(5) Sayembara Politik Bagong


Sudah masuk tahun baru sejak kepergian Ki Petruk mencari empu yang dapat membantunya dalam menyucikan gaman welgeduwelbeh yang telah ternodai di tahun lalu. Sedang mahaguru Kyai Lurah Smarasanta (Semar) tak tahu entah kemana perginya. Kyai Smarasanta hanya meninggalkan wasiat kepada dua murid terpercayanya, Ki Bagong yang bertubuh tambun dan Ki Gareng yang gemar bersosmed. Adapun mandat wasiat tiada lain menyuruh Ki Bagong dan Ki Gareng untuk menjaga mayapada hastina dari berbagai goncangan anti kemanusiaan dan keberagaman umat.

***

Seperti biasa Ki Gareng tetap beristiqomah berdialek dengan gaman saktinya apalagi kalau bukan Tablet mandraguna yang kerap dipakainya dalam memata-matai perkembangan jagat mayapada. Pusaka sakti tersebut membuat Ki Gareng seolah menjadi “intel” dadakan yang mana dengan sekali klik-klik ia pun dapat menembus sekat-sekat kasta-kasta keduniawiaan yang terpampang di sepanjang jagat maya.

“Tahun baru kali ini bukan sekedar hajatan biasa dimana orang-orang dapat menjalankan aktivitas mereka sebagaimana mestinya. Engkau tahu bahwa di tahun baru edisi kali ini terdapat hajatan besar dimana masyarakat mayapada akan sibuk berdrama mencari simpatisan dukungan berbagai tatanan di sesama mereka ”, Papar Ki Gareng pada Bagong sambil menggeser-geser layar tabletnya.

“ Kemana engkau selama ini, engkau terlalu sibuk dengan dunia mayamu sehingga engkau lupa terhadap situasi nyata. Bukankah dari tahun lalu memang mayapada sudah berantakan tatanannya. Apa engkau tak menyadari geliat panasnya suasana tahun lalu dengan gejolak-gejolak kaum elit yang bermain politik melalui dogma politik identitas atas nama sebuah kelompok melebihi semangat ke-mayapadaan.”, Bagong mencoba membantah Gareng

“ Memanglah demikan, tapi ini lain ceritanya. Mayapada Hastina akan menjumpa sayembara politik di tahun ini. Jika ada istilah politik tentu hal pertama yang dikhawatirkan adalah penyinggungan tentang kepentingan-kepentingan diri diatas kepentingan lain demi memenangi sayembara tersebut”. Cetus Ki Gareng mencoba menjustifikasi pendapatnya.

***

Mendengar istilah sayembara politik Ki Bagong pun mulai tertarik untuk berdialek seputar temaa jaman “Now” tersebut.

“ Sayembara politik memang sulit untuk mendapati keputihan diri secara kaffah. Hawa nafsu untuk menguasai dan merajai sayembara terkadang menjadi penyebab utama terciptanya setitik noda yang lambat laun menghilangkan estetika kemanusiaan pada kesakralan sayembara.”

“Perang besar aliansi Ayodya - Kiskenda melawan negeri Alengka juga disebabkan atas perebutan kepentingan dua raja. Sri Rama Wijaya di kubu Ayodya yang berusaha mengambil haknya atas Dewi Sinta, sedang di kubu Alengka atas dasar kepentingan Rahwana sebagai pembuktian kesungguhan cintanya pada Dewi Sinta”.

“ Bukan hanya itu, perang Baratayuda atau yang juga disebut tragedi Kuruksetra antara Pandawa vis a vis Kurawa juga tiada lain adalah imbas dari ketidak puasan politik yang tak disertai usaha untuk duduk bersama, malah keduanya tetap bersikeras memegang prinsip identas masing-masing; pandawa sebagai putra raja Pandu dan kurawa sebagai kaum elit terhormat kala itu.”. Papar Ki Gareng mencoba menggurui Ki Lurah Bagong.

“ Mengapa mahaguru Smarasanta memandatkan kita agar menjaga Mayapada Hastina sepeninggal guru pergi ntah kemana. Apalagi jagat hastina kini kembali dilanda gonjang-ganjing oleh isu-isu murahan. Bahkan nama luhur mahaguru Smarasanta pun ikut terkena catut.”

" Sebagai punakawan
Apa yang harus dikata ?.
Melihat saudara bangsa
Saling bentrok idealismenya

Mengecam di mana-mana

Rendahkan satu sama lainnya
Pemaksaan kehendak mereka
Apatis kepluralan bangsa

Sebagai punakwan
Apa yang harus dibicara ?.
Tatkala penuntutan meraja lela
Beriring idealisme semata

Pro-kontra memang biasa

Tapi mengapa harus diserta
Hasutan benci pada saudara
Ketidak percaya pada negara "

“ Engkau terlalu memuitiskan diri mengilhami aneka dialeka nusantara. Sebagai punakawan kita cukup melaksanakan tugas kita sebagaimana mandat mahaguru. Tak usahlah berfkir jauh tentang politik yang terjadi di mayapada. Apalagi ikut terjun bergeliat dalam hiruk pikuk sayembara politik”. Kata Ki Gareng,

“Engkau ini bagaimana atau harus bagaimana kau ini. Kau bilang tadi bahwa tahun ini adalah tahun politik. Bagaimana nantinya jika Hastina akan dipimpin oleh kaum elit yang semakin parah dari tahun kemarin. Kemarin saja muncul hoax dimana-mana  bahkan mencatut nama mahaguru Semar. Sebagaimana engkau bergeliat di jagat maya, mesktinya engkau sadar bahwa peradaban bangsa sudah terinfeksi peradaban sampah atas isu-isu murahan yang mencoba untuk memecah belah status ukhuwah.”

“ Jadi itu maksudmu Ki Bagong, apa engkau berencana mengikuti sayembara politik yang penuh carut marut itu. Jika engkau ingin ikut andil dalam panasnya pergolakan mestinya pertama yang harus engkau lakukan adalah terlebih dahulu membuat sebuah Partai sebagai media untuk mengkampanykan diri, Partai Bagong semok misalnya. Atau jika lebih suka hal instan jika engkau bisa milih alternatif kedua yaitu nimbrung dalam status keanggotaan partai kaum elit”

“ Kayaknya memang aku lebih pantas jadi ketua partai daripada harus memulai dari status anggota partai. Okelah, kayaknya partai Bagong tampan semok menawan bersahaja membela rakyat lemah tanpa sogokan pas jika dipakai sebagai nama partai”

“Tatkala daku terpilih menjadi penguasa kasta istana. Akan daku buat kebijakan mewajibkan para elit negara utuk tinggal di dalam penjara. Sedangkan rakyat kasta bawah akan ku mandatkan untuk menjadi penghuni istana”

“Idealismemu memang lebih semprul daripada Togok. Apa alasanmu mengambil kebijakan tersebut Ki Lurah Bagong?: Tanya Ki Gareng.

“Bukankah pemimpin memang mempunyai kewajiban sebagai pelayan rakyat. Jadi wajarlah jika para pemimpin kaum elit  harus mendekap di penjara agar mereka lebih fokus menunaikan kewajiban mereka sebagai seorang pemimpin dari dalam bui. Jadi mereka akan lebih fokus tanpa godaan keduniawiaan yang berarti”.

“Jan, semprol tenan dirimu, lantas mengapa rakyat-rakyat bawah engkau beri mandat untuk singgah beraktivitas di istana negara?”.

“Bukankah istana negara dibangun sebagai simbol kesejahteraan rakyat. Terutama rakyat kasta bawah yang tak tahu apa-apa kecuali sepiring nasi yang didapatkan dari hasil sawah sederhana. Jadi wajarlah jika mereka memang layak untuk menerima mandat sebagai penghuni kasta istana”.

“Lantas engkau berarti juga harus mendekap di penjara pula. Bukannya status engkau juga sebagai penguasa kasta elit negara ?’. Tanya Ki Gareng mencoba menghabisi rekan seperjuangan.

“Oh kalau itu lain ceritanya. Bukankah sudah jelas kalau selain jadi penguasa daku memanglah seorang punakawan. Wajarlah kalau daku tidak harus ada di penjara, mungkin ketika pada jam-jam dinas saja. Mana mungkin daku bisa menunaikan tugas punakawan untuk menasehati orang jika diriku kerap di balik jeruji besi. Toh penjara yang aku rencanakan kelak adalah penjara yang murni penjara. Bukan seperti persinggahan hotel bintang lima dengan fasilitas free wifi yang dapat mengakses jagat virtual hingga mampu dapatkan promo bonus plesiran ke berbagai tempat wisata”

“Di era jaman Now kan seseorang pemimpin boleh merangkap-rangkap jabatan yang diamantkan kepadanya. Ntah itu berstatus ketua partai, ketua persekutuan sepakbola, atau bahkan ketua paguyuban preman pasar yang kerap memeras rizki si pedagang”.

“Semprul sekali idealisme-mu. Engkau menganut ideologi apakah gerangan; Marxisme, lenisme, liberalism,  fasisime, atau khilafah yang pemberitaannya booming di tahun lalu”. Cetus Ki Gareng.

“Bukan idologi apa, apapun ideologinya asal mampu diikat dalam bingkai keberagaman tanpa menghilangkan esensi kemanusiaan, bukankah guru smarasanta mengajarkan tentang dogma humanity never die”

***

Ki Gareng kembali berkata sambil menyeruput kopinya.

“Jika engkau memang ingin maju mengkuti bursa sayembara politik, maka jangan lupa kelak jadikan aku wakilmu. Engkau pasti sudah mengetahui bahwa diriku sangat ahli dibidang cyber war. Nantinya pasti engkau membutuhkanku untuk melindungimu dari serangan hoak yang pasti menyerang tiada henti pada seorang penguasa. Pastilah hoak-hoak tersebut akan mampu ku saring dalam rangka memilah mana hoak yang membangun. Apalagi dalam kampanye pastilah engkau membutuhkan seorang yang handal dalam melakukan blackcampaine di jagat virtual”.

“Jika engkau jadi wakil, niscaya engkau tak akan kuat dari godaan dan tantangan yang silih berganti menerjang. Baru diangkat sebagai penanggungjawab punakawan bagi Prabu Puntadewa saja engkau sudah terbujuk rayuan goyangan putri Dewi Ning Mustikaweni, hingga menyebabkan engkau berkoalisi dengannya untuk mencuri pusaka Jamus Kalimasada milik sang prabu. Apalagi jika engkau menjadi kaum elit penghuni istana, ntah bagaimana yang akan terjadi nantinya”. Sindir Ki Lurah Bagong.

Memang tatkala Prabu Puntadewa masih menjadi penguasa mutlak Hastina, sang prabu pernah kehilangan Jamus Kalimsada yang merupakan jamus sakti apabila seseorang memilikinya niscaya orang tersebut akan menjadi seorang raja. Sebelum akihirnya mustika tersebut dicuri oleh Dewi Ning Mustikaweni dari Imantaka. Hingga kemudian beralih tangan ke Ki Petruk alias Prabu Welgeduwelbeh yang akhirnya seluruh koalisi tersebut berhasil dibongkar semua oleh Ki Bagong. Termasuk Ki Gareng yang terlibat dalam proses pencurian mustika Jamus Kalimasada.

Disisi lain Ki Lurah Gareng diam merengungi kesalahannya tempo dulu. Meskipun ia berulang kali meminta maaf pada sang Prabu Puntadewa dan sang Prabu memaafkannya, ia pun masih menyimpan rasa penyesalan yang dalam atas perbuatannya menghianati negara Hastina kala itu. Kala itu memang Dewi Ning Mustikaeni berhasil mendroktin Ki Lurah Gareng tentang sistem pemerinahan ideal versi idealisme Ning Mustikaweni. Gegara kala itu Ki Gareng memang lebih akrap bergeliat di jagat maya yang teoritis daripada jagat nyata yang penuh realitas nyata, sehingga dengan mudah Ning Mustikaweni memasukkan doktin idealismenya pada Ki Gareng.

***

Ditengah keheningan tiba-tiba meluncur sebuah anak panah dari arah depan menju arah dua punakawan tersebut. Setelah dilihat ternyata pada anak panah tersebut terikat secarik kertas surat.

“Siapa gerangan yang mengirimkan pesan pada anak panah ini. Apakah si Petruk sialan itu atau justru ini surat datang dari mahaguru Smarasanta”. Kata Ki Gareng geram kepada si pengirim.

Maka segeralah Ki Gareng membuka gulungan pesan yang terikat di anak panah tersebut. Lalu dibaca pula tulisan dialeka itu secara perlahan-lahan. Sesekali ia sambil menyeruput kopi pahitnya.

“ Undangan, bagi seluruh punakawan garis lurus diharap hadir di acara peresmian dan tasyakuran Partai Togok Menyodok dalam rangka menyongsong sayembara politik di tahun ini. Hormat kami Togok Cs”.  

Kedua punakawan tersebut pun terkejut mendengar kabar bahwa Togok yang merupakan rival mahaguru Smarasanta (Semar), satu langkah berada di depan mereka dalam rangka mempersiapkan diri menyambut sayembara politik di tahun ini.

“Guru Semar harus tahu kabar buruk ini. Ntah Togok memang sudah bebas dari penjara atau hanya eksistensiya saja yang bebas alias mampu berpolitik dari balik jeruji besi”.

“Apakah punakawan garis lurus seperti kita akan jadi penonton sayembara politik. Atau justru kita ikut andil menikmati kebusukan strategi dalam sayembara politik. Lantas harus dimana kita mencari Guru Smarasanta untuk memberitahu perihal ini. Sangat buruk jika partai Togok Menyodok memang berhasil menguasai pergolakan dalam sayembara politik”. Kata Gareng.

“Sudahah nikmati saja prosesnya. Sruput saja kopinya setelah itu tidurlah. Siapa tahu ketika bangun tidur kita akan menemukan jawaban tentang apa yang harus dilakukan  kita sebagai punakawan pada seri episode berikutnya”. Papar Ki Lurah Bagong membijakkan diri seraya memikirkan kisah apa lagi yang harus dilalui oleh “Para Punakawan”.



(Dibuat pada malam minggu pertama di Tahun 2018-- 6/01/2018)

----
Prev: Petruk Mencari Ganesha   -   Next: Pohon Beringin di Negeri Imantaka
----


Tidak ada komentar

Terima kasih atas masukan anda.