Pesantren dan Sumpah Pemuda

Upacara di Pesantren Bumi Damai Al Muhibbin

Kali ini lagi-lagi terdampar di salah satu warung kopi di sudut pusat kota Lamongan. Seperti biasa tatkala tiba diwarung kopi pribadi tentu berharap menemukan sebuah koran langganan yang disediakan oleh pihak pengelola warung kopi guna menambah retorika dialeka yang menjadi trending topic perbincangan di media jurnalis cetak. Wajarlah karena memang sulit untuk menemukan sebuah koran terubdate saat pribadi “kembali ke khittah”, kembali ke rumah pedalaman pedesaan yang memang minim informasi berita sebuah koran. Mungkin hanya bisa menemukan bekas koran bungkus sayuran yang usang akan pemberitaan. 

Kembali ke perbincangan awal, pasca menghabiskan bacaan koran Jawapos yang tergeletak diatas meja kedai warung kopi. Pribadi menemukan koran Jawa Pos lawas tergeletak disudut ruangan, bahkan edisi keluarnya bulan lalu tertanggal 28 oktober. Melihat tanggal keluaran per- 28 oktober sejenak terlintas dibenak untuk segera mencari rubik opini, wajar lah tanggal 28 oktober merupakan hari sumpah pemuda yang diplot sebagai salah satu hari berpengaruh dalam perkembangan bangsa Indonesia ke depan.

Ternyata tepat sekali dugaan semula, dalam rubik opini ternyata dijumpai sebuah opini lepas dari seorang tokoh bernama Muhammad Yuanda Zara (pakar sejarawan Phd di Universitas Van Amsterdam Belanda). Dalam dialek opini terkait sumpah pemuda yang disampaikan ia mengambil sebuah judul “Jerat Kenyamanan Kids Zaman Now”, dimana fokus perbincangan adalah kritikisasi generasi sekarang yang serba cerewet dalam media sosial. Istilah cerewet disini oleh Yuanda Zara diartikan bahwa generasi tersebut sangat cerewet dalam mengkritisi berbagai persoalan bangsa, namun alih-alih memberi kontribusi solusi dan gagasan membangun justru ide-ide mereka dangkal lebih bernuansa bullying tanpa retorika.

Selain tentang kritikisasi generasi “now”, Yuanda juga memaparkan berbagai dialeka tentang berbagai tokoh pemuda “Super” di zaman dulu hingga memprakarsai sebuah forum Kongres Pemuda hingga lahirkan gagasan pemersatu bernama “Sumpah Pemuda”. Diantara tokoh yang dipaparkan dalam opininya seperi Sunario (Lulusan Universitas Leiden) yang kala itu berperan sebagai penasehat Sumpah Pemuda, tokoh legendaris Moh Yamin yang merangkap sebagai wakil Jong Sumatera Bond sebagai organsiasi pemuda di wilayah Sumatera, Kasiman Singodimerjo aktivis Muhammadiyyah sekaligus murid dari KH. Ahmad Dahlan.

Sebentar sebentar, terasa asing ada yang mengganjal di benak. Nah, dari opini yang dipaparkan oleh Yuanda dalam rubik Jawa pos tersebut, ternyata sekali lagi para pemuda dari kalangan islam tradisionalis yang kerap diafiliasikan kepada Pesantren tak disinggung sama sekali. Meskipun sebenarnya fokus perbincangan dalam opini Yuanda bukanlah membincang tentang siapa saja tokoh-tokoh pemuda legendaris zaman kala hingga membangun sebuah chemistry sumpah pemuda.

Bukan bermaksud mengkritisi opini yang disampaikan, toh pribadi sendiri sangat sepakat argumentasi dalam dialeka yang telah disampaikan. Bahwasahnya generasi muda-mudi “now” memang banyak yang berkicau sana-sini dalam geliat media virtual bahkan tak jarang yang beropini tanpa rasionalisasi argumentasi sehingga pada akhirnya marak konten informasi bernuansa emosi mengesampingkan rasionalisasi secara berimbang.

Perlu dicacat bahwa opini lepas pribadi hanya sebagai pelengkap bahwa para pemuda dari kalangan islam tradisionalis (Pesantren) juga tak kalah akan kontribusi dalam membangun sebuah paradigma nasional bernama “Sumpah Pemuda”. Sehingga nantinya akan tercipta pemahaman menyeluruh bahwa sebuah kesepakatan Sumpah Pemuda merupakan sebuah “ikatan kamil” dari beragam pemuda nusantara yang berasal dari aneka ragam wadah perserikatan termasuk dalam konteks islam tradisionlalis (Pesantren). 

Memang tak bisa ditepis bahwa pergerakan tokoh Islam moderat tradisionalis (Pesantren) kala kerap terlupa dalam rekaman sejarah resmi ke-Indonesaan, sebelum akhirnya hal tersebut perlahan terevisi dalam kurun waktu sepuluh tahunan. Sebelumnya memang pembelajaran sejarah Nasional nihil dari pengenalan akan perjuangan dari kalangan pemuda dan tokoh islam tradisonalis yang berafiliasi dengan pesantren. Kala tatkala pribadi menempuh pembelajaran tingkat sekolah dasar bahkan hingga sekolah menegah atas, hampir dalam pembelajaran ilmu sejarah tak pernah menyinggung terkait hal-hal berbau islam pesantren kecuali memang dalam pembelajaran muatan lokal khusus yang diadakan oleh internal madrasah.

Masih teringat saat itu sama sekali dalam pelajaran sejarah tak ada pengenalan tentang apa itu Nahdlatul ‘Ulama, resolusi jihad, Masyumi, bahkan istilah Syubbanul Wathon yang kini popular seiring boomingnya Mars Syubbanul Wathon ciptaan Mbah Wahab sebagai lagu wajib Nasional. Padahal nyatanya perjuangan para kaum islam tradisionalis (Pesantren) tak kalah “super” dengan perjuangan pergerakan badan-badan lain yang sebelunya memang telah dilegalkan dalam sejarah ke-Indonesiaan semacam; Muhammadiyyah, Trikoro Darmo, Budi Utomo, Iniche Partij, atau para Jong-Jong di penjuru negeri. Ditetapkannya hari santri nasional pada 22 oktober kemarin sejak 2 tahun yang lalu setidaknya telah ada upaya dari stakeholder negeri untuk mengkontruks kembali sejarah perjuangan kebangsaan Indonesia yang mana sudah bukan menjadi rahasia bahwa para islam tradisionalis (Pesantren) memiliki kontribusi yang menawan dalam geliat perjuangan keindonesiaan.

Berkenaan dengan sedikit pemaparan sumpah pemuda seperti yang telah disapaikan Yuanda dalam opininya, bahwa kaum islam yang berafiliasi pada kaum pesantren juga sebenarnya memiliki kontribusi pengaruh dalam pembentukan Kongres Pemuda hingga lahirnya gagasan sumpah pemuda (1928). Memang Nahdlatul ‘Ulama sebagai organisasi sosial keagamaan baru resmi berdiri sejak dua tahun sebelum sumpah pemuda (1926) berdasarkan latarbelakang peristiwa komite Hijaz gegara tragedi Raja Saud. Namun sebenarnya sel-sel pembentuk organisasi tersebut jauh sebelumnya telah bersemi diberbagai penjuru negeri melalui geliat pergerakan para tokoh muda pesantren semacam; Wahab Hasbullah, Bisri Syansuri, Wahid Hasyim, hingga Mas Mansyur.

Para pemuda produk pesantren sepertihalnya diatas memiliki geliat aksi nyata dalam mengegerakkan perjuangan bangsa Indonesia di tengah penjajahan kolonialisme kala. Sebelum genderang kongres Pemuda ditabuh, para pemuda pesantren juga memiliki memiliki kontribusi dalam membangun chemistry semangat kesatuan disegala rana sosial. Pahlawan Nasional KH. Abdul Wahab Hasbullah tatkala berusia 26 tahun bahkan telah mendirikan Cabang Sarekat Islam di Kota Makkah ketika beliau menuntut ilmu di Makkah (1914) untuk menghimpun semangat kebangsaan para pemuda yang menuntut ilmu disana.

Hingga pada akhirnya berkembang menjadi sebuah jaringan kepemudan dalam wadah Nahdlatul Wathon (1916) yang beliau dirikan saat pulang ke Surabaya. Ada pula sebuah majlis dialeka yang ia dirikan bersama KH. Mas Mansyur bernama ‘Tasfirul Afkar” (1918) yang fokus kajiannya adalah membincang berbagai masalah kemasyarakatan dan isu-isu kebangsaan. Ada pula Nahdlatul Tujjar (1918) yang diperuntukkan untuk menghimpun para pedagang terkhusus yang berafiliasi dengan islam tradisionalis (Pesantren) hingga Syubbanul Wathon (1924) yang diidirikan empat tahun tepat sebelum Kongres Pemuda hingga lahirnya gagasan Sumpah Pemuda (1928).

Pada akhirnya adanya gerakan Jong-Jong sebagai salah satu gerakan yang diakui pihak kolonial belanda pada akhirnya membuat berbagai tokoh pesantren ikut melebur dalam geliat organisasi jong-jong tersebut, termasuk Jong Islamation Bond yang khusus menampung para pemuda islam. Nah, disinilah sebuah kontribusi dari kaum pemuda pesantren dalam ikut meramaikan geliat perjuangan membentuk jaringan kepemudaan di penjuru negeri hingga puncakknya tiada lain adalah ikrar Sumpah Pemuda yang diplot sebagai hasil dari Kongres Pemuda (1928).

 ----
Rizal Nanda Maghfiroh
Sambeng, Lamongan - 5 November 2017

Tidak ada komentar

Terima kasih atas masukan anda.