Belum Ada Judul


Malam ini tak tampak seperti biasanya, tenang, damai, sunyi. Bahkan bising nyamuk pun tak menampakkan diri. Sedang mata masih tersentak tak bisa diajak kompromi. Suara lantunan musik pelan payung teduh pun dengan santainya terdengar dari gadget pribadi. 

Semakin membuat mata tak beranjak dari zona nyaman tentang sebuah pandangan. Tatapan kosong pada sosok yang terekam dalam file pribadi. Manis, menebar pesona mengiringi heningnya malam yang kosong tanpa harapan. Angan pun mulai berbisik bahwa kehadiran kosong  karena memang malam ini semata mata hanya terpersembahkan pada sosok bidadari yang terselip dalam gadget pribadi. 

Ya, kekaguman ini luar biasa menyerang di malam yang tak bertuan. Ntah berada di level berapa gerangan bobotnya. Tapi  sudahlah berapa pun bobotnya memang terlihat sangatlah sempurna. Walaupun itu hanya berupa paras digital semu yang terpampang di depan jagat mata. 

Kata salah satu khayalan, lantas bagaimana jika suatu saat memang ekspektasi berlebih ini dapat terealisasi. Mampu memandang objek paras nyata yang pesona manis menggoda begitu luar biasa.

Mungkin saja indra mata akan langsung terpejam. Tenggelam dalam ketidak kuasaan  akan sebuah zona nyaman tingkat langit ketujuh. Tentu beserta gadis kahyangan yang paras menawannya bahkan melebihi Bidadari bernama Aina Mardhiyah. Kurang lebih seperti itulah gambaran penafsiran dari jagat pandangan. Masih fokus tertuju pada sosok gadis era peradaban digital. 

Ya Tuhan mengapa engkau ciptakan nikmat kekaguman yang luar biasa seperti ini, gumam salah satu bayang khayalan.

Meski tak mampu menafsirkan dengan untaian indikator dan pelampiasan tindakan. Toh, kekaguman ini berasa di level berbeda dengan kekaguman pada gadis kahyangan lain yang berusaha menjebol batas kemesraan, kata khayalan yang lain.

Tak tahu apa yang membuat suasana seolah menyandang hiperbola. Paras gadis kahyangan itu memanglah tampak biasa. Tapi ntah bagaimana dan mengapa jagat mata masih tak beranjak melototi foto digital hasil curian.

Bahkan hingga lantunan lagu payung teduh bergota ganti berulang. Jagat mata masih tampak tenang memandang dengan tatapan kosong pada sosok tak nyata itu.

Sesekali juga penyakit ekspektasi berlebih ini kembali kambuh. Harapnya Semoga di masa mendatang sosok tak nyata tersebut perlahan menjadi mampu menjadi sebuah kenyataan. 

Hmmm, nafas datang menghela. Ekspektasi berlebih ini apa mungkin terjadi. Mungkinkah kompas takdir Ilahi mampu memberi kesempatan agar menunjuk arah pada diri.

Apalagi di realita nyata sangat jauh dari harapan yang benar dinantikan kenyataanya. Itu belum termasuk perbedaan kasta yang memang sangat timpang tak karuan.

Terselip juga sebuah permohonan dari salah satu khayalan. Ya Tuhan, jika memang ada setitik kesempatan untuk mewujudkan hal yang benar mustahil bagi insan awam. Permohonan akan metamorfosis dari secuil titik menjadi lobang hati agar dapat dimasuki tentu menjadi munajat awwalan.

Tapi jika memang realita mengalir seperti alur maju yang penuh kelogisan. Mau bagaimana lagi,  kekaguman tak bisa dilawan dengan kekaguman. Itu urusan dari kekuasaan jagat pencipta kahyangan.

Ya sudahlah, dialek  kahyangan semu ini biarlah lepas adanya. Memaksakan berpaling menutup pesonanya yang datang dari dalam gadget. Meski candu banyangan semu itu masih ingin kembali bermain bersama dalam imaji ekspektasi.

Sambil menantikan habisnya baterai gadget yang terkuras memutar lagu Payung Terduh berulang ulang. Selamat malam Untuk perempuan yang sedang dalam pelukan, dalam kenyataan khayalan.


Tidak ada komentar

Terima kasih atas masukan anda.