Indonesia memanglah gila, bahkan gilanya sangat sempurna !!. Terdiri dari ribuan pulau yang membentang ditengah horizon katulistiwa dengan beraneka hayati yang berbeda-beda paradigma adat budaya. Belum lagi berbagai keyakinan dan agama yang multi pula semakin mengacam apabila membawa semangat ethnosentrisme dan primordialiseme dalam praktiknya. Tapi anehnya kesemua perbedaan yang begitu banyaknya mampu disatukan dengan sebuah ikatan tentang satu semangat kebangsaan dalam status bhineka tunggal ika. Bukankah ini sebuah anugerah Ilahiyyah yang begitu besarnya ?.  

Indonesia memang gila. Berstatus sebagai negeri bekas jajahan marathon (Portugis, Spanyol, Belanda, Inggris, dan Nippon) namun bangsa ini tidak patah arang berjuang mengembangkan keeksistensian ditengah geliat penjajaan hingga kemerdekaaan. Mulai dari pemberontakan pribumi membebaskan diri di masa akhir kerajaan nusantara semacam; Kerajaan Demak (Raden Patah), Kerajaan Mataram (Sultan Agung), Kerajaan Banten (Sultan Ageng), Kerajaan Cirebon (Raden Syarif Hidayatullah), Kerajaan Pajang (Joko Tingkir), Kerajaan Aceh (Sultan Iskandar Muda), Kerajaan Makassar (Sultan Hasanuddin), Kerajaan Banjar (Pangeran Antasari), hingga kerajaan Ternate (Sultan Babullah). Atau bahkan perjuangan pribumi secara mandiri semacam; Pangeran Diponegoro, Cut Nyak Dien, Cut Nyak Meutia,  Captain Patimura, Kartini, dan masih banyak lagi lainnya yang tak mungkin disebut satu-persatu akan asmanya.

Indonesia memang gila !!. Ditengah berbagai kekalahan telak tak mengendorkan perjuangan luar biasa di jaman kolonial dengan berbagai wadah pergerakan semacam; Budi Utomo, Tri koro Darmo, Indisce Partij, Nahdlatul ‘Ulama, Muhammadiyyah,  hingga Jong-Jong di berbagai penjuru nusantara. Bahkan estafet perjuangan juga berlanjut semasa Dai Nippon dengan berbagai badan baru yang secara cerdas digunakan sebagai membangun peradaban semacam; Pusat Tenaga Rakyat (PUTERA), Pembela Tanah Air (PETA), Keibodan dan Seinendan, hingga terakhir Docutitsu Junbi Coosakai (BPUPKI) dan Docutitsu Junbi Inkai (PPKI) yang secara luar biasa mampu diperalat sebagai media untuk memproklamirkan diri sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat secara sempurna. Belum lagi usaha mempertahankan Kemerdekaan dari serangan eksternal (Semacam peristiwa Bandung Lautan Api, dan Perlawanan November Surabaya), atau bahkan internal yang berusaha mempolitikisasi diri dengan wadah pribumi semacam; DI/TII, PERSMESTA, RMS, hingga OPM di Irian Jaya.

Indonesia memang gila !!. Bayangkan dengan usia sembilan tahun bahkan menjadi Penggagas Dasasila Bandung melalui Konfrensi Asia Afrika hingga mampu menjadi poros tengah dua blok besar Soviet dan Alied melalui sebuah gerakan Non Blok yang diprakarsai oleh Bung Karna. Tak lupa juga saat berusia 22 tahun usianya dimana negeri Pertiwi mampu andil pemrakarsa organisasi ASEAN dengan diwakili wakil presiden RI ketiga Adam Malik bersama empat negara sahabat lainnya (Thailand (Thanad Khoman), Malasyia (Tun Abdur Razaq), Filipina (Narcisco Ramos), Singapura (S. Rajaratnam) ).Belum lagi status rekor yang belum terpecahkan oleh negara lain yakni sebagai satu-satunya negara yang pernah menentang kebijakan PBB dengan tindakan nyata menyatakan diri keluar dari persekutuan, bagaimana apa masih meragukan kemboisan  Indonesia Raya ?.

Indonesia memang gila !!. Senantaisa diterpa dinamika mulai berbagai goncangan praktik KKN semasa rezim Orde Baru (ORBA), hingga pro-kontra “Perang Baratayuda Nusantara Berdarah” dengan para penggiat Partai Komunis Indonesia, yang pada akhirnya berlanjut dengan politikasi Pancasila dengan penataran wajib P4 yang sarat akan anggapan kedok memperlama rezim  negara, atau bahkan pecahnya Timor Timor dari Pertiwi sebagai negara yang berdaulat sendiri. Toh kesemua masalah pada orde baru tak merubah status Indonesia sebagai negara yang mati, efek dipermak oleh para pemangku kuasa orde baru hingga runtuhnya tembok reformasi dekade akhir sembilan puluhan. Bukankah “super” gila sekali negeri Indonesia. ?

Indonesia memang gila !!. Datangnya orde reformasi dengan keterbukaan disegala ruang opini gegara demokrasi yang justru kadang dimanfaatkan sebagai benteng perlindungan diri akan politikisasi. Hingga berlanjut pada rana virtualisasi demokrasi melalui peradaban yang terbangun efek globalisasi yang kerap dipenuhi informasi instan penuh hoax, kedustaan tanpa rujukan, atau bahkan atribut cacian dan hinaan untuk memecah kasta-kasta. Bahkan terkini muncul pro-kontra penerbitan UU ORMAS Tahun 2017 berisikan fokus pembubaran organisasi yang bertentangan dengan Pancasila, golongan pro mengafirmasi demi tereaisasinya pengamanan Pancasila sebagai ideologi bangsa yang Bhineka, sedang golongan kontra menganggap peraturan baru hanya sebagai kedok pemerintah untuk memperlanggengkan rezim dari ancaman organisasi yang kritis terhadap wacana bangsa. Toh, perkembangan dinamika negeri ini mulai jaman penjajahan bangsa imporan, hingga jaman keterbukaan demokrasi yang penuh carut marut opini dari para penikmat politikasasi, nyatanya sampai hari ini kesemuanya tak menjadi sebuah faktor primer yang menyebabkan munculnya damage yang merusak bhineka Indonesia. Toh, merah putih masih berkibar diseluruh penjuru negeri dari Sabang sampai Merauke, terlepas dari sisa puing politikasi yang merupakan hukum alamiyah manusia. Toh, Indonesia masih menjadi negeri yang berdaulad akan hak asasi sebagai anugerah Illahi. Toh, Pancasila masih menjadi pedoman utama Negara Kesaatuan Republik Indonesia meski goncangan politikasi tetap masih menghantui pribumi. Bagaimana, masih meragukan kegilaan Ibu Pertiwi sebagai karunia tertinggi Sang Hyang Ilahiyyah tertunggal  ?, 

---
Rizal Nanda M
Ngimbang Lamongan  - 03 November 2017 

Tidak ada komentar

Terima kasih atas masukan anda.